Bola & Sports
·
2 Agustus 2021 13:55
·
waktu baca 2 menit

Bangganya Orang Sulawesi ke Greysia/Apriyani, Peraih Emas Olimpiade Tokyo 2020

Konten ini diproduksi oleh Manado Bacirita
Bangganya Orang Sulawesi ke Greysia/Apriyani, Peraih Emas Olimpiade Tokyo 2020 (219485)
searchPerbesar
Selebrasi ganda putri Indonesia Greysia Pollii/Apriyani Rahayu usai mengalahkan ganda putri China Chen Qingchen/Jia Yifan pada pertandingan final Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Senin (2/8). Foto: Leonhard Foeger/REUTERS
Medali emas perdana kontingen Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020, berhasil disumbangkan oleh ganda putri bulu tangkis Greysia Polii - Apriyani Rahayu, setelah berhasil mengalahkan pasangan China, Chen Qingchen/Jia Yifan, dua set langsung 21-19 dan 21-15, di laga final, Selasa (2/8).
ADVERTISEMENT
Greysia/Apriyani tampil sangat solid sejak set pertama. Kekompakan pasangan senior dan junior ini, membuat Chen Qingchen/Jia Yifan yang pernah menempati peringkat satu dunia di tahun 2017 ini tak bisa mengembangkan permainan mereka.
Sementara, kemenangan ini disambut warga Sulawesi Utara. Tak hanya karena Greysia Polii adalah atlet berdarah Manado, mereka juga berbangga, karena Apriyani Rahayu juga berasal dari pulau Sulawesi, tepatnya berasal dari Konawe, Sulawesi Tenggara.
"Terus terang bangga. So ini tu pukulan orang Sulawesi," ujar Andi, warga Makassar yang berdomisili di Manado, usai Greysia-Apriyani memenangkan pertandingan Final, Senin (2/8).
Andi menyebutkan, di tengah kondisi yang serba tak menentu akibat COVID-19, duo sulawesi, Greysia dan Apriyani, menjadi oase dan memberikan kebahagiaan untuk seluruh rakyat Indonesia.
ADVERTISEMENT
"Tingkatkan imun tubuh karena hasil gembira ini. Memang tadi, sampai habis suara mendukung," kata Andi kembali.
Profil Greysia Polii dan Apriyani Rahayu
Greysia Polii, lahir di Jakarta pada 11 Agustus 1987, artinya dirinya sudah akan berusia 34 tahun, 9 hari lagi. Sudah berkarir di Pelatnas sejak tahun 2003, Greys sapaan akrabnya, menjadi pemain paling senior di kontingen Indonesia yang berlaga di Olimpiade Tokyo.
Perjuangan keluarganya untuk menjadikanya atlet bulutangkis patut diacungi jempol. Dikutip dari berbagai sumber, ibu Greys, sempat menjual baju miliknya untuk membelikan anaknya raket bulutangkis. Begitu juga pengorbanan keluarganya yang memilih kembali hijrah ke Jakarta dari Manado, agar Greys bisa mengejar profesinya sebagai atlet bulutangkis.
Dalam helatan Olimpiade Tokyo, Greys yang berpasangan dengan Apriyani, mencetak banyak sekali rekor, mulai dari Ganda Putri Indonesia pertama yang lolos sebagai semifinalis, dan sekaligus memenangkan medali emas.
ADVERTISEMENT
Sementara, Apriyani Rahayu, lahir di Konawe, Sulawesi Tenggara, pada tanggal 29 April 1998, yang artinya dia baru berusia 23 tahun saat menjadi pemegang medali emas Olimpiade.
Apriyani terlahir dari pasangan Siti Jauhar dan Ameruddin, dan sudah memulai karir bulutangkis sejak di level junior.
Apriyani, mulai berlatih di Pelatnas pada tahun 2017 dan langsung dipasangkan dengan Greysia Polii, yang saat itu tidak memiliki pasangan tetap setelah Nitya Krishinda Maheswari, mengalami cedera.
Selama berpasangan dengan Greysia Polii, Apriyani sudah dua kali meraih perunggu pada Kejuaraan Dunia tahun 2018 dan 2019. Pada perhelatan Asian Games, dirinya juga hanya mampu meraih Perunggu.
manadobacirita