News
·
29 Juli 2021 14:57
·
waktu baca 3 menit

Kronologi Anak yang Diisolasi Tanpa Orang Tua di Rumah Singgah Minut

Konten ini diproduksi oleh Manado Bacirita
Kronologi Anak yang Diisolasi Tanpa Orang Tua di Rumah Singgah Minut (63061)
searchPerbesar
Potongan video saat keluarga Aurel meminta agar anak mereka tidak menjalani isolasi di rumah singgah balai Diklat Maumbi
MINUT - Dokter Linda Matali, Kepala Rumah Isolasi Balai Diklat Maumbi, akhirnya buka suara terkait dengan informasi yang menyebutkan seorang anak berusia tujuh tahun bernama Aurel, diisolasi tanpa didampingi orang tua, di tempat tersebut.
ADVERTISEMENT
Kepada manadobacirita, Linda terlebih dahulu menyesalkan adanya pemberitaan yang tanpa konfirmasi dan mencari fakta sebenarnya, sehingga terkesan pihak pengelola maupun petugas rumah isolasi melakukan tindakan yang tidak manusiawi terhadap seorang anak kecil.
Linda kemudian menceritakan kronologi masuknya Aurel ke rumah isolasi tersebut pada Sabtu (24/7) akhir pekan lalu. Menurut Linda, dirinya mendapatkan pemberitahuan akan adanya 3 pasang ibu dan anak (6 orang) limpahan dari RS Darurat COVID-19 Bapelkes Manado, yang akan menjalani isolasi karena positif corona.
Menurut Linda, karena ada pengantar limpahan, mau tidak mau pihaknya harus menerimanya, terlepas jika ada persoalan yang terjadi di Bapelkes Manado. Namun menurut Linda, sesampainya di tempatnya, tidak ada persoalan sama sekali yang terjadi.
ADVERTISEMENT
"Jadi sewaktu tiga pasang ibu dan anak ini datang, kami minta tanda tangan pernyataan terlebih dahulu jika yang negatif akan mendampingi yang positif dan mau menerima aturan yang ada. Ini prosedur, karena ada yang mendampingi tapi tak positif," ujar Linda.
Menurut Linda, dari tiga pasang ibu dan anak ini, hanya ibu dari Aurel yang tidak mau menandatangani pernyataan tersebut, sementara yang lain sudah. Tapi, walaupun tidak menandatangani, tidak ada riak-riak yang terjadi seperti yang diberitakan. Tak hanya itu, ibu Aurel juga tetap tinggal di rumah isolasi tersebut bersama anaknya.
Namun, tiba-tiba Ibu Aurel meminta izin, dengan alasan untuk mengambil baju anaknya di rumah. Saat itu, petugas meminta agar baju anaknya diantar saja oleh keluarga, si ibu bersikeras, karena menurutnya kebutuhan anaknya hanya dia seorang yang tahu.
ADVERTISEMENT
"Jadi, akhirnya petugas izinkan untuk ke luar rumah isolasi, karena si ibu juga dalam posisi negatif COVID-19. Sampai disini, anak Aurel tidak menangis dan tidak ditinggal sendirian, karena ada petugas jaga," kata Linda.
Setelah beberapa waktu, si ibu kembali ke rumah isolasi, tetapi sudah datang dengan banyak sekali orang. Disitu, menurut Linda ada satu perempuan yang mulai marah-marah dan menuding jika Aurel dipaksa untuk isolasi sendiri. Si ibu tampak hanya diam.
Karena situasi yang sudah tidak terkendali, bahkan keluarga sudah merangsek masuk hingga ke lantai dua yang harusnya steril, akhirnya petugas jaga membawa Aurel ke ruang tersebut untuk diperlihatkan jika anak tersebut dalam kondisi baik dan tidak menangis seperti yang dituduhkan.
ADVERTISEMENT
"Nah, disini Aurel yang awalnya tidak menangis, kemudian akhirnya menangis karena melihat keributan. Jadi, saya tegaskan tidak ada Aurel menangis sampai kedatangan mereka. Ini yang saya sangat sesalkan, karena ada informasi salah yang disebar bahkan jadi bahan berita," ujar Linda.
Linda mengaku, pada dini hari karena situasi yang tak bisa terkendali, mengingat petugas keamanan hanya dua orang Satpol PP tanpa polisi dan TNI, akhirnya mereka mengizinkan Aurel dibawa oleh keluarganya tersebut.
"Disini kami tegaskan, kami tidak pernah memperlakukan pasien dengan tidak baik. Saya juga meminta maaf, kalau seandainya memang ada kesalahpahaman yang terjadi di awal dengan pihak lain. Tapi, karena kami di rumah isolasi fungsinya untuk menjaga pasien, kami hanya melakukan standar kerja kami. Terus terang kami merasa terpukul, karena informasi yang menjudge kami tidak baik. Tapi biarlah, ini menjadi berkat untuk kami," kata Linda kembali.
ADVERTISEMENT
febry kodongan