Implementasi Limbah Botol Plastik dalam Campuran Beton Aspal

Matthew Jonathan
Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan
Konten dari Pengguna
1 September 2021 14:32 WIB
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Matthew Jonathan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Contoh aspal campuran limbah plastik, Kredit : Image by Larisa-K from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Contoh aspal campuran limbah plastik, Kredit : Image by Larisa-K from Pixabay
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Menyongsong Era Society 5.0 dengan jumlah sampah plastik sebesar 4,8 juta ton per tahun menjadi tanggung jawab Indonesia, khususnya generasi milenial dalam menanggulangi angka tersebut. Abdul Wahid Situmorang sebagai Teknikal Advisor Research Management UNDP Indonesia menyatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu dari sepuluh negara penyumbang sampah plastik terbesar setiap tahunnya. Namun, hidup di zaman sekarang adalah saatnya untuk berinovasi dan meninggalkan sistem kehidupan monoton seperti era sebelumnya. Sudah saatnya untuk mengolah sampah plastik menjadi sesuatu yang profitabel guna mengurangi jumlah angka tersebut. Salah satunya adalah mengimplementasikan sampah plastik menjadi bahan campuran beton aspal mengingat pembangunan jalan di Indonesia sedang memarak dan akan terus berlanjut hingga nanti.
ADVERTISEMENT
Industri logistik yang tumbuh pesat di masa pandemi menjadikan transportasi sebagai pemeran utama dalam sektor pergerakan komoditas. Faktanya pembangunan infrastruktur di bidang transportasi ini dapat dikatakan belum merata karena masih ada wilayah di Indonesia yang tidak memiliki konektivitas satu sama lain. Selain tidak adanya konektivitas, masalah eksternal dalam dunia transportasi di Indonesia adalah pembangunan jalan yang kurang memiliki kekuatan untuk menahan beban berat dan rentan terhadap faktor alam.
ADVERTISEMENT
Melihat kondisi jalan yang sering rusak tersebut dapat diatasi melalui pengubahan campuran aspal dengan cara menambahkan senyawa polimer sintetis yang terdapat dalam limbah botol plastik. Perlu diketahui sebelumnya bahwa pencampuran aspal keras dengan bahan aditif disebut dengan aspal modifikasi yang memiliki nilai mekanik lebih tinggi dibandingkan dengan aspal biasa.
Berdasarkan sebuah jurnal penelitian, plastik LPDE (Low Density Polyethylene) memiliki densitas rendah (0,91-0,94) gr/cm3 dan tidak reaktif dalam suhu kamar serta bahan kimia lainnya sehingga menjadikannya sebagai salah satu bahan aditif yang mampu menahan panas.
Pencampuran dilakukan dengan metode campuran aspal panas dan plastik dingin, di mana sampah plastik akan terlebih dahulu dibakar hingga meleleh sempurna lalu didiamkan sejenak hingga dingin. Kemudian setelah mencampurkan adonan dingin tersebut dengan aspal panas, hasilnya akan diuji terlebih dahulu menggunakan kriteria-kriteria minimal yang tersedia seperti pengujian penetrasi, daktilitas, dan viskositas sehingga diketahui bagaimana sifat mekanik dari aspal modofikasi tersebut. (Birahmatika, Eva, & Probo, 2019)
ADVERTISEMENT
Campuran polimer sintetis dalam limbah botol plastik dapat mengoptimalkan kualitas aspal dari segi kekerasan jalan. Parameter keras tidaknya suatu jalan diukur dari nilai stabilitasnya, yaitu kemampuan campuran aspal dalam menahan deformasi beban lalu lintas. Berdasarkan sebuah jurnal penelitian, nilai stablitias pada aspal modifikasi akan lebih tinggi apabila ditambahkan dengan campuran LPDE sebesar 4% (Dwi & Samsul, 2018). Anita & Rama (2013) menyatakan bahwa ada parameter lain yang dapat digunakan dalam mengukur keras tidaknya jalan, yaitu dari nilai VIM (void in the mix), dimana nilai VIM yang optimal terdapat dalam campuran PP sebesar 7%. Selain itu, mengimplementasikan limbah botol plastik ke dalam campuran aspal dapat menguntungkan dari segi ekonomis karena bahan dasar pembuatnya merupakan sesuatu yang tidak bernilai.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa limbah botol plastik yang memiliki identitas sebagai sampah belaka ternyata bisa dijadikan sesuatu yang bermanfaat, tergantung dari sisi mana kita melihat keberadaan sampah tersebut. Keberadaan sampah plastik yang selama ini mungkin ditafsirkan memorak-porandakan lingkungan, ternyata dapat dijadikan alternatif bahan aditif aspal modifikasi.
Perlu diingat juga sebagai generasi milenial yang akan menduduki kursi pemerintahan di masa depan, kita memiliki tugas untuk menjadikan Indonesia bebas dari sampah plastik dengan mengubahnya menjadi barang profitabel. Tidak hanya sekadar berinovasi, tetapi kita juga harus memiliki sebuah cara agar inventivitas sampah plastik dapat dikurangi atau dihilangkan sehingga Indonesia mampu “bernapas” dengan tenang. Akhir kata, Era Society 5.0 sudah menantikan adanya inovasi dari para kaum milenial dan mari bersama-sama merawat serta menjadikan Indonesia sebagai negara yang terbebas dari sampah plastik.
ADVERTISEMENT