News
·
19 Oktober 2020 9:14

Mendorong Intimitas Mengaji dan Mengkaji Kaum Santri

Konten ini diproduksi oleh Marjono
Pada pekan ini kita akan merayakan Hari Santri sebagai bagian dari peneguhan semangat perjuangan untuk Negara dan bangsa, yang mengingatkan kita akan sebuah resolusi jihad para kyai dan santri untuk mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keutuhan NKRI.
ADVERTISEMENT
Kita bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah. Pemerintah telah memberikan peng-hargaan dan apresiasi atas peran historis para santri dalam perjuangan kemerdekaan. Pene-tapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional disahkan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo pada tahun 2015 melalui Keppres Nomor 22 tahun 2015.
Mengapa tanggal 22 Oktober ? Karena pada hari atau tanggal itu resolusi jihad digelo-rakan. Sebuah seruan jihad kepada para santri untuk berjuang melawan kolonialisme yang akan kembali menancapkan kuku di Indonesia.
Pada awalnya, tanggal 17 September 1945, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa jihad bahwa “Memperjuangkan tanah air sebuah ijtihaj bahwa perjuangan membela tanah air sebagai suatu jihad fisabilillah”. Fatwa ini merupakan penjelasan atas pertanyaan Pre-siden Sukarno yang memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam.
ADVERTISEMENT
Tanggal 21-22 Oktober PBNU menggelar rapat konsul NU se Jawa – Madura. Hasilnya, keluar resolusi jihad sekaligus yang menguatkan fatwa jihad KH. Hasyim Asyari.
Fatwa resolusi jihad berisi: “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…”
Artinya resolusi jihad lahir dari sebuah semangat luar biasa dari tokoh agama (muslim) dan juga tokoh nasionalis/politik bangsa. Itu-lah kebersamaan yang sudah ditunjukkan oleh para pendiri bangsa.
ADVERTISEMENT
Kebersamaan tokoh agama dan tokoh politik, juga kita rasakan betul dari lahirnya Pancasila. Melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 menetapkan tanggal 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila. Kata Pancasila pertama kali diucapkan oleh Soekarno di sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945.
Pada perkembangannya, pada sidang PPKI disepakati Penghilangan tujuh kata dalam Piagam Jakarta yaitu Berdasarkan kepada Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diubah menjadi “berdasar atas ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
Disitu KH. Wahid Hasyim berusaha meyakinkan Ki Bagus Hadikusumo agar bisa menerima perubahan-perubahan. Jadi kehadiran KH. Wahid Hasyim pada detik-detik jelang perubahan sila pertama itu memiliki arti yang sangat penting dalam relasi Islam dengan agama-agama lain, maupun pada kaitannya dengan pengokohan nilai-nilai kebangsaan.
ADVERTISEMENT
Jadi, menjadi kebanggaan kita kepada para santri, adalah keikhlasannnya memberikan kontribusi bagi pertiwi. Para santri adalah aset bangsa ini, yang akan selalu mampu memberi warna keindahan dan kebersamaan dalam ke-Bhinneka-an.
Bersama kaum santri dan seluruh komponen masyarakat untuk mempererat persaudaraan, dan memperkuat tenun kain kebangsaan melalui pengamalan nilai-nilai Pancasila. Terhadap mereka yang anti Pancasila, bersama mari kita : Lawan.
Radikalisme dan terorisme masih menjadi ancaman nyata bagi Negara kita. Para santri harus ikut berperan serta untuk melawan aksi-aksi ini. Menolak ajara-ajaran yang menyesatkan. Belajar dengan sebaik-baiknya berbasis Pancasila dan NKRI serta berawawasan perdamaian dan kemanusiaan untuk persatuan negeri.
Jadi melalui pendidikanlah, mari kita putus mata rantai jaringan terorisme. Melalui pendidikan, kita perkuat persatuan dan kebersamaan untuk menghadapi setiap ancaman terhadap ke-Bhinnekaan bangsa. Dan, para santri harus menjadi teladan dalam penerapan nilai-nilai Islam yang Rahmatan lil Alamin, damai dan penuh budi pekerti.
ADVERTISEMENT
Mari kita kampanyekan gerakan anti narkoba dan tetap disiplin protokol kesehatan. Sebarkan informasi positif sebagai perlawanan terhadap hoaks. Budaya literasi, semangat gemar membaca juga harus terus dikembangkan agar tidak mudah percaya begitu saja terhadap informasi yang belum jelas kebe-arannnya.
Dalam hal menghadapi Revolusi industri 4.0 kini maupun bonus demografi, kita perlu mendorong dan menggerakkan para santri untuk terus meningkatkan keterampilan, kecakapan pada penguasaan teknologi, serta kreativitas dan inovasi. Ke depan semua akan serba digital, semua on line.
Life Skill
Tekad dan spirit menguasai teknologi itu penting agar kita mampu bersaing dengan Negara lain. Berani untuk memulai berwirausaha. Keberanian berwirausaha akan membentuk karakter menjadi santri mandiri, ulet dan berdaya saing tinggi.
ADVERTISEMENT
Kita masih ingat, Nabi Muhammad juga pengusaha hebat yang memulainya dari zero. Maka kemudian, merakayan Hari Santri tahun ini harus menjadi momentum peneguhan untuk mengokohkan semangat kaum muda menorehkan karya dan prestasi bagi negeri.
Yang harus para santri lakukan dalam era milenial sekarang ini, yaitu memiliki berbagai life skill yang mumpuni, seperti skill entrepreneur dan terampil dalam melihat peluang bisnis. Potensi pasar Indonesia yang sangat besar diiringi laju pertumbuhan ekonomi yang pesat serta menjamurnya start-up bisnis dari kalangan pemuda harusnya direspon juga dengan sigap oleh kalangan santri.
Santri zaman kini tidak cukup hanya berbekal ilmu pengetahuan agama saja, akan tetapi harus sukses juga dalam entrepreneur. Ayo para santri Indonesia, terus berkarya, berprestasi, inovatif dan kreatif. Upgrade terus skill yang kita punya. Jadilah Santri yang berkualitas, berintegritas, serta berakhlak mulia.
ADVERTISEMENT
Dengan kemampuan yang dimiliki, seorang santri harus mampu menyebarkan nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai ke-Islam-an, damai, ramah dan toleran serta nilai-nilai Pancasila kepada kawan dan masyarakat. Bangsa ini selalu menantikan inovasi dan peran santri yang mampu menorehkan sejarah bagi negeri ini.
Untuk itulah, pada kaum santri, mari kita kokohkan tonggak semangat Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Kita rapatkan barisan dan kuatkan persatuan kesatuan dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa kita ini. Sambil mengaji kitab suci, mari mengkaji berbagai persoalan negeri untuk mendapatkan solusi.
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white