Opini & Cerita
·
30 Juni 2020 20:47

Dakwah Melawan Tuna Logika

Konten ini diproduksi oleh Makhsun Bustomi
Dakwah Melawan Tuna Logika (7419)
com-Ilustrasi mengetuk pintu. Foto: Shutterstock
Pintu otomatis adalah teknologi yang sudah lazim adanya. Tetapi, ada yang khusus buat saya sejak membaca buku Wahid Hasyim untuk Republik dari Tebu Ireng. Hampir setiap hendak masuk ke mall, hotel, kantor atau tempat lainnya, melihat pintu bergeser dengan sendirinya, saya teringat kutipan kata kyai muda dan pernah menjadi Menteri Agama era Presiden Soekarno tersebut.
ADVERTISEMENT
Katanya, jika ada orang yang membuka pintu tanpa kita menyentuhnya. Jangan langsung menyebut itu mistik tanpa memikirkannya. Saya membayangkan, saat itu tahun 1952. Para hadirin yang mendengar perkataannya tentunya belum merasakan sensasi rasanya disambut pintu otomatis.
Kalau boleh membandingkan, mirip pengalaman sewaktu usia Sekolah Dasar. Suatu malam saya harus sendirian di rumah. Ditinggal oleh orang tua untuk suatu keperluan. Setumpuk rasa takut yang memenuhi pikiran saya. Mendengar pintu berderit dan terbuka dengan sendirinya, membuat bulu kuduk berdiri tegak.
Mungkin saja sebelumnya pintu tersebut tidak tertutup sempurna. Atau sekedar terdorong angin. Mungkin ada tangan gaib yang menggerakknnya. Mungkin ini, mungkin itu, mungkin lainnya. Tetapi justru yang menguasai benak saya, adalah pikiran adanya ulah seorang nenek bernama Nyai Putut.
ADVERTISEMENT
Rambutnya putih panjang tak teratur. Tekstur wajahnya keriput dan kerap duduk di atas dahan pohon sawo dengan kaki berayun-ayun penuh horror. Dia adalah tokoh mistis yang populer di kampung saya zaman itu. Begitulah cerita mistis menjelaskan, tepatnya mengaburkan peristiwa.
Selanjutnya, Wahid Hasyim mengatakan basis beragama adalah hukum alam dan logika. Berpikir adalah perintah pertama dalam agama. Rupanya, beliau mengutip dari pemikiran Ibnu Rusyd, tokoh filosof muslim dari Andalusia bahwa berpikir tentang kejadian alam dan tentang hidup manusia sebagai perintah Allah. Ihwal tersebut tercatat juga dalam buku Pintu-Pintu Menuju Tuhan karya Nurcholis Madjid,.
Logika itu juga yang rupanya ditanyakan oleh Bintang Emon ketika membaca kasus penyiraman Novel Naswedan. Mempersoalkan bagaimana seorang menyiram dengan tidak sengaja. Daya kritis, seorang milenal dengan cara sederhana. Menyindir tuntutan hukum yang menabrak nalar. Mempertanyakan dengan argumen hukum gravitasi.
ADVERTISEMENT
Baginya, sulit menerima nalar bahwa menjelang subuh seseorang keluar hanya untuk melakukan hal yang tak sengaja. Cara pikir penegak hukum dalam tuntutannya seperti tidak berpihak pada nalar. Melainkan ajakan berpikir mistis dan gaib. Sekilas melihat wikipedia, secara istilah mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinnig), tersembunyi (verborgen), gelap (donker) atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).
Kembali pada soal pintu otomatis. Zaman kini, tak perlu sulit menjelaskan rahasia pintu yang terbuka tanpa kita menyentuhnya. Kita tahu, salah satu jawabnya adalah adanya sensor. Bisa jadi di bawah keset atau karpet yang kita injak. Pintu bisa bergeser dengan sendirinya, karena ada sensor yang bekerja berdasarkan prinsip beban berat yang kita tumpukan pada kaki saat menginjak keset bertuliskan welcome.
ADVERTISEMENT
Ihwal siapa aktor penyiraman air keras ke wajah Novel Badwedan. Barangkali bisa atau mungkin sudah ditemukan di bawah karpet permadani mereka para pemilik kendali sensor-sensor keadilan itu berada. Membiarkan kasus ini larut oleh cerita-cerita yang kurang masuk akal, hanya akan mencederai kedewasaan berpikir masyarakat.
Zaman ini adalah zaman yang Tuhan tidak lagi mengirimkan nabi-nabi. Tidak ada lagi mukjizat yang muncul dari manusia yang dipilih oleh-Nya. Kita mengimani, ketika hari ini ada manusia-manusia yang mengaku sebagai utusan-Nya, dipastikan dia berhalusinasi. Sebab dalam Lentera Hati, Quraish Shihab menjelaskan, nabi-nabi diutus pada zaman kedewasaan akal masih perlu dibujuk dengan mukjizat yang diperlihatkan para Nabi seizin Allah.
Setelah Muhammad SAW sebagai nabi paripurna selesai dengan tugasnya, manusia dibekali dengan kitab suci berisi petunjuk umum dan akal manusia dinilai sudah mampu untuk menangkap dan menjelaskan kebenaran. Dalam bahasa saya yang awan, makhluk manusia sudah dianggap mandiri, untuk dilepaskan oleh Tuhan.
ADVERTISEMENT
Lagi, meminjam istilah kata dari K.H. Wahid Hasyim, kita ibarat makmum-makmum yang bingung. Atas nama kebingungan inilah khalayak banyak bertanya. Termasuk mempersoalkan logika gaibnya Harun Masiku. Juga bertanya dari mana hitungan matematisnya saat tagihan listrik yang menukik.
Sulit dipercaya ketika algoritma komputer menjadi pegangan manusia, tetapi tagihan listrik malah bersifat gaib. Ibarat pengangguran memecahkan kode alam, menebak undian angka mistik. Pantaslah, khalayak bertanya-tanya. Meminjam ungkapan Hamsad Rangkuti, terkadang kita harus sering bertanya, seandainya pun untuk tahu jawabannya yang sama.
Zaman kiwari, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi telah tumbuh dewasa. Kita terkonekasi akses informasi yang melimpah. Teknologi siap membantu begitu rupa dan mempermudah. Tetapi semua harus bertolak dari pikiran yang logis. Berpikir logis mestinya relevan untuk zaman normal maupun normal baru. Kecuali kalau kita menginginkan kembali mundur ke zaman maraknya mitologi.
ADVERTISEMENT
Atau mungkin kita mau membuka pintu tumbuhnya ketidakwarasan. Yang potensial menumbuhsuburkan orang-orang beserta pengikutnya dengan halusinasi negara keadilan dan kesejahteraan seperti Sunda Empire dan Kerajaan Agung Sejagat. Atau masih banyak orang yang percaya tahayul seperti tukang bakso yang meludahi dagangannya.
Kita diingatkankan oleh generasi milenial dengan dakwah singkat untuk menjaga akal sehat. Ajakan tidak harus datang dari pakar atau elit semata. Ajakan boleh dari siapa saja sepanjang menggunakan akal sehat. Zaman semakin dewasa bahkan menua. Tetapi tampaknya kita masih harus sibuk melawan tuna logika.
Makhsun Bustomi, SST, Msi.
Seorang Social Worker, ASN Pemkot Tegal. Aktif dalam Litbang Lembaga Dakwah NU Kota Tegal
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white