Part 12 Square.jpg
10 Mei 2020 16:39

Bekas Rumah Sakit: Kematian Massal (Part 12)

Bekas Rumah Sakit: Kematian Massal (Part 12) (609600)
Ilustrasi cerita horor Bekas Rumah Sakit. Foto: Masayu Antarnusa/kumparan
Sore hari, Pak Lukman si penjaga kamar mayat sedang sibuk menerangkan prosedur bekerja pada Mamat, seorang karyawan baru. Minggu kemarin, salah satu rekan kerja Pak Lukman mengundurkan diri, alasannya sederhana; dia tidak kuat diganggu oleh setan di kamar mayat itu. Tenaga penjaga kamar mayat semakin berkurang, untuk itu Pak Lukman meminta pihak rumah sakit agar merekrut karyawan baru.
ADVERTISEMENT
Mamat ini umurnya masih muda, baru 23 tahun. Dia memperhatikan penjelasan Pak Lukman dengan serius. Selang beberapa menit, seorang mayat korban pembunuhan masuk ke dalam ruangan. Pak Lukman tersenyum lantaran ia bisa mencontohkan tata cara bekerja di kamar mayat pada Mamat secara langsung.
“Nanti malam kamu yang berjaga di sini, ya. Ingat harus sesuai prosedur,” kata Pak Lukman setelah selesai mencontohkan cara kerja pada Mamat.
“Siap, Pak.”
“Saya harap kamu betah kerja di sini. Intinya jangan penakut kalau ada apa-apa cuekin aja.”
“Beres, Pak.”
Mamat tahu menjadi penjaga kamar mayat bukanlah pekerjaan yang mudah. Pasti ada saja gangguan makhluk gaib yang akan ia alami, tapi Mamat bukan pribadi yang penakut. Dia malah suka dengan pekerjaan yang menantang seperti ini.
ADVERTISEMENT
***
Malamnya, ia berjaga seorang diri. Balum ada mayat lagi yang datang, semua mayat sudah dimasukkan ke dalam kulkas. Mamat bersantai di meja kerjanya sambil main gim di hp-nya. Tidak lama kemudian, ia ingin buang air kecil.
“Sialan,” Mamat berdecak kesal lantaran malas beranjak dari tempat duduknya.
Toilet di kamar mayat itu sedang rusak jadi dia harus menggunakan toilet gedung seberang yang jaraknya cukup jauh.
Dengan malas ia berdiri dari duduknya, tapi sesaat sebelum pergi dia melihat sesuatu yang aneh di lantai. Sebuah triplek berbentuk segi empat tergeletak di lantai, tampak mencurigakan. Mamat mengangkat triplek itu lalu menemukan sebuah lubang misterius.
“Lubang apa, nih?”
Mamat menyalakan senter hp-nya, mengarahkannya ke dalam lubang.
ADVERTISEMENT
“Ah, bodo amat. Meningan gua kencing di sini aja. Udah kebelet banget.”
Ia mengencingi lubang misterius itu tanpa tahu kalau itu adalah sarang setan. Setelah puas kencing, tubuhnya bergidik geli lalu menutup kembali lubang itu dengan triplek. Malam itu, tidak ada apa pun yang terjadi pada Mamat. Semua berjalan baik-baik saja hingga jam tugasnya selesai.
Tapi tunggu dulu, setelah Mamat kencing ke dalam lubang, besoknya ia tidak terlihat bekerja lagi. Kabarnya Mamat sakit parah, penyakitnya aneh mungkin tidak pernah dialami oleh manusia di belahan dunia mana pun. Bayangkan saja, kelamin Mamat bengkak sebesar buah semangka.
Semua orang yakin kalau Mamat ini pasti diguna-guna atau bisa jadi kualat. Dua hari kemudian ia tewas dengan mengenaskan, kelaminnya pecah. Darah bercampur nanah membanjiri tempat tidurnya.
ADVERTISEMENT
Tidak sampai di situ, akibat perbuatan Mamat, semua makhluk halus di rumah sakit itu marah besar. Banyak petugas rumah sakit yang kesurupan, pasien satu persatu mati secara tiba-tiba.
***
“Kita harus segera pergi dari rumah sakit ini, sayang.”
“Nggak, kita harus selesaikan tugas ini,” Aini jelas menolak.
“Ada yang nggak beres sama rumah sakit ini. Banyak kematian yang nggak wajar. Aku harus cari tahu,” sambung Aini.
Saat jam istirahat, mereka berdua duduk di kursi panjang di depan ruang rawat inap. Kebetulan malam itu Angga dan Aini sedang shift malam.
“Sayang, dengarkan aku. Kita ini cuma mahasiswa yang lagi tugas praktik. Jadi jangan sesekali ambil risiko buat ngelakuin hal yang bukan tugas kita,” Angga menatap wajah pacarnya.
ADVERTISEMENT
“Bagiku ini bukan hanya sakadar tugas kuliah, tapi ini juga tentang nyawa manusia,” Aini tetap keras kepala.
Angga menyerah, ia mengembuskan napas berat lalu tertunduk.
“Kamu jangan khawatir. Kita pasti baik-baik aja, kok," Aini menyentuh pundak Angga.
“Dok! Dokter tolong suami saya, Dok!” tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dari dalam ruang rawat inap.
Aini dan Angga buru-buru masuk ke ruangan itu untuk memeriksa. Di dalam sana, seorang lelaki paruh baya sedang kejang-kejang, matanya melotot ke atas, tubuhnya kaku dan bergetar, istrinya panik sambil menangis.
“Dok anak saya juga!” belum selesai sang dokter memeriksa pasien, sudah ada lagi yang kejang-kejang.
“Angga tolong panggilkan dokter lainnya, ya,” pinta dokter pada Angga.
ADVERTISEMENT
“Dok! Tolong Ibu saya juga, Dok! Ini kenapa?” tiga pasien kejang-kejang secara misterius.
“Dok! Tolong Bapak saya juga!”
Semakin lama semua pasien yang sedang di rawat di ruangan itu mengalami kejang-kejang. Hanya ada tujuh dokter dan beberapa orang perawat yang bertugas malam itu, mereka semua kewalahan menangani pasien. Selang beberapa menit, tidak ada satu pun pasien yang selamat. Ada 25 pasien di sana dan semuanya mati.
___
Nantikan cerita Bekas Rumah Sakit selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini: