Part 14 Square.jpg
12 Mei 2020 13:55

Bekas Rumah Sakit: Pencarian (Part 14)

Bekas Rumah Sakit: Pencarian (Part 14) (32304)
searchPerbesar
Bekas Rumah Sakit. Foto: Masayu/kumparan
Belakangan ini, Aini selalu bermimpi didatangi sosok lelaki yang bernama Arwani. Anehnya ia bukan hanya melihat dokter Arwani dalam mimpi itu, tapi juga ibunya. Aini yakin kalau mimpi itu bukanlah sekadar bunga tidur, tapi merupakan sebuah petunjuk. Lagi pula, dokter Arwani pernah menyelamatkannya dari lubang setan itu. Siapa tahu, dokter itu juga bisa membantu Aini menemukan Angga.
ADVERTISEMENT
"Bu, Aini mau tanya?"
Aini membuka obrolan, ia dan ibunya sendang memasak di dapur.
"Iya, Nak. Oya si Angga sudah ketemu?"
"Belum, Bu. Justru itu aku mau tanya, apakah ibu kenal sama dokter Arwani?"
Bu Hani yang dari tadi sibuk memotong bawang merah tiba-tiba berhenti. Ia mengembuskan napas berat seperti ingin mengatakan sesuatu. Pisau yang ia pegang diletakkan di atas meja. Ia lalu menyentuh pundak Aini dan menatapnya.
“Mungkin ini saatnya kamu tahu yang sebenarnya.”
Bu Hani menceritakan semuanya. Tentang ibu dan ayah kandungnya Aini. Selama ini yang Aini tahu ayahnya sudah meninggal dari sejak ia kecil. Awalnya, Aini tidak percaya kalau dokter Arwani adalah ayah kandungnya, akan tetapi Bu Hani menunjukkan sebuah berkas yang tidak lain adalah kartu keluarga milik dokter Arwani. Di sana tertulis juga nama Aini. Selain itu, ia juga menunjukkan foto-foto lawas keluarga dokter Arwani. Melihat bukti-bukti itu, tangis Aini pecah.
ADVERTISEMENT
Ia pergi dari hadapan Bu Hani. Segera Aini menyalakan mesin motor lalu tancap gas menuju rumah sakit yang sudah ditutup. Bu Hani tidak sempat mengejar, ia hanya bisa berteriak memanggil Aini yang kian menjauh.
Aini tidak mempedulikan Bu Hani, ia tetap melaju dengan sepeda motornya sambil terisak menangis. Setibanya di rumah sakit, ia bertemu dengan Bu Ruslah yang pernah bekerja sebagai petugas kebersihan di rumah sakit itu.
“Kamu mau ke mana, Mbak?”
“Cari Angga, Bu.”
“Belum ketemu juga, ya?” dahi Bu Ruslah berkerut.
“Belum, Bu.”
Bu Ruslah tertunduk, ia seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Begini, Mungkin saya bisa bantu.”
“Serius, Bu.”
Bu Ruslah mengangguk.
“Saya yakin Angga diculik setan rumah sakit ini,” lanjutnya.
ADVERTISEMENT
“Terus sekarang saya harus bagaimana, Bu?”
“Ikut saya ke rumah. Suami saya seorang dukun, dia pasti bisa bantu masalahmu.”
Tanpa menolak, Aini langsung pergi bersama Bu Ruslah. Rumahnya cukup jauh, sekitar satu setengah jam dari rumah sakit. Sempat tiga kali terjebak macet, Aini akhirnya sampai di rumah Bu Ruslah. Rumahnya sangat sederhana, dindingnya terbuat dari triplek dan lantainya sudah banyak yang pecah.
“Nah Mbak. Ini rumah saya. Maaf berantakan.”
“Ah, nggak apa-apa, Bu. Suami ibu di mana, ya?”
“Oh, dia di kamar. Mari sini, Mbak,” Bu Ruslah menarik lengan Aini untuk masuk ke dalam kamar.
Aini sempat terkejut melihat kondisi suami Bu Ruslah. Lelaki itu terbaring di atas kasur butut dengan keadaan tanpa tangan dan kaki. Ternyata suami Bu Ruslah itu cacat, sebisa mungkin Aini berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
ADVERTISEMENT
“Ayah, ini ada tamu yang mau ketemu,” sapa Bu Ruslah dengan ramah pada suaminya.
Ia membantu suaminya untuk bangun, tubuh itu ia sandarkan pada dinding triplek. Suasana kamar semakin pengap dan panas, Bu Ruslah menyadari itu. Ia lalu membuka jendela kamar agar Aini tidak kepanasan.
“Mohon maaf, Mbak. Rumah saya memang panas.”
“Oh, nggak apa-apa Bu.”
“Kenalkan ini Pak Sidik suami saya. Dia sudah biasa bantu orang, Mbak. Suami saya ini walau cacat, tapi punya kekuatan gaib.”
Aini mengangguk saja, apa salahnya dicoba.
“Lalu, apa yang harus saya lakukan, Bu?”
Bu Ruslah menjelaskan apa yang sedang terjadi pada pacarnya Aini. Sesekali Pak Sidik mengangguk.
“Pacarmu itu masih hidup, tapi sekarang ada di alam jin.”
ADVERTISEMENT
“Dia masuk ke lubang setan, Pak,” potong Aini.
“Iya, itu pintu masuk ke alam jin.”
“Tapi, kamu tenang saja. Dia masih bisa diselamatkan. Ruslah, tolong ambilkan kembang dan lima buah sarung di dalam lemari.”
“Ini, Yah,” tanpa dibacakan mantra apa pun, lelaki itu menyuruh istrinya untuk menyerahkan kembang itu pada Aini.
“Nanti malam kau taburkan kembang ini di kamar mayat.”
Aini menerima kembang yang dibungkus dengan plastik transparan, Pak Sidik lalu menyuruh istrinya untuk menyobek-nyobek kain sarung dan menguntainya menjadi tali.
“Setelah lubangnya terlihat. Kau masukkan tali ini ke dalam lubang. Tarik sekuat tenaga, nanti bisa dibantu Ruslah.”
“Ba... baik, Pak," kata Aini. Ia menurut saja.
Setelah selesai, Aini pamit. Ia menyerahkan uang 200 ribu rupiah, tapi ditolak. Pak Sidik bilang, kalau Angga sudah berhasil ditemukan baru Aini boleh memberinya imbalan.
ADVERTISEMENT
***
Tepat jam 12 malam, Aini dan Bu Ruslah mengendap masuk ke halaman rumah sakit dengan membawa kembang tujuh rupa dan tali yang terbuat dari kain sarung. Mereka berhasil mencungkil pintu kamar mayat. Saat menaburkan kembang tujuh rupa, tidak ada mantra yang Aini baca.
Ajaibnya setelah selesai tabur bunga, mereka melihat lantai di hadapannya bergerak seperti genangan air. Dan perlahan membentuk lubang segi empat, Bu Ruslah dan Aini segera memasukkan kain itu ke dalam lubang. Beberapa saat kemudian, tali itu kencang seperti ada yang menariknya dari dasar lubang.
“Tarik yang kuat, Mbak!” pinta Bu Ruslah, ia berada di posisi paling depan dekat dengan lubang.
Aini berteriak, mengeluarkan semua kemampuannya. Namun, tarikan dari dalam lubang terlalu kuat membuat Bu Ruslah tersungkur dan masuk ke dalam lubang.
ADVERTISEMENT
“Bu Ruslah!” teriak Aini.
Keringat membasahi wajah Aini. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Aini menarik tali itu, kedua kakinya sempoyongan. Lalu ia juga terseret dan masuk ke dalam lubang. Tidak sampai ke dasar lubang, tubuh Aini tersentak, kakinya seperti berpijak pada pundak seseorang.
“Bertahanlah, Nak!” itu suara dokter Arwani.
Ia berdiri sambil meringis menahan tubuh Aini. Di sekeliling dokter Arwani banyak makhluk aneh menyeramkan. Mereka bertaring dan berambut gondrong acak-acakan. Jelas makhluk-makhluk itu adalah setan jahat penghuni rumah sakit. Wajah Arwani diraba-raba oleh makhluk di dalam lubang, kuku mereka hitam dan panjang.
“Ayah....”
Desis Aini sambil memandangi dokter Arwani yang kesulitan menopang tubuhnya. Aini menangis ketakutan.
ADVERTISEMENT
"Aku takut, Yah...," kata Aini. Air matanya menetes jatuh ke pipi dokter Arwani.
Nantikan cerita Bekas Rumah Sakit selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
Si Manis Jembatan Ancol menjadi salah satu kisah misteri yang melegenda. Namun, kisah lain tak kalah seram. Simak kisah-kisah mencekam lain di collection ini dan jangan lupa subscribe untuk dapat notifikasi story terbaru.