News
·
21 April 2021 16:15

Reproduksi Toleransi Lewat Sekolah Tanpa Sekat

Konten ini diproduksi oleh Marjono
Reproduksi Toleransi Lewat Sekolah Tanpa Sekat (266441)
searchPerbesar
Ilustrasi sekolah international. Foto: Shutterstock
Toleransi hari ini sangat penting di tengah kemajemukan kehidupan masyarakat kita. Ke-Bhinnekaan ini menjadi kondisi nyata yang tidak terbantahkan dan harus mampu dikelola secara baik. Ketika keberagaman sebagai fitrah manusia itu mampu dikelola dengan baik, maka akan menjadi satu kekuatan hebat. Sebaliknya, kalau keberagaman itu tidak ter-manage dengan baik, maka berpotensi akan merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
ADVERTISEMENT
Sebagai bangsa yang sangat heterogen dengan 250 bahasa daerah dan 17.000 pulau, maka menjadi sangat penting untuk memantapkan wawasan kebangsaan, yang diawali dengan kesadaran bahwa Indonesia ini sangat beragam. Di negeri ini kita ditopang beragam suku/etnis, agama, dan budaya.
Kesadaran akan keberagaman ini sangat penting, karena sering kali persoalan, seperti intoleransi dan bullying, dipicu oleh sentimen kedaerahan atau primordialisme sempit dan kurang memahami makna keragamaan serta kemajemukan yang dimiliki bangsa ini.
Kesadaran akan keragaman bisa menjadi dasar bagi setiap warga negara untuk memupuk toleransi, hidup rukun, dan harmonis berdampingan secara damai dengan berbagai suku, budaya, dan agama yang berlainan.
Kerukunan dan menumbuhsuburkan semangat persatuan dan kesatuan serta kegotongroyongan sebagai modal kita bersama untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan bangsa. Golong giling membangun bangsa, sepi ing pamrih rame ing gawe.
ADVERTISEMENT
Tantangan berat kita saat ini adalah era keterbukaan informasi, yang muncul seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan memasyarakatnya internet. Sebagai gambaran, dari 272,1 juta penduduk Indonesia, sebanyak 175,4 juta di antaranya adalah pengguna internet, dan ada 160 juta pengguna media sosial.
Bahkan tercatat 338,2 juta smartphone terkoneksi atau 124% dari penduduk Indonesia. Melalui smartphone, informasi dari berbagai belahan dunia masuk tanpa terkendali. Siapa saja bisa tahu apa saja, belajar apa saja, berhubungan dengan siapa saja.
Jutaan informasi diserap setiap orang dari segala lapisan usia dan status sosial, melalui berbagai situs, baik media sosial Facebook, Instagram, Youtube, dll, tanpa sekat tanpa batasan dan tanpa dicerna. Anak muda dari Indonesia bisa tiba-tiba berkomunikasi intens dengan teman barunya dari berbagai belahan dunia tanpa filter dan pendamping.
ADVERTISEMENT
Padahal di dunia maya, banyak bertebaran hoaks, hasutan-hasutan kebencian, yang sering kali memicu konflik. Selain itu, juga berpotensi ditumpangi paham-paham radikalisme dan terorisme.
Kita harus waspadai, media penyebaran paham radikalisme sangat beragam, bisa pendekatan personal, forum diskusi, media publikasi, maupun internet. Sedangkan isu radikalisme disebarkan melalui doktrin ketidakadilan, perubahan ekonomi, ancaman internasional, dan pemahaman agama.
Ingat, salah (memilih) guru bisa salah arah. Ajaran ekstrimisme, radikalisme dan terorisme dalam banyak kasus bermula dari ajaran, guru dan referensi yang salah. Maka, penting bagi generasi muda untuk belajar kepada guru yang tepat (benar dan baik) serta tidak serta-merta menelan mentah-mentah informasi yang diterima. Teknologi informasi penting dan bagus, tapi harus hati-hati. Mungkin informasi yang didapatkan salah, atau bahkan mungkin juga sebuah propaganda.
ADVERTISEMENT
Memfilter
Guru bersama orang tua harus bisa memfilter dan memberikan referensi yang tepat bagi anak-anaknya agar memiliki banya perspektif, dan tidak terjerumus berguru pada orang dan ajaran yang salah. Kalau salah jalan kita bisa berbelok arah dengan mudah, tetapi kalau seorang anak salah guru, akan sangat susah untuk kembali ke pikiran dan ideologi yang benar.
Oleh karena itu, penting kita menanamkan sejak dini kepada anak-anak kita tentang jiwa nasionalisme, arahkan untuk berpikiran terbuka dan toleran, waspada terhadap provokasi, berjejaring dalam komunitas positif dan perdamaian, serta jalankan aktivitas keagamaan dengan toleran.
Bagi anak-anak yang sudah ada gejala berelasi dengan gerakan radikalisme, wajib segera kita berikan pemahaman tentang bahaya dan dampak radikalisme, seiring dengan pemahaman tentang ajaran agama yang benar serta penguatan nilai-nilai nasionalisme, toleransi, dan perdamaian. Berikan keteladanan tentang persaudaraan dan kerjasama dalam perbedaan.
ADVERTISEMENT
Seperti di Jawa Tengah, punya program sekolah tanpa sekat, yaitu suatu aktivitas pembelajaran yang terselenggara tanpa adanya diskriminasi dalam berbagai bentuk dan terdapat interaksi proses pembelajaran yang hangat dan menyenangkan. Sekolah harus menghilangkan faktor-faktor yang berpotensi menghambat terjadinya keengganan dari sebagian masyarakat dalam memperoleh layanan pendidikan. Melalui langkah tersebut, harapannya akan tercipta generasi toleran berkeindonesiaan.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020