Entertainment
·
15 Mei 2020 13:12

Ilmu Begal: Kampung Begal (Part 2)

Konten ini diproduksi oleh
Ilmu Begal: Kampung Begal (Part 2) (38667)
Ilmu Begal. Foto: Masayu Antarnusa
Perkebunan karet tempat Jamal bekerja memang terkenal angker. Pemilik perkebunan sudah berkali-kali mengganti pegawainya lantaran mereka tidak sanggup menghadapi gangguan makhluk halus yang mereka sebut jurig. Lain halnya dengan Jamal, demi menghidupi istrinya ia memberanikan diri bekerja di perkebunan itu.
ADVERTISEMENT
Si pemilik perkebunan memang menyediakan tempat tinggal berupa rumah panggung. Di belakang rumah itu ada sumur yang airnya harus ditimba secara manual. Sudah satu tahun Jamal dan istrinya tinggal di sana. Memang terkadang ada saja gangguan makhluk halis yang mengusik rumah mereka.
Jamal juga pernah mendengar suara wanita menangis tengah malam dan suara lelaki minta tolong. Ia bahkan pernah melihat langsung penampakan jurig. Wujudnya menyerupai wanita berambut panjang dan berjubah putih.
Tapi, Jamal dan Nurimah sudah terbiasa dengan semua itu. Satu hal yang mereka tidak tahu kalau jurig itu sudah lama mengincar jabang bayinya Nurimah. Dari semenjak ia hamil, jurig selalu mengintainya. Setiap malam ia hinggap di atap rumah Nurimah.
ADVERTISEMENT
Saat Jamal pergi meninggalkan istrinya, itu kesempatan jurig untuk menculik bayi, entah akan diapakan bayi itu. Yang jelas, sekarang Nurimah terkapar tidak sadarkan diri di atas kasur bututnya. Bokongnya basah oleh air ketuban yang bercampur darah. Itu adalah malam yang berat bagi Nurimah, dia harus kehilangan bayi sekaligus suaminya.
Jendela kamarnya terbuka lebar, angin malam masuk ke dalam kamar, menyapu anak rambut Nurimah. Lampu canting berayun tertiup angin lalu padam, ruangan itu seketika gelap gulita. Dari ruang tamu, terengar langkah kaki berlarian seperti anak-anak kecil yang sedang bermain.
Pintu kamar Nurimah berderit, ada seseorang yang kembali membuka pintu. Dua tuyul melongokkan kepalanya dari balik pintu, hidungnya mengendus-endus. Mereka tertawa kecil, giginya yang tajam seperti gergaji terlihat jelas. Mereka masuk ke dalam kamar lalu dengan lahap menjilati darah kental di selangkangan Nurimah.
ADVERTISEMENT
Tidak sampai di situ, tuyul itu juga menggerayangi tubuh Nurimah, mereka menghisap darah melalui dada Nurimah. Perlahan mata Nurimah terbuka, sekelilingnya gelap. Ia berteriak saat merasakan ada sesuatu yang menggerayangi tubuhnya. Dua tuyul itu berhamburan melompat keluar jendela, mulutnya penuh dengan bercak darah. Dada Nurimah terluka parah, darah tidak henti mengucur, ia bisa-bisa mati karena pendarahan.
Sedangkan di tengah jalan, Jamal terkapar tewas. Belum ada satu kendaraan pun yang melintas di sana. Mereka pasti sudah tahu kalau jalur ini adalah jalur merah yang rawan pembegalan. Hal iru memang benar, setidaknya dalam satu bulan ada satu kasus pembegalan sana.
Dari kejauhan, seekor anjing mendekat ke arah mayat Jamal. Mungkin saja ia mencium bau amis. Anjing itu menjilati rambut Jamal lalu menggong-gong di tengah malam, tapi tidak ada seorang pun yang mendengarnya. Anjing itu kemudian pergi meninggalkan mayat Jamal.
ADVERTISEMENT
***
Keesokan paginya, tiga teman Abe yang membantu aksinya semalam berkumpul di beranda rumah Abe. Mereka disuguhkan kopi hitam dan sepiring pisang goreng. Motor hasil begal semalam terparkir di depan rumahnya.
“Motor tua, Be,” kata Lala.
“Ya mau gimana lagi. Kita dapatnya motor itu, sekarang udah jarang banget orang yang lewat di sana.”
Dua rekan lainnya mengangguk.
“Kita jual hari ini saja,” tambah Abe, mulutnya masih mengunyah pisang goreng.
“Palingan laku dua juta.”
“Nggak apa-apa. Lumayan kan uangnya buat kita pesta.”
Tidak lama kemudian, suara motor sport terdengar mendekat. Abe dan teman-temannya berdiri, seorang lelaki tampan dan berkulit putih turun dari motor.
“Wih! Gila keren banget Kak motornya,” sambut Abe pada Iwan, kakak kandungnya sendiri.
ADVERTISEMENT
“Iya dong.”
Ngebegal di mana?” tanya Lala sambil tersenyum.
“Biasa di jalan arah ke kota.”
“Berapa orang ngebegalnya, Wan?” tanya teman Abe.
“Gua doang sendiran,” mereka semua tepuk tangan sambil berdecak kagum.
“Yang punya motornya lu apain, Kak?” Abe penasaran.
Iwan membentuk jarinya seperti pistol lalu mendekatkan jari itu ke kepalanya.
“Praktis, ya,” timpal salah satu teman Iwan.
“Iya ngapain ribet-ribet yang penting dia mati dan motornya jadi milik kita.”
“Oya, gua punya kerjaan bagus buat kalian,” tambah Iwan.
“Apa, Kak?” Abe penasaran.
Ngerampok. Gua punya target rumah orang kaya.”
"Wah, kalau ketangkap bisa mati kami, Kak," Abe seperti akan menolak tawaran kakaknya.
"Kalian tenang saja, rumah ini aman dan jauh dari perkampungan," Iwan meyakinkan mereka.
ADVERTISEMENT
Abe dan teman-temannya terlihat seperti sedang mempertimbangkan tawaran Iwan.
"Boleh deh, Kak. Tapi, dijamin aman, ya," Abe akhirnya mengiyakan ajakan kakaknya. Sementara temannya manut saja.
Kampung tempat tinggal Abe memang terkenal sebagai kampung begal. Ada segelintir warganya yang berprofesi sebagai pembegal motor, itu semua mereka lakukan karena urusan perut. Sudah ada beberapa orang yang masuk penjara bahkan ada juga yang mati dibakar massa saat beraksi. Tapi, Abe dan kakaknya sudah sangat ahli. Aksi mereka selalu berjalan dengan baik. Polisi belum bisa membongkar kejahatan mereka.
***
Sementara itu, di pagi yang sama. Banyak orang berkerumun mengelilingi mayat Jamal. Salah satu dari mereka merupakan teman dekat Jamal, tapi ia tidak berani menyentuh mayatnya karena takut disalahkan.
ADVERTISEMENT
Dari kejauhan terdengar sirine mobil polisi mendekat. AKBP Ferdi dan dua anak buahnya turun dari mobil, kerumunan seketika terbelah. Mereka memberikan jalan untuk para polisi itu. Ferdi mengenakan sarung tangan silikon, ia menyentuh parang yang masih tertancap di perut Jamal. Dilihatnya pada gagang parang tersebut ada sebuah nama.
“Abe,” ucap Ferdi pelan.
Ferdi kemudian bangkit lalu menoleh pada anak buahnya.
“Semuanya bersiap. Kita berburu malam ini,” kata Ferdi, tatapannya tajam dan penuh dendam.
Nantikan cerita Ilmu Begal selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini: