kumparan
15 Apr 2019 15:25 WIB

Menjemput Suara Pemilu Para WNI di Fiji dengan Sampan

Seorang WNI di Suva, Fiji, menunjukkan jarinya yang sudah tercelup tinta, tanda telah menyalurkan hak pilihnya pada Pemilu 2019 (foto: KBRI Suva)
Sebanyak 355 Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di Suva, Fiji, telah menyalurkan hak pilih mereka dalam Pemilihan Umum 2019, Sabtu (13/4). Mereka menyalurkan hak pilih lewat dua metode yang dilaksanakan oleh Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN).
ADVERTISEMENT
Uniknya, PPLN menggunakan metode mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Suva, dan lewat kotak suara keliling yang dibawa oleh para petugas PPLN sejak Kamis (11/4).
Tim PPLN Suva di Fiji mendatangi kapal-kapal ikan asing yang berawak WNI untuk membawa kotak suara Pemilu 2019 (foto: KBRI Suva)
"Ada total 355 suara terkumpul di Fiji. 179 dari kotak suara keliling dan 175 suara di TPS. Ada juga satu suara via pos dari Tarawa, Kiribati, yang merupakan negara yang juga masuk ke KBRI Suva," tutur Andre Maramis, staf KBRI di Suva, saat dihubungi Senin (15/4).
Staf sekretariat PPLN Suva, Maramis, menyebutkan jika metode kotak suara keliling merupakan kebijakan PPLN. Mengingat rata-rata WNI di Suva, Fiji adalah Anak Buah Kapal (ABK), yang hidupnya berada di atas kapal-kapal asing.
Para WNI di kapal ikan asing yang ada di Fiji saat dikunjungi PPLN Suva (foto: PPLN Suva)
"Uniknya di sini untuk memfasilitasi para ABK WNI yang bekerja di kapal asing, kami keliling pelabuhan dengan sampan (perahu) untuk menjemput hak suara mereka di atas kapal," kata Maramis.
ADVERTISEMENT
Maramis menjelaskan, demografi pemilih yang merupakan para pelaut, mengharuskan pihaknya melakukan sistem jemput bola tersebut, agar tidak ada hak suara dari WNI yang hilang.
WNI menggunakan perahu untuk menuju ke TPS Suva di Fiji untuk menyalurkan hak pilih mereka pada Pemilu 2019
"Terima kasih untuk Tuhan karena tidak ada kendala saat hari pencoblosan. Memang sempat hujan, tetapi antusias masyarakat sangat besar," kata Maramis kembali.
Sekadar informasi, jumlah WNI di Fiji berada di kisaran 500-an, di mana dua per tiganya adalah ABK di kapal-kapal asing, yang tidak tentu berada di kepulauan, karena keluar masuk untuk melaut di perairan pasifik.
Mayoritas kedua WNI di Fiji adalah pekerja konstruksi asal Indonesia yang bekerja di beberapa perusahaan di Fiji. Selebihnya adalah para ekspatriat di perusahaan Fiji-Asing, LSM, dosen, hingga pendeta dan ystaz asal Indonesia.
ADVERTISEMENT
isa anshar jusuf
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan