News
·
19 Oktober 2020 16:05

Mencegah Pelajar Demonstrasi (Lagi)

Konten ini diproduksi oleh Marjono
Mencegah Pelajar Demonstrasi (Lagi) (220708)
Siswa STM ikut demo di depan DPR Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Fenomena anak atau pelajar terlibat demonstrasi bukanlah hal baru di negeri ini. September tahun silam juga menyeret anak-anak dalam aksi demonstrasi menentang sejumlah peraturan yang dianggap merugikan masyarakat di depan gedung DPR-RI.
ADVERTISEMENT
Baru-baru ini pelajar lagi-lagi ikut demonstrasi menentang omnibuslaw UU Ciptaker. Pengalaman ini sekurangnya menjadi catatan para pemangku kepentingan atas keterlibatan anak-anak dalam hiruk-pikuk demonstrasi kerap menyuarakan bagian demokrasi.
Sesungguhnya, demonstrasi kemarin juga turut dipicu atas tontonan dan pengalaman serupa, seperti anak-anak atau pelajar yang ikut dalam kegiatan kampanye pemilihan umum, entah itu pilkades, piilkada, pileg maupun pilpres. Melihat dan membaca kemurungan sebelum tahun 2020 kita bisa menemukannya di sana.
Kemudian pelibatan anak-anak juga menjalar pada aktivitas eksploitasi, sehingga kerap anak-anak ini terjebak menjadi korban kekerasan seksual, pengemis, pemulung maupun kegiatan underground lainnya. Misalnya, kurir narkoba, PSK, pelaku kriminal, bahkan menjadi bomber terorisme, seperti pada peristiwa di Kartasura beberapa tahun silam.
ADVERTISEMENT
Suka tak suka, masifnya anak-anak atau pelajar yang telanjur ikut demonstrasi juga atas adurayu konten-konten media sosial yang bertebaran di mana-mana. Selain itu, anak-anak ini juga nyaris setiap hari dihidangkan menu pemberitaan dan atau tayangan demonstrasi di beberapa kota yang ternyata di sana kadang secara eksplisit menunjukkan anak-anak yang ela-elu berdemonstrasi.
Maka kemudian, dalam situasi seperti ini, nasi sudah menjadi bubur, tak perlu kiranya kita hanya cakap menyalahkan anak-anak, melarang anak-anak, mengancam anak-anak ketika ketahuan ikut demonstrasi.
Sabagai pamong yang mengedukasi, melindungi, dan memberdayakan anak-anak yang masih dalam usia terlampau muda, sudah seharusnya kita mengarahkan mereka untuk kembali pada tugas utama, yakni belajar dan meluruskannya pada hal-hal positif dan produktif.
ADVERTISEMENT
Tanpa menjustifikasi anak-anak dengan kekerasan verbal, seperti anak nakal, anak gak tahu aturan, anak bengal, anak bebal, dan predikat lain bahkan hukuman fisik yang justru bakal melemahkan maupun sebaliknya mereka berbalik menjadi pemberontak saran, ide dan ceramah kita.
Untuk menekan atau meminimalkan aksi pelajar demonstrasi, maka tak kurang baiknya kita berkaca atas sikap mental dan perilaku orang tua dan lingkungan. Karena orang tua harus menjadi teladan bagi anak, segala lisan dan tindakannnya akan direkam dan satu masa bisa saja menjadi senjata balik bagi anak kala orang tua bisanya hanya menyalahkan.
Orang tua pun jangan pernah menujukkan aksi protes kepada pemerintah di depan anak-anak, apalagi dengan kata-kata kasar. Karena hal ini juga akan tersimpan dalam memori anak. Kita tak ingin, terjadi perulangan anak polah bopo kepradah atau guru kencing berdiri anak kencing berlari.
ADVERTISEMENT
Pendayagunaan forum anak yang sudah tersebar hingga ke daerah, dengan memberikan desiminasi maupun pemahaman secara komprehensif bahkan mengajak kepada para pelajar untuk melakukan kegiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler yang tanpa berisiko layak didorong dan gerakkan. Karena jika anak-anak atau pelajar ikut demonstrasi sangat rentan atas kekerasan, keselamatan dan kesehatan di tengah pusaran COVID-19. Bagian kekhawatiran kita adalah kluster baru demonstrasi.
Lembaga keluarga, sekolah, tempat ibadah dalam relasi ini bisa memasok nilai-nilai kedamaian, kerukunan, musyawarah tanpa perusakan atau anarkis. Karena yang disebut terakhir itu bukan budaya kita, bukan nilai kita dan naluri publik kita tidak akan pernah menerimanya.
Kemudian, para tokoh agama, lembaga masyarakat, partai politik maupun organisasi perempuan pun bisa terlibat meredam maupun mengurungkan niat anak-anak atau pelajar ini dalam aksi demonstrasi dengan strategi masing-masing. Bahwa menyampaikan aspirasi ada kanal tersendiri dan harus dilakukan dengan bahasa santun dan hormat. Maka di sini, pencegahan anak-anak atau pelajar demonstrasi butuh kolaborasi dan peran komunitas. Pendidikan politik pun harus memberi point penting atas proses demokrasi yang elegan dan sehat.
ADVERTISEMENT
Selain itu, penegakan regulasi terhadap anak-anak belum sepenuhnya dilakukan. Artinya mungkin dalam UU demonstrasi disebutkan juga batasan usia minimal yang boleh dan bisa berdemonstrasi. Meskipun dalam UU anak-anak atau perkawinan, menyebut usia anak-anak itu harus menujukkan angka 19.
Mencegah Pelajar Demonstrasi (Lagi) (220709)
Siswa STM ikut demo di depan DPR Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Pendekatan Tingkat Desa

Dengan demikian, mencegah anak-anak atau pelajar ikut demonstrasi jangan hanya berhenti di laporan, pencegahan harus dari duduk bersama di keluarga maupun sekolah. Apa yang bisa dan boleh dilakukan dan apa saja yang layak direpair dan sempurnakan. Pengawasan anak-anak menjadi penting di jam sekolah maupun di luar sekolah. Bisa saja sekolah menerapkan presensi bagi siswanya pada sesi pagi-siang-sore. Maka di sini komunikasi orang tua dan sekolah mesti harmoni dan intens. Atau bisa pula sekolah memberikan tugas tertentu, sehingga memperketat waktu anak untuk mencuri waktu ikut berdemo.
ADVERTISEMENT
Lalu, bagaimana dengan peran komite sekolah? Komite bisa mengambil peran dengan cara mengajak para orang tua dan wali siswa memberikan report anak-anak atas kelakuan atau perilakunya pada musim-musim demonstrasi. Bisa secara anecdotal record maupun cara lainnya. Demikian juga khusus guru bimbingan konseling, agenda home visit perlu digiatkan kembali, dengan atau tanpa menunggu kejadian atau peristiwa yang tidak kita harapkan terbit.
Membangun kesadaran pemerintah dan masyarakat di tingkat desa adalah salah satu cara untuk menghentikannya anak-anak atau pelajar tak ikut demonstrasi. Upaya pencegahan anak-anak atau pelajar demonstrasi memerlukan pendekatan secara masif di tingkat desa. Idealnya, setiap daerah diberikan pendekatan yang berbeda sesuai dengan faktor pendorongnya yang beragam pula. Pendampingan kepada anak-anak atau pelajar penting dilakukan oleh kelompok-kelompok perlindungan anak di desa.
ADVERTISEMENT
Karena secara umum, anak-anak atau pelajar yang ikut demonstrasi ini tak tahu apa yang mereka perjuangkan, tak paham apa tujuanya atau dengan kata lain mereka ini dugo prayugone durung ono. Mereka lebih pada tergiur ajakan lewat media sosial maupun hanya solidaritas semua sesama kelompok atau geng. Regulasi saja tidak cukup menyantuni anak-anak kita menjadi sosok santun, ramah, dan toleran. Menjadi PR bersama, meng-Indonesia-kan anak-anak atau pelajar kita.