kumparan
search-gray
Entertainment17 Juni 2020 15:25

Kualat Gunung Pulosari: Mereka Masih di Gunung (Part 15)

Konten kiriman user
Part 15-Square.jpg
Ilustrasi cerita horor Kualatan Gunung Pulosari bagian 15 Mereka Masih di Gunung. Foto: Masayu Antarnusa/kumparan
Aku Bobi, om-nya Mira. Apa yang harus aku katakan kepada ibunya Mira kalau ia tahu Mira hilang di gunung? Seharusnya aku tidak mengizinkannya naik gunung. Mira sudah kuanggap sebagai anak sendiri. Apalagi ketika ayahnya meninggal. Semenjak itu aku bertekad akan menjadikannya seorang sarjana.
ADVERTISEMENT
Aku punya firasat kalau Mira dan teman-temannya masih hidup. Mereka masih ada di gunung. Dan, aku tidak menyangka kalau si Ori yang selama ini kupercaya malah mengecewakan. Di situasi seperti itu, dia kuanggap sangat egois karena meninggalkan Mira dan teman-temannya begitu saja.
Hari ini aku mendatangi rumah Ori. Dia harus menemaniku naik Pulosari untuk mencari Mira. Sebenarnya, istriku tidak memperbolehkanku naik Gunung Pulosari. Terlalu berbahaya katanya. Ditambah, semua akses ke sana sudah ditutup karena ada longsor.
Aku harus mencari jalan alternatif agar tidak ketahuan warga yang bermukim di sekitar gunung. Semua peralatan pun sudah aku siapkan. Mulai dari tenda dome, kantung tidur, karpet, persediaan makanan, pisau kecil, dan alat-alat lain. Semua sudah kukemas ke dalam tas gunung. Aku juga membawa senapan angin untuk jaga-jaga.
ADVERTISEMENT
“Ada apa ya, Om?” Ori tampak terkejut saat tiba-tiba aku datang ke rumahnya.
“Temani aku naik ke Pulosari untuk mencari Mira,” pintaku. Ori gelagapan. I mungkin bingung mau ngomong apa.
“Anak saya enggak akan saya biarkan naik ke gunung itu lagi,” dari dalam kamar muncul seorang lelaki tua. Itu bapaknya Ori.
“Anak Bapak harus tanggung jawab. Dia yang membiarkan Mira hilang begitu saja.”
“Anak saya juga korban. Dia bukan pelaku. Mau sampai kapan Anda menuduh anak saya, hah?!” lelaki tua itu menunjuk wajahku. Ia tampak marah.
“Maaf, Om. Aku enggak bisa naik ke gunung itu lagi. Mira enggak bakal bisa balik. Dia ada di alam jin,” ujar Ori. Dia duduk di hadapanku.
ADVERTISEMENT
Bullshit! Aku enggak percaya sama cerita fiksimu itu. Mana ada alam jin? Mira pasti masih hidup!"
“Terserah, Om, mau percaya atau enggak. Dulu aku juga seperti om yang enggak percaya sama setan. Tunggu saja setelah Om naik gunung itu. Om pasti tidak akan meremehkan hal-hal gaib lagi,” Ori meyakinkanku.
Aku menarik paksa lengan Ori. Aku memaksanya menemaniku ke Pulosari. Bapaknya marah. Ia pergi ke dapur dan kembali dengan membawa golok.
“Kau bawa anakku, kugorok lehermu!” Ancamnya, sambil mengacungkan golok.
Aku mengembuskan napas berat. Kulepas genggamanku, lalu menoleh ke wajah Ori yang ketakutan.
“Mira masih hidup. Dan, akan aku buktikan itu,” kataku di telinga Ori.
“Semoga selamat, Om,” jawabnya.
ADVERTISEMENT
Aku lalu pergi tanpa pamit dari hadapan mereka.
***
“Mah... bangun, Mah...,” kuguncangkan tubuh istriku.
“Jadi berangkat, Pah?” ia bangun. Kedua matanya masih terpicing.
Kukecup kandungannya yang sudah lima bulan itu. Dia tengah mengandung anak kedua kami.
Papah berangkat, ya? Doakan supaya Papah berhasil membawa tantemu pulang,” kukecup lagi perut istriku, lalu mengelus anak pertamaku yang sedang tidur pulas.
“Berapa hari, Pah?” tanya istriku.
“Paling lama tiga hari.”
“Hati-hati, Pah. Pulang saja kalau tidak ketemu. Nanti kita ngomong baik-baik saja ke ibunya Mira.”
Papah yakin Mira dan teman-temannya masih hidup. Papah pasti bisa menemukan mereka.”
Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Jam jam satu dini hari. Segera kuraih tas ransel dan senapan angin. Juga topi koboi yang langsung kukenakan layaknya aktor Jeff Bridges. Aku berangkat dengan mengendarai motor Scorpio yang sudah kumodif sedemikian rupa.
ADVERTISEMENT
Tadi siang, aku sudah mencari tahu mengenai jalur pendakian yang jauh dari permukiman warga. Jadi tidak akan ada satu pun warga yang tahu tentang pendakian ini. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya aku tiba di lokasi pendakian.
Motor kugembok di bagian lubang cakramnya. Aku sengaja menempatkannya tersembunyi di semak-semak. Dari kejauhan terdengar suara burung hantu berkukuk. Itu membuat suasana menjadi mencekam.
Kuarahkan cahaya senter ke jalan setapak yang sudah dirimbuni rumput. Jalan ini seperti sudah lama sekali tidak dilintasi manusia. Medan yang kutempuh pun semakin menanjak. Senter kupasangkan di moncong senapan. Aku harus siaga, kalau tiba-tiba ada binatang buas yang tiba-tiba menyerang.
Tak lama kemudian, aku berhenti melangkah. Terdengar suara menelisik di balik semak-semak. Suara itu diikuti dengan dengkur babi. Dengan panik kuarahkan moncong senapan ke semak-semak itu, lalu menembakkannya. Babi itu lari terbirit-birit.
ADVERTISEMENT
“Om...,” seseorang memanggilku. Aku sangat mengenali suara itu. Ya, itu suara Mira. Suaranya menggema di langit.
“Mira! Mira!” aku mendongak sambil memanggil namanya.
Entah dari mana datangnya, di hadapanku muncul seorang wanita cantik yang berpakaian layaknya ratu kerajaan. Dia tersenyum mengerikan ke arahku. Kulihat kakinya tidak menapak tanah. Ia melayang dan perlahan mendekat ke arahku mematung.
Beberapa kali kutembakkan senapan anginku ke arah wanita itu, tapi tidak mempan. Dia terus mendekat ke arahku. Aku semakin terdesak. Kakiku seperti keram dan tidak bisa digerakkan.
“Siapa kau?” tanyaku, parau sebelum suaraku tercekat di pangkal tenggorokan.
SELESAI
***
Nantikan cerita horor selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white