kumparan
10 Agu 2017 16:09 WIB

Sunat Perempuan: Beda Afrika dan Indonesia

Malam menjelang. Saya merebahkan tubuh ke kasur, hendak bersantai sebentar sebelum merapikan dan menyusun berbagai hasil temuan dan wawancara saya sepekan terakhir.
ADVERTISEMENT
Benak saya melayang melintasi samudra, ke kawan saya di Afrika, Rabab. Ia tinggal di Sudan, timur laut Afrika, benua yang marak mempraktikkan sunat perempuan berbahaya.
Topik sunat perempuan itu jadi satu di antara sejumlah isu yang kami--saya dan Rabab--perbincangkan ketika kami bertemu pada sebuah konferensi di Edinburgh, Inggris, Juli lalu.
“It is so important and people don’t know the complications,” kata Rabab kepada saya, sambil menjelaskan betapa tinggi angka kematian perempuan di Afrika akibat sunat perempuan atau female genital mutilation/cutting (FGM/C)--demikianlah istilah globalnya.
Bagaimana tidak berisiko nyawa melayang, jika alat potong yang digunakan untuk menyunat perempuan Afrika itu dalam kondisi kotor. Para perempuan nahas itu amat riskan terinfeksi, bahkan mati kehabisan darah karena metode sunat yang jauh dari steril dan layak.
ADVERTISEMENT
Sunat perempuan di Afrika pun menjadi salah satu medium penyebaran HIV/AIDS. Pisau atau silet yang tak higienis dan menyisakan darah, dengan mudah menyebarkan virus HIV.
Ilustrasi sunat perempuan. (Foto: Bagus Permadi/kumparan)
Secara teknis, Badan Kesehatan Dunia (WHO) membagi sunat perempuan ke dalam empat jenis. Pertama, klitoridektomi, yakni memotong sebagian atau seluruh klitoris, bagian sensitif pada alat kelamin perempuan berupa daging atau gumpal jaringan kecil pada ujung atas lubang vagina.
Kedua, eksisi, yakni memotong sebagian atau seluruh bagian klitoris dan labia minora (bibir vagina bagian dalam), dengan maupun tanpa turut memotong labia majora (bibir vagina bagian luar).
Ketiga, infibulasi, yakni menjahit atau “menyegel” vagina dengan cara memotong beberapa bagian dari labia minora atau labia majora, dengan maupun tanpa memotong bagian klitoris.
ADVERTISEMENT
Keempat, mencakup seluruh praktik dan prosedur yang berisiko pada alat kelamin perempuan yang dilakukan di luar kepentingan medis, seperti menindik, menggores, atau menusuk area kelamin.
WHO telah berupaya menghentikan praktik sunat perempuan sejak 1997. Sebelas tahun kemudian, 2008, isu sunat perempuan mulai menyeruak dan menjadi salah satu prioritas di dunia kesehatan. Empat tahun berikutnya, 2012, Majelis Umum PBB pada mengadopsi sebuah resolusi untuk menghapus sunat perempuan.
Dalam cakup global, UNICEF pada tahun 2014 melaporkan Somalia sebagai negara tertinggi dengan prevalensi anak perempuan dan dewasa antara umur 15-49 tahun disunat, mencapai 98 persen dari total populasi perempuan di negara itu.
Infografis data sunat perempuan (global) (Foto: Frans Mateus Situmorang)
Metode sunat perempuan yang banyak dipakai oleh negara-negara di Afrika, termasuk Somalia, menurut UNICEF, adalah jenis pertama hingga ketiga--klitoridektomi, eksisi, dan infibulasi. Sementara WHO mengindikasikan jenis 3, infibulasi, sebagai praktik yang mayoritas digunakan di Afrika.
ADVERTISEMENT
Mirisnya bila perempuan yang disunat sampai harus meregang nyawa. Ini terutama terjadi jika klitoris si perempuan dipotong sepenuhnya. Sungguh mengerikan.
Akibatnya, perempuan malang itu mengalami pendarahan, kehabisan darah, dan meninggal.
Pertanyaan paling mendasar di benak saya: sepadankah mati demi disunat?
Sejauh ini, belum ada bukti medis yang sungguh-sungguh menyebut manfaat sunat terhadap perempuan.
Oke, itu memang di Afrika, yang--setelah perjalanan saya menelusuri soal sunat perempuan ini--berbeda dengan di Indonesia.
Indonesia termasuk salah satu negara dengan angka sunat perempuan yang tinggi. Berdasarkan laporan UNICEF tahun 2016, Indonesia berada di peringkat ketiga tertinggi di dunia dalam praktik sunat perempuan terhadap anak berusia 0 hingga 14 tahun.
Memiliki populasi penduduk Islam terbesar di dunia, Indonesia memang memiliki masyarakat yang sebagian di antaranya meyakini sunat perempuan merupakan anjuran atau perintah agama.
ADVERTISEMENT
Hanya, sunat perempuan di Indonesia tidak menggunakan metode ekstrem--kerap disebut khitan firauni--seperti di Afrika. Islam bahkan melarang sunat perempuan dilakukan berlebihan, semisal dengan memotong seluruh klitoris.
Hadis Riwayat Al Khatib dalam Tarikh 5/327 menyebutkan, “Apabila engkau mengkhitan wanita, sisakanlah sedikit. Jangan potong (bagian kulit klitoris) semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami.”
Serupa, H.R Abu Dawud berbunyi, “Jangan berlebihan dalam mengkhitan, karena akan lebih nikmat (ketika berhubungan seksual) dan lebih disukai suami.”
Infografis data sunat perempuan (global) (Foto: Frans Mateus Situmorang)
Metode sunat yang umum digunakan di Indonesia adalah jenis empat, dengan ketentuan tidak memotong klitoris secara berlebihan. Masuk ke kategori ini ialah praktik sunat dengan “hanya” menggores klitoris.
Namun selain cara menggores ini, ada pula praktik yang memotong selaput ujung klitoris, atau tidak menggores maupun memotong sedikitpun bagian klitoris--sekadar simbolisasi dengan mengusap bagian klitoris dengan kunyit.
ADVERTISEMENT
Prevalensi kasus sunat perempuan di Indonesia cenderung dinamis dan terpusat di beberapa area. Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2013 menunjukkan, Gorontalo di Sulawesi menjadi daerah dengan angka sunat tertinggi di Indonesia, disusul Bangka Belitung, Banten, Kalimantan Selatan, Riau, dan Jawa Barat.
Metode sunat yang digunakan di tiap daerah berbeda-beda sesuai budaya yang terbentuk. Sampai saat ini, sunat perempuan menjadi sebuah diskursus yang terus bergulir.
Bagaimana anda sendiri memandang sunat perempuan?
Kampanye anti-FGM di Afrika. (Foto: Flickr.)
Oh ya, buat kamu yang ingin berbagi cerita, pengalaman, atau urun pendapat pro maupun kontra--bebas saja--tentang tradisi sunat perempuan yang mungkin ada di keluarga dan lingkungan sekitarmu, boleh banget loh.
Kamu bisa menulis cerita sendiri lewat akun kumparan kamu. Kalau belum punya akun kumparan, yuk bikin. Nggak susah kok. Sila klik panduan berikut: Q & A: Cara Membuat Akun & Posting Story di kumparan
ADVERTISEMENT
Jangan lupa masukkan topik Sunat Perempuan saat mem-publish story, ya.
Kami tunggu cerita kamu ;)
------------------------
Ikuti kisah-kisah mendalam lain dengan mem-follow topik Liputan Khusus di kumparan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·