part 10_square.jpg

Anak Kemenyan: Kematian Pak Manto (Part 10)

21 Maret 2020 16:22 WIB
comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi cerita horor Anak Kemenyan. (Foto: Masayu/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cerita horor Anak Kemenyan. (Foto: Masayu/kumparan)
ADVERTISEMENT
Ranting dipindahkan dari gudang ke kamar yang lebih layak. Ia juga sudah mulai bersekolah. Tidak ada sekolah khusus untuk anak-anak yatim. Mereka bergabung dengan SD yang letaknya tidak jauh. Mungkin hanya sepelemparan batu dari gerbang asrama panti asuhan.
ADVERTISEMENT
Di sekolah itu, Ranting berbeda dengan anak-anak lainnya. Kecerdasannya melampaui anak seusianya. Dia bahkan sudah bisa membaca dan menulis sebelum diajarkan gurunya. Para guru di sana memaklumi. Mereka mengira ada yang mengajarkan Ranting di panti, padahal kenyataanya Ranting tidak pernah belajar pada siapa pun.
Ia pintar di segala bidang, termasuk berhitung, Rantinglah yang paling jago. Semua soal di papan tulis pasti ia yang maju ke depan kelas untuk menyelesaikannya. Sampai-sampai guru tidak mengizinkan Ranting lagi untuk maju agar memberi kesempatan pada siswa lain.
Belakangan ini Ranting masih mencari cara untuk membunuh Pak Manto. Lelaki itu tidak tinggal di kompleks panti asuhan, melainkan terpisah. Rumahnya cukup jauh. Setiap habis kunjungan ke panti, Ranting melihat kalau laju mobil Pak Manto ke arah timur.
ADVERTISEMENT
Tidak kuat rasanya. Ranting ingin sekali menghabisi lelaki itu.
“Ranting! Ranting!”
Bu Dilah membuyarkan lamunan Ranting. Ini masih jam pelajaran. Tapi, pikiran Ranting merayap ke mana-mana.
“Coba kamu kerjakan soal di papan tulis!” pinta Bu Dilah, guru Matematika.
Ia sudah beberapa kali meminta murid lain mengerjakan soal. Tapi semuanya salah. Sengaja Ranting diminta mengerjakan. Sebab, Bu Dila melihat anak itu selalu melamun dari pagi. Ada dua puluh murid di kelas itu. Ranting duduk di bangku paling belakang.
Ranting melangkah maju. Ia mencomot sebatang kapur yang tinggal setengah dari tangan Bu Dila. Di papan tulis, ada sebuah soal sederhana tentang pengurangan. Dengan mudah Ranting menyelesaikannya. Bu Dila menganggukkan kepala saat melihat jawaban Ranting.
ADVERTISEMENT
“Ya, bagus. Tepuk tangan buat Ranting dong,” kata Bu Dila sambil tersenyum.
Ranting diminta kembali ke tempat duduknya. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara menggema di kepalanya.
“Ranting!” itu suara seorang wanita.
Tidak lama berselang, perutnya mual. Seperti ada sesuatu yang memaksa untuk keluar. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan. Ia lalu lari keluar kelas menuju toilet sekolah.
“Ranting. Kamu kenapa, Nak?” tanya Bu Dila sesaat sebelum Ranting pergi.
Ia mengunci pintu toilet. Wajahnya merah dan berkeringat. Perutnya terasa sangat mual. Tapi, belum ada apa pun yang keluar dari perutnya. Ranting meraba perutnya hingga menyentuh sesuatu yang terasa aneh. Seperti ada butiran batu sebesar bola bekel di dalam perutnya.
ADVERTISEMENT
Ranting panik. Ia lalu memijat perutnya dengan sekuat tenaga. Ia mencoba untuk mengeluarkan batu-batu itu. Dari luar terdengar suara Bu Dila memanggil namanya. Perempuan itu mengetuk-ngetuk pintu toilet.
“Ranting kamu sakit ya, Nak? Ranting!”
Ranting tak menjawab. Akhirnya ia muntah. Namun, yang keluar bukan makanan atau cairan, tapi malah batu-batu kemenyan. Ranting heran kenapa ia memuntahkan batu-batu kemenyan. Ia lalu membuang bebatuan itu ke dalam tong sampah di sudut ruangan toilet.
“Ranting baik-baik aja kok, Bu,” jawab Ranting sambil membasuh wajahnya.
Ia menghadap cermin kecil di dinding. Namun, ia kemudian sangat terkejut. Ada sosok kuntilanak di belakangnya.
“Ibu!” bisik Ranting.
***
Pagi itu mobil Pak Manto memasuki halaman panti. Ranting melihatnya dari kejauhan. Raut wajahnya seketika marah. Ranting masih ingat kejadian yang menewaskan temannya itu. Setelah Pak Manto beranjak pergi dari mobilnya, Ranting buru-buru berlari mendekati mobil itu.
ADVERTISEMENT
Ia mencoba membuka pintu mobil Pak Manto. Seketika wajah Ranting sumringah lantaran pintu mobil itu lupa dikunci. Sebelum pintu terkunci otomatis, Ranting sudah berada di dalam. Ia berbaring di bawah kursi baris kedua. Sesaat kemudian suara 'cekrek' terdengar, tanda pintu sudah terkunci.
Sekitar dua jam Pak Manto akhirnya kembali ke mobil. Ia tidak mencurigai apa pun. Ia menyalakan mesin mobil dan pergi dari halaman panti. Di perjalanan, sebuah radio dinyalakan. Ia mendengarkan musik dangdut kesukaannya.
Sesekali kepalanya mengangguk-angguk dan menirukan sang vokalis bernyanyi. Mobil yang ia kemudikan melintasi pertokoan lalu masuk ke perkebunan. Jalanan semakin menanjak. Sekarang Pak Manto dapat melihat permukiman warga dari sana. Ia sedang berada di perbukitan. Jalanannya sepi, namun ia tetap mengemudi dengan kecepatan stabil.
ADVERTISEMENT
Tepat di sebuah tikungan jalan, tiba-tiba Ranting muncul dari kursi belakang. Hal itu membuat Pak Manto terkejut. Ranting loncat ke arah Pak Manto. Anak itu menutup pandangan Pak Manto dengan tubuhnya yang mungil.
Mobil oleng, lajunya tidak beraturan. Tak lama, mobil itu akhirnya menabrak trotoar di tikungan. Nahas, mobil itu pun terjerembab masuk ke dalam jurang.
Bukit itu sangat tinggi. Butuh waktu beberapa detik agar mobil menyentuh permukaan jurang yang penuh bebatuan. Selama mobil itu mengudara, Ranting sempat melihat wajah Pak Manto yang ketakutan. Sementara Ranting sendiri malah tertawa kecil sambil menyentuh wajah Pak Manto.
“Mati!” bisik Ranting.
Mobil terjun menghantam bebatuan dan meledak begitu saja. Api menyembur ke langit, asap membubung. Mobil itu hangus terbakar. Mendengar suara ledakan, warga di sekitaran bukit langsung menyemut di lokasi kejadian.
ADVERTISEMENT
Kecelakaan itu malah jadi tontonan menarik. Kemudian, dari dalam kobaran api itu, Ranting keluar. Bajunya compang-camping sebagian hangus terbakar. Wajahnya hitam kena kepulan asap. Dia keluar sambil tersenyum puas.
"Lihat dia masih hidup. Ajaib!"
Warga heran melihat kejadian itu.
***

Satu Bulan Kemudian

“Dia anak yang paling pintar di sini,” seorang perempuan pengasuh panti menyentuh pundak Ranting.
“Hai, nama kamu siapa?” tanya seorang wanita berpakaian seperti sosialita.
Rambut wanita itu sebahu. Jari manis sebelah kanannya mengenakan cincin berlian. Dari perawakannya, jelas kalau wanita itu keturunan Tionghoa.
“Ranting,” senyumnya mengembang.
Wanita itu mengelus rambut Ranting.
“Wah bonekanya bagus, ya?”
“Iya ini pemberian orang tuaku dulu.” Perlahan dan ragu-ragu Ranting menyentuh wajah wanita itu. “Kau mirip ibuku,” lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Wanita itu menghela napas. Ia lalu mengajak suaminya dan pengasuh panti untuk diskusi.
“Aku mau adopsi Ranting, Pah.”
Suami wanita itu tersenyum. Begitu pun pengurus panti.
***
Jauh dari panti asuhan Bening Kasih, Intan menjadi masalah di rumah sakit jiwa. Ia kerap mencelakai orang-orang yang tidak disukainya. Bahkan, tanpa ada orang yang tahu, suster yang merawatnya dengan penuh kebencian telah Intan bunuh. Intan telah meracuninya menggunakan pembersih kloset. Dengan pintar, ia merekayasa seolah-olah itu adalah bunuh diri.
Intan dan Ranting sama-sama terlahir dari batang pohon kemenyan. Dan, mereka punya ibu gaib, yaitu kuntilanak. Mereka selalu diawasi dan dilindungi ke mana pun mereka pergi.
Lalu, kalau kalian bertemu dengan mereka berdua, apa yang akan kalian lakukan?
ADVERTISEMENT
SELESAI
___
Nantikan cerita horor selanjutnya dari Mbah Ngesot. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten