Kumparan Logo
GHOST.jpg

Kenangan Masa Kecil: Hidup dengan Indera ke Enam

Mbah Ngesot

Mbah Ngesot

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
ilustrasi
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi

Apa lo percaya sama setan? Demit? Kuntilanak? Jin? Dan kawan-kawan lainnya. Gue yakin jawaban kalian adalah tidak, lagian siapa juga yang mau percaya sama hantu. Sebagai manusia modern haram hukumnya percaya sama hantu, hari gini, orang sudah bolak-balik ke luar angkasa masih saja percaya klenik model gitu. Kurang lebih gitu kan yang ada di pikiran kalian semua, gak perlu gak enakan. Bilang saja.

Kalo saja gue normal kayak kalian mungkin gue akan menjawab hal yang sama, pikiran logis gue menjerit-jerit tiap kali dengar hal-hal yang ghaib dan tidak masuk akal. Tapi sekeras apapun logika gue menjerit, tetep saja bakal kalah sama kenyataannya. Semenjak kecil gue berbeda dengan orang kabanyakan, kalo kata kakek gue mata gue ini terang banget sampai-sampai bisa liat yang semua orang tidak bisa, indigo kalo sebutan orang sekarang. Tentunya punya indera keenam ini tidak ada enaknya, kadang gue merasa capek tiap kali ada makhluk halus yang sadar gue bisa liat mereka dan mulai bergentayangan di sekeliling gue.

Tapi sekarang gue udah mulai terbiasa dengan kehadiran mereka, malahan sekarang kemampuan gue ini berguna banget buat temen-temen gue. Dengan mudah gue bisa menunjuk sudut mana aja yang angker di rumah temen dan kantor gue, jadi mereka bisa agak hati-hati lagi. Di antara semua suka duka jadi orang indigo, ada satu pengalaman terburuk buat gue. Kejadian itu terjadi saat gue masih kecil, umur lima tahunan kalo gak salah. Titik balik di mana akhirnya gue sadar apa yang gue biasa liat tidak bisa diliat orang lain, dan sebagian besar teman-teman gue saat itu ternyata gak kasat mata.

Ketika itu gue lagi liburan bersama keluarga ke Purwokerto, berangkat pagi-pagi sekali dengan konvoi tiga mobil yang berisi keluarga gue dan bibi gue. Sebenernya gak hanya mau liburan saja saat itu, tapi juga menghadiri pernikahan salah satu saudara gue yang diadakan di kota itu. Mobil yang membawa rombongan sampai di sana malem, bokap yang bawa mobil langsung membelokan mobil ke hotel yang memang udah kita pesen sebelumnya untuk bermalam. Namanya hotel Anggrek, meski bangunan lama tapi sudah mengalami pemugaran beberapa kali jadi terkesan nyaman.

Ketika sampai di loby, gue bersama bibi dan nyokap menunggu di sofa besar disaat bokap dan paman gue mengurus keperluan check in. Gak perlu waktu lama kami semua sudah bisa menempati kamar yang disediakan. Rencananya bokap dan gue akan satu kamar di kamar 202, gak lama setelah masuk kamar tiba-tiba tante gue datang ke dalam kamar. Dia ternyata pengen tidur di kamar itu bersama bokap, gak heran sih, soalnya bibi gue itu adalah adik yang paling deket sama bokap.

ilustrasi

Nyokap gue sendiri tidur di kamar berbeda bersama adik gue yang saat itu masih bayi, gue gak inget kenapa saat itu bokap dan nyokap tidak satu kamar. Lanjut ke bibi gue, gue yang duduk di atas kasur diam-diam memperhatikan bibi gue itu, awal masuk kamar dia keliatan sumringah tapi tidak lama mukanya berubah jadi sedikit tegang.

Gue ingat saat itu bibi ngomong kalo kamar yang ditempatin bokap mendadak kerasa panas dan gerah, walaupun dia gak bilang apa-apa lagi tapi gue menangkap ada sesuatu yang aneh sama bibi gue. Setelah ngomong sedikit lagi sama bokap, bibi gue pergi.

Rupanya beneran dia gak jadi tidur di kamar itu, jadilah gue sama bokap berdua di kamar. Gue tidur di kasur dekat jendela sedangkan bokap tidur di dekat kamar mandi, di antara kasur kita berdua ada TV ukuran 21 inch yang dari pertama datang tidak pernah disetel.

Senang membaca kisah horor seperti ini, klik tombol subscribe di bawah untuk mendapatkan notifikasi setiap ada kisah horor terbaru dari Mbah Ngesot.

collection embed figure