Mengapa Ada yang Happy Melihat Der Panser Menepi?

Penulis Esai, sehari-sehari bekerja sebagai Policy Analist di Pemerintah Kota Tegal.
Konten dari Pengguna
4 Desember 2022 14:35
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Tak kalah dengan drakor, piala dunia Qatar 2022 juga penuh drama. Sepakbola memang bukan sekadar permainan sebuah bola diperebutkan dua tim untuk dimasukkan ke gawang lawan. Tatkala dua tim berhadapan, maka dapat bertemu pula sentimen sejarah koloni, perang masa lalu, kompetisi ekonomi, sentimen politik dan ideologi, soal ras serta tak kalah ngeri adanya sentimen agama juga kerap menjadi micin penyedap.
sumber ilustrasi : www.pexels.com/@tomfisk/
zoom-in-whitePerbesar
sumber ilustrasi : www.pexels.com/@tomfisk/
Para pemain turun ke lapangan tak jarang membawa pesan di luar konteks olahraga. Memang sih, popularitas sepak bola harus dimanfaatkan pula untuk menyampaikan pesan-pesan positif. Tidak hanya diekploitasi untuk kepentingan ekonomi dan bisnis. Soal pesan tadi, tentu saja dapat terjadi "benturan peradaban", manakala perbedaan identitas budaya dan agama menggiring polemik dan konflik. Prinsip untuk tidak mengakui LGBT dari Qatar sebagai sohibul bait berlawanan dengan budaya yang dipraktikkan oleh bangsa Eropa dan Amerika. Larangan ban kapten pelangi kemudian disikapi oleh tim Jerman dengan adegan tutup mulut saat berfoto sebelum kick off pertandingan versus Jepang sebagai simbol pembungkaman terhadap hak-hak azasi manusia.
ADVERTISEMENT
Dan siapa turut senang ketika akhirnya Der Panser ditikam Samurai Biru pada pertandingan Grup E Piala Dunia 2022? Jerman berduka, setelah tiga pertandingan, alhasil kisahnya mentok di fase grup saja. Sepertinya, ia mendapat karma dan Tuhan tidak rela jika kampanye yang bertentangan dengan koridor moral dan agama berjaya. Demikian tak sedikit netizen berkomentar. Bagi yang kontra akan berbalik tanya, kok Tuhan juga tak membantu Arab Saudi lolos menuju 16 besar? Memang repot kalau Tuhan dibawa-bawa dalam obrolan macam ini.
Nikmatnya Jadi Superior
Sebagai tontonan dan hiburan, sepak bola mengundang siapa saja untuk masuk. Untuk menonton, menikmati, berkomentar dan menganalasis semau-maunya. Jelas, begitu ditayangkan maka sepak bola menjadi milik bersama. Bukan sebagai ruang eksklusif yeng bertuliskan "yang tidak berkepentingan dilarang masuk".
ADVERTISEMENT
Meskipun timnas kita bukan salah satu peserta, tetapi sebagai penonton kita mempunyai kepentingannya masing-masing. Ada teman saya yang konsisten mendukung asal tim itu dari negara yang mayoritas penduduknya beragama sama dengannya. Tak sedikit pula yang berprinsip tatkala berhadapan dengan negara dari Eropa, akan selalu mendukung tim Asia atau Afrika. Lalu jika beradapan dengan sesama Eropa, ada pula yang mendukung siapapun tim yang menjadi underdog.
Catat pula dengan jujur. Sehebat apapun tim yang kita bela, bukankah kita diam-diam gembira apabila ada pemain lawan diberi kartu merah? Jangan-jangan hati bersorak melihat pemain lawan yang menjadi kunci permainan juga cedera.
Dalam gelaran permainan bola sayangnya kita bukan cuma senang ketika tim kita menang. Saat jagoan kita tersungkur, kita akan merasa senang jika lawan yang menyingkirkan kemudian dibantai oleh tim lainnya. Semacam ada perasaan lega karena dendam terbalaskan meskipun oleh orang lain.
ADVERTISEMENT
Tak heran, banyak pendukung Ghana yang masih terluka saat Suarez melakukan handball pada perempat final Piala Dunia 2010. Cara kotor yang menggagalkan peluang Ghana ke semifinal. Pada Piala Dunia Qatar ini, Ghana bahkan tak lolos fase grup. Tetapi, melihat Uruguay juga tidak lolos dengan cara dramatis adalah sebuah kegembiraan tersendiri. Pendukung Ghana lebih plong melihat Korea Selatan melaju babak 16 besar bersama dengan Spanyol.
Salah satu makna menikmati sepak bola adalah kita dapat belajar memahami manusia. Dalam konteks ini, manusia itu ternyata punya sisi gelap. Mau tak mau, dalam banyak bentuk ternyata melihat orang lain susah, bisa membuat kita bahagia. Ibarat lagu dangdut Imam S. Arifin yang mempopulerkan kata-kata "menari di atas luka". Saya jadi teringat buku Schadenfreude: The Joy of Another's Misfortune karya sejarawan budaya Tiffany Watt Smith. Contoh kecil, kita kadang (sayangnya) ikut tertawa melihat orang jatuh terpeleset. Walaupun dalam hitungan detik, muncul perasaan berdosa.
ADVERTISEMENT
Jadi, bagi kita yang timnasnya belum bisa berlaga, Piala Dunia menyediakan saluran dan sarana untuk emosi serupa ini. Apalagi di level Asia Tenggara saja masih di bawah bayang-bayang Thailand dan Vietnam. Sehingga merasa bahagia di atas luka ini tidak jahat-jahat amat. Sepak bola menjadi jalan keluar bagaiamana menghibur diri dan keluar dari rasa minder.
Menjadi suporter itu akan memberikan kesempatan menjadi superior. Itulah nikmatnya merasa menang. Merasa menang saja akan membahagiakan, apalagi menjadi pemenang sesungguhnya. Tak heran, mendukung yang sudah biasa menang akan terasa biasa-biasa saja. Tetapi memihak yang tak dianggap, jika kemudian menang akan terasa luar biasa bahagia.
Merasa inferior itu lumrah saja. Berandai-andai kita sebagai orang Ghana, hampir pasti kita sangat bahagia dengan kenyataan Uruguay gagal. Mendapati Jerman menepi, mungkin bagi sementara orang membawa happy. Ada semacam pemberontakan, haruskah orang Eropa dan Amerika dibiarkan menang dalam segala hal? Sekali-kali Asia juga harus juara. Demikian pula dalam diri penentang kampanye one love, terselip semacam rasa tak berdaya melihat kenyataan kampanye LGBT merajalela. Sehingga adanya kegagalan dan kekalahan pihak yang mempromosikannya tentu saja memberikan rasa lega walaupun mungkin itu sifatnya sementara.
ADVERTISEMENT
Teman Senasib
Menelisik lebih jauh lagi, satu hal yang bisa dipetik dalam konteks senang melihat orang lain susah adalah soal sikap kita terhadap kegagalan dan inferioritas. Lihatlah energik dan ngototnya pemain-pemain Korea Selatan dan Jepang berjuang dari menit-menit awal sampai akhir pertandingan. Dua tim yang memberikan dakwah bil hal secara efektif bagaimana merespon inferioritas dalam soal sepak bola.
Sayangnya sampai saat ini, kita memang menjadi pendukung timnas yang bukan timnas negara sendiri. Tetapi, terserah saja tim mana yang anda dukung atau tim mana yang anda ingin melihatnya kalah. Senang melihat orang lain kalah itu manusiawi. Tetapi jangan terlalu gembira, sebab itu sejatinya mengkonfirmasi bahwa kita membutuhkan hiburan atas kegagalan atau kekalahan kita sendiri. Dengan kalimat lain, ternyata diam-diam dalam kekalahan dan kegagalan, kita butuh "teman senasib".
ADVERTISEMENT
Happy melihat Der Panser menepi itu manusiawi. Senang melihat fakta Jerman menjadi pecundang itu tak apa. Tentu saja ini tak berlaku khusus untuk kegagalan Jerman semata. Menyaksikan tim Eropa kalah oleh tim Asia, misalnya seringkali bikin sementara orang bahagia. Dalam kehidupan sehari-hari, memang rasanya aneh dengan munculnya rasa gembira pada manusia melihat kegagalan manusia lain yang mungkin tak ada dosa bahkan tak ada hubungannya dengannya. Namun pelan-pelan, sesungguhnya tersembunyi inti yang perlu dipahami. Sangat mungkin itu akibat adanya kegagalan, kesalahan, inferioritas dan rasa minder pada diri sendiri yang mungkin sesungguhnya lebih besar dari yang kita sadari dan akui.
Dan jangan lupa sebaliknya. Pada saat kita jatuh, kalah serta sial, sangat mungkin diam-diam ada yang tertawa bahagia.
ADVERTISEMENT
editor-avatar-0
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020