kumparan
search-gray
Entertainment12 Juni 2020 14:55

Kualat Gunung Pulosari: Bertemu Riki (Part 10)

Konten kiriman user
Part 10-Square.jpg
Ilustrasi cerita horor Kualat Gunung Pulosari bagian Bertemu Riki. Foto: Masayu Antarnusa/kumparan
Aku bersembunyi di balik batu yang berlumut. Masih dapat kulihat cahaya senter mereka berayun-ayun dari kejauhan. Langkah mereka semakin mendekat. Aku berlari lagi untuk menjauh dari mereka.
ADVERTISEMENT
“Itu dia!” teriak salah satu anak buah Pak Jaro.
Kaki kananku tersangkut akar pohon. Aku terjungkal ke semak-semak. Aku tidak sanggup lagi berlari. Mereka semakin mendekat ke arahku. Wajah Pak Jaro mulai terlihat. Aku merangkak untuk menjauh. Mereka malah tertawa melihat penderitaanku.
Seorang lelaki berbadan tambun mendekat. Ia mengikat kedua kaki dan tanganku. Lelaki satu lagi menyiapkan sebatang kayu lalu memasukkannya di antara pergelangan tangan dan kakiku. Mereka berdua menggotong tubuhku dalam posisi terbalik seperti babi hasil buruan. Entah aku akan dibawa ke mana.
Ampuni aku Pak Jaro, jangan bunuh aku.”
“Kalau aku tidak menumbalkanmu. Bola api itu yang akan membunuh orang banyak,” Pak Jaro menunjuk ke langit.
ADVERTISEMENT
“Tolong ampuni aku, Pak. Aku berjanji tidak akan datang lagi ke gunung ini. Aku tidak mau mati muda, Pak," kedua lelaki yang menggotongku malah tertawa.
“Manusia bisa mati kapan saja. Bahkan, saat masih di dalam kandungan pun manusia bisa mati. Kau jangan khawatir, aku tahu kau sangat menderita tersesat di gunung ini. Aku akan akhiri penderitaanmu itu,” Pak Jaro menoleh padaku sambil tersenyum dingin.
Tambahnya, “Kau tahu dua gundukan tanah di depan gubuk tua itu? Itu mayat dari dua pendaki yang dulu pernah melanggar larangan gunung ini. Nanti kau akan aku makamkan di samping mereka.”
Aku mengamuk mendengar omongan Pak Jaro. Kuguncangkan tubuhku sendiri. Dua lelaki itu malah tertawa lagi.Mereka melecehkan tenagaku yang semakin lemah.
ADVERTISEMENT
“Asal kau tahu, aku ini orang baik. Yang aku lakukan sekarang adalah demi menyelamatkan para pendaki lain. Kerajaan jin di gunung ini murka karena ulah kalian.”
“Tapi teman-temanku sudah mati semua, Pak. Apa itu tidak cukup untuk menebus kesalahan kami?”
“Belum. Masih ada satu orang yang hidup.”
“Siapa?”
“Yang perempuan, tapi dia tidak akan bisa keluar dari alam jin.”
“Mira...,” desisku.
Kedua kaki dan tanganku terasa sangat pegal. Dalam posisi terbalik seperti ini, lama-lama aku kesulitan untuk bernapas.
“Pak tolong lepaskan aku.”
“Jangan khawatir, sebentar lagi kita sampai, kok.”
“Aku tidak bisa bernapas, Pak.”
Pak Jaro tidak lagi menimpali. Medan yang ditempuh menanjak. Kedua lelaki yang menggotongku berjalan sempoyongan. Tidak lama kemudian, aku tiba di sebuah tempat yang sangat aneh. Ada banyak sesajen ditempat itu. Bebatuan disusun rapi membentuk lingkaran.
ADVERTISEMENT
Tubuhku dibaringkan di tengah lingkaran tersebut. Mereka melepas batang kayu. Sedangkan lengan dan kakiku tetap diikat.
Tak jauh dari tempatku berbaring, ada dua tengkorak manusia tergeletak bersebelahan dengan sesajen. Apakah itu tengkorak dua pendaki yang melanggar larangan? Entahlah, yang jelas pemandangan itu semakin membuatku takut. Tidak ada jalan lain lagi untuk bisa selamat. Mungkin sudah takdirnya aku mati seperti ini.
Pak Jaro dan dua anak buahnya duduk sila di luar lingkaran. Mata mereka terpejam. Pak Jaro membacakan mantra dalam bahasa Sunda. Mantra itu terdengar sangat mengerikan, semacam persembahan tumbal untuk makhluk gaib.
Setelah selesai, Pak Jaro mendekatiku. Ia membawa sebuah batang kayu. Ia lalu menancapkannya di dekat kepalaku.
ADVERTISEMENT
“Jangan, Pak! Aku mohon ampuni aku,” air mataku keluar.
Yang kuingat adalah kedua orang tuaku di rumah. Mereka sudah sangat tua dan pasti jatuh sakit kalau mendengar anaknya tewas tak wajar seperti ini.
Pak Jaro menyuruh anak buahnya mengikat leherku dengan tali. Lalu, ujung tali itu diikatkan lagi pada kayu tadi.
“Tarik kakinya!” suruh Pak Jaro.
Aku sekarang dalam posisi mengambang. Kedua kakiku ditarik, leherku diikat. Mereka akan memenggal leherku. Pak Jaro keluar dari lingkaran. ia mengambil arit lalu bersiap memenggal kepalaku.
“Surga menunggumu, Nak.”
Aku menangis. Dari arah kanan tiba-tiba kulihat roh Riki memandangiku dengan tatapan nelangsa.
“Riki....”
“Temanmu itu sudah mati. Kau akan menyusulnya,” kata Pak Jaro.
ADVERTISEMENT
Ia mengacungkan arit lalu menebaskannya ke leherku....
***
Nantikan cerita Kualat Gunung Pulosari selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white