Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.98.2
Konten dari Pengguna
Rojolele: 100 Persen Padi, 100 Persen Indonesia
4 Maret 2021 17:26 WIB
Tulisan dari Marjono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Padi maupun beras rojolele itu 100% padi 100% Delanggu 100% Indonesia. Komoditas padi satu ini sudah menjadi unggulan daerah sejak dulu. Apresiasi kita atas proses panjang bermula tahun 2013 dan kerja sama dan kerja keras Pemkab Klaten dengan Batan telah menghasilkan varietas turunan rojolele yaitu Rojolele Srinar dan Srinuk.
ADVERTISEMENT
Brand Rojolele Srinar diambil dari induknya Rojolele dari kata Sri (Dewi Padi) dan Nar dari potongan slogan Klaten BERSINAR sudah di lepas oleh Kementerian Pertanian pada tanggal 4 Januari 2021, sedangkan Rojolele Srinuk diambil dari induknya Rojolele ditambah Sri (Dewi Padi) dan Nuk dari kata Inuk yang berarti enak atau dapat diartikan INUK (Inovasi Nuklir Untuk Klaten) yang di lepas oleh Kementrian Pertanian pada tanggal 2 Juli 2020 dengan hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) terlampir.
Hari terakhir bulan Februari tahun ini, petani Delanggu menggelar seremoni panen dan wiwitan padi rojolele, yang berproduksi rata – rata 6,5 ton Gabah Kering Giling (GKG) semakin luas areal tanamnya. Meskipun kerap disampaikan beberapa kawan pada obrolan ringan, kalau nandur rojolele itu panennya lebih lama ketimbang varitas padi lainnya dan rentan hama dan penyakit, tapi tak pernah membuat sedulur tani di wilayah ini kapok menanamnya.
ADVERTISEMENT
Nalar petani di sini terus bertumbuh dan berinovasi, karena mereka sadar tak mau menjadi konsumen benih pabrikan selama ini. Sudah saatnya petani berdaulat dan rakyat hidupnya terangkat oleh label rojolele yang legendaris dalam dunia perpadian atau perberasan. Pada domain lain, pasar rojolele tetap digandrungi oleh rojolele minded di tanah air. Karena yang makan beras atau nasi rojolele itu bukan terbatas orang Jawa Tengah.
Target produksi padi Jateng pada tahun 2021 adalah 9.752.452 Ton setara beras 6.087.432 Ton. Proyeksi kebutuhan beras periode Januari-April 2021 sebesar 1.086.069 Ton. Perkiraan produksi padi periode Januari–April 2021 adalah 4.407.651 Ton Gabah Kering Giling (GKG) setara beras 2.751.234 Ton. Sehingga Provinsi poros pulau Jawa ini hingga April 2021 surplus beras 1.665.165 Ton (konsumsi perbulan adalah 268.165 Ton). Ke depan, harapannya semakin surplus. Bahkan Jateng pernah mengirim bantuan beras pada lokasi atau wilayah bencana hingga ke luar Jawa.
ADVERTISEMENT
Maka menjadi tugas bersama mengelola pertanian rojolele itu semakin naik kelas, karena di kampungnya, para tuannnya, petani mau berlelah-lelah merawat dan mengembangkan varietas ini. Jika kemudian, hadir merdeka belajar UNS di wilayah produsen padi rojolele ini tentu membuat gayung bersambut bagi petani atau warga di sini, karena mesti diakui selama ini komoditas padi rojolele di tanam petani lebih banyak mengandalkan ilmu titen. Ini menjadi cara petani meski nir literasi.
Merdeka belajar menjadi mitra petani maupun warga bahkan kaum muda atau milenial yang ingin belajar dan mengoptimalkan sektor pertanian padi khususnya, dan lebih spesifik lagi bisa menjangkau komoditas padi rojolele produktivitasnya semakin baik bahkan melampaui harapan. Melalui merdeka belajar inilah harapannya belajar pertanian tidak saja dilakukan dengan ilmu titen, tapi juga didukung dengan aktivitas pertanian modern yang lebih bersifat ilmiah dan professional.
ADVERTISEMENT
Maka kemudian budidaya rojolele tak menjadi kacamata kuda, artinya tak menutup pintu menjadi karya atau riset ilmiah yang bisa saja dipublikasikan dan diperoleh lewat catatan, buku, media masa, media elektronik maupun berbasis website dan android juga media lain. Ke depan kita punya mimpi sektor pertanian atau sekurangnya bertani rojolele menarik minat kaum muda ke dalam intimitas profesi petani modern.
Dengan narasi ilmiah yang mudah dipahami, ringan dan menghibur sekurangnya membuat petani rojolele, tak mati gaya. Dengan cara-cara ini, misalnya akan membuat pasar rojolele dan petaninya kian punya daya tawar dan kemedol. Hal ini bisa menjadi sejarah yang terus menyalakan api mimpi petani kita.
Turun Gunung
Merdeka belajar di bumi rojolele ini bakal menjadi ruang praktikum hebat bagi akademisi dan masyarakat untuk memberi perhatian kepada jalur pertanian, reorientasi pedesan dan pemusatan konsentrasi membiakkan vareitas maupun komoditas rojolele dari beragam sisi. Inilah jembatan akademik bagi rakyat yang merdeka. Pada kutub lainnya, merdeka belajar dan hamparan area pertanian padi rojolele juga mengedukasi anak-anak muda setempat untuk tidak memandang sebelah mata bahkan apriori terhadap potensi sektor pertanian pada umumnya.
ADVERTISEMENT
Best practice sudah disodorkan oleh petani muda, Sofyan Adi Cahyono yang mampu mengantongi penghasilan ratusan juta setiap bulan dengan mengandalkan pertanian sayur organik. Bentangan yang berbeda ini sekurangnya juga bisa turut mengubah mindset petani agar berani berinovasi.
Nilai lain yang ingin kita tegukkan di sini adalah bagaimana kalangan akademisi, termasuk dosen, mahasiswa dan alumni fakultas pertanian bahkan para elit di pusat-pusat kota di berbagai lembaga untuk turun gunung: memikirkan, memberi bantuan, melindungi dan menyelamatkan hingga mengembangkan pertanian yang pada ujungnya membawa kemajuan dan kesejahteraan petani. Reorientasi pertanian, gerakan kembali ke desa bukan bermakna sempit harus tinggal di pedesaan, tapi bisa menyumbang ide dan bertukar gagasan untuk kemuliaan petani dan pedesaan. Inilah cara lain memvaksin petani kita hari ini. Otak, mulut, tangan dan kaki kita wakafkan untuk mengukuhkan daulat petani dan kedaulatan pangan.
ADVERTISEMENT