Pencarian populer

Katedral-Istiqlal, Wujud Toleransi Hangat Umat

Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal. (Foto: Fanny Kusumawardhani/Kumparan)
Dua bangunan itu berdiri berseberangan. Satu berkubah putih megah, satu dengan menara kembar runcing menjulang anggun ke langit. Mereka adalah Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral --ikon Jakarta yang juga simbol perbedaan sekaligus persahabatan antar umat.
H-1 situasi gereja Katedral di Jakarta Pusat (Foto: Aprilandika Pratama/kumparan)
“Saya parkir di Masjid Istiqlal,” kata Kris, seorang Katolik yang baru saja selesai mengikuti misa di Katedral.
ADVERTISEMENT
Kala itu, misa Jumat Agung yang jadi bagian dari rangkaian Paskah baru usai. Umat Katolik bergegas keluar dari Gereja. Sebagian berjalan ke arah Istiqlal, hendak mengambil mobil dan motor yang mereka parkir di masjid itu.
Pengelola Masjid Istiqlal, yang bertetangga dengan Katedral, paham betul Paskah begitu penting bagi umat Katolik. Mereka, dengan senang hati, menyisihkan sebagian lapangan parkir untuk diisi kendaraan umat Katolik yang membeludak jumlahnya di masa Paskah.
Hal yang mungkin terlihat sepele itu, nyatanya jadi kelegaan dan kenyamanan tersendiri bagi umat Katolik yang beribadah di Katedral.
Berbagi lahan parkir hanya secuil contoh dari toleransi umat beragama yang tak pernah putus antara jemaat Katedral dan Istiqlal.
Kini, Hari Raya Idul Fitri tiba, dan kebetulan Lebaran kali ini jatuh pada hari Minggu --yang juga jadi jadwal bagi umat Katolik untuk menggelar misa.
ADVERTISEMENT
Maka giliran Katedral membuka pintu bagi jemaah Istiqlal. Gereja itu pun menyiapkan lahan parkir bagi Muslim yang hendak salat id di Istiqlal dan tak kebagian parkir di Istiqlal.
Tak cuma itu, Katedral bahkan memundurkan jadwal misanya demi memberikan kenyamanan dan keleluasaan bagi Muslim yang beribadah pagi harinya.
Misa yang biasa berlangsung jam 07.00 pagi, dipindah jadi lebih siang pada pukul 10.00, 12.00, 17.00, dan 21.00 WIB.
Gereja Katedral ubah jam ibadah. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga)
Jalinan toleransi Katedral-Istiqlal membentang puluhan tahun sejak keduanya berdiri. Keduanya bahkan sengaja dirancang terpancang di tanah berdampingan.
Adalah Sukarno yang mencetuskan gagasan membangun masjid terbesar di Indonesia berdampingan dengan Gereja Katedral yang telah dibangun lebih dulu sejak 1901.
Pada akhirnya, pembangunan Masjid Istiqlal yang berdekatan dengan Gereja Katedral memang sarat nilai toleransi, keberagaman, dan kebersamaan.
ADVERTISEMENT
Sampai saat ini, kedua bangunan itu jadi simbol kerukunan antarumat beragama, yang mestinya terus bergandeng tangan tanpa dinodai karut-marut politik berbalut agama.
Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal (Foto: Fanny Kusumawardhani/Kumparan)
Terdapat berbagai kisah unik terkait toleransi yang mengembang di antara Istiqal dan Katedral. Saat unjuk rasa besar 212 berlangsung di pusat ibu kota misalnya, para demonstran yang sedang berjaga di area Masjid Istiqlal membantu membuka jalan bagi sepasang pengantin yang akan melangsungkan pernikahan di Gereja Katedral.
Bersama-sama, para demonstran mengawal pasangan pengantin tersebut hingga keduanya aman masuk ke dalam gereja.
Massa membuka jalan untuk pengantin ke Katedral (Foto: Ainul Qalbi/kumparan)
Pastor Kepala Paroki Gereja Katedral Jakarta, Rm. Hanirudi, mengatakan tenggang rasa bukan hal spesial di Katedral dan Istiqlal. Sama tak istimewanya dengan pengunduran jam misa untuk mendahulukan kenyamanan umat Islam yang hendak salat id.
ADVERTISEMENT
“Bukan spesial. Itu adalah sebuah kewajiban. Namanya juga tetangga, saudara,” kata Rm. Hani pada kumparan, Kamis (22/6).
Paling penting, imbuhnya, ialah untuk menguatkan tali kebaikan satu sama lain. Itu pula sebabnya Katedral juga menggelar buka bersama saat Ramadhan.
“Waktu itu kami adakan buka bersama dengan tokoh sekitar, dari Istiqlal, FKUP (Forum Kerukunan Umat Beragama) DKI Jakarta, bersama tokoh masyarakat sekitar sini, camat, lurah, RT, dan RW,” ujar Rm. Hani.
Buka bersama yang dihadiri tokoh lintas agama tersebut diadakan di aula Gereja Katedral.
Aula itu pula yang dulu pernah menjadi saksi bisu sejarah bangsa, kala Kongres I Sumpah Pemuda digelar. Saat itu, aula Katedral difungsikan sebagai tempat berkumpul, berdiskusi, dan menjalankan kegiatan yang melibatkan masyarakat dengan beragam latar belakang.
ADVERTISEMENT
“Sehingga, kami adakan buka puasa bersama di aula yang dalam sejarahnya pernah menjadi tempat Kongres I Sumpah Pemuda berlangsung,” kata Rm. Hani.
Suasana teduh di dalam Katedral Jakarta. (Foto: Sattwika Duhita/kumparan)
Aula tersebut kini sudah direnovasi menjadi lebih luas, dinaungi rindang pepohonan. Dan tak jauh dari aula, di satu sudut gereja, patung Garuda Pancasila berdiri gagah, dengan kaki mencengkeram pita putih bertuliskan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
Garuda Pancasila di Gereja Katedral. (Foto: Sattwika Duhita/kumparan)
Berjalan keluar menuju trotoar gereja yang berseberangan persis dengan Masjid Istiqlal, terpampang spanduk hijau sederhana, warna khas Idul Fitri, berisi ucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” yang dibuat dan dipasang oleh umat Paroki Gereja Katedral Jakarta.
Spanduk ucapan selamat Idul Fitri. (Foto: Sattwika Duhita/kumparan)
Katedral-Istiqlal bukan sekadar bangunan. Mereka oase pengharapan yang memancar di jantung Jakarta, yang akan selalu menjadi pengingat umat untuk terus merengkuh damai di atas segala perbedaan.
ADVERTISEMENT
Semoga.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.85