News
·
14 April 2021 17:19

Pasar Ramadhan di Manado Padat Pembeli, Berburu Takjil dan Makanan Berbuka Puasa

Konten ini diproduksi oleh Manado Bacirita
Pasar Ramadhan di Manado Padat Pembeli, Berburu Takjil dan Makanan Berbuka Puasa (316651)
Suasana di pasar Ramadhan di Kota Manado
MANADO - Kebijakan pemerintah yang tidak lagi membatasi aktivitas masyarakat secara ketat selama bulan Ramadhan ini, berdampak pada ramainya pembeli pada pasar ramadhan di Kota Manado. Pantauan manadobacirita, tampak pasar ramadhan yang mulai dibuka sejak pukul 15.00 Wita, padat pembeli.
ADVERTISEMENT
Tak hanya umat muslim yang mencari takjil untuk berbuka puasa, tampak juga warga lainnya yang ikut berburu makanan yang diakui mereka, hanya ada saat bulan ramadhan.
"Banyak kukis (kue) dan makanan yang jarang ditemukan bisa didapatkan dengan mudah di pasar ramadhan. Makanya, saya sering datang untuk membeli. Kalau bisa setiap hari, saya datang beli tiap hari," kata Junita, warga Manado.
Sementara Meify Djuma, penjual takjil di Pasar Ramadhan Ketang Baru mengaku jika pembeli yang datang di pasar Ramadhan sudah lebih baik dibandingkan dengan Ramadhan tahun 2020 lalu, saat pandemi COVID-19 baru berlangsung.
Dikatakannya, sejak pas buka jam tiga sore, pembeli terus datang, sehingga dirinya sudah menghabiskan seluruh jualannya sebelum waktu berbuka puasa tiba.
ADVERTISEMENT
"Sejak dibuka, pembeli yang datang banyak. Sampai-sampai kue yang saya jual sudah habis dibeli,” ucap Meify.
Meify mengaku dagangan yang dijualnya adalah beragam macam kue, mulai dari Lalampa, Panada, Kue Kuk, Risoles dan Balapis dengan harga, bervariasi mulai dari Rp.3000 hingga Rp.5000 per kue.
Sementara itu, walaupun masih ada beberapa warga yang tak menggunakan masker, tapi rata-rata penjual di pasar ramadhan terlihat menggunakan masker.
“Kami disini jualan memang harus memakai masker. Sehabis melayani pembeli, juga membersihkan tangan. Ya, harus taat dengan anjuran pemerintah agar tidak ada yang ditutup karena tak taat protokol kesehatan,” ujar para pedagang lainnya.
febry kodongan