kumparan
search-gray
Entertainment14 Juni 2020 18:19

Kualat Gunung Pulosari: Pemakaman Eldi (Part 12)

Konten kiriman user
Part 12-Square.jpg
Ilustrasi cerita horor Kualat Gunung Pulosari bagian 12. Foto: Masayu Antarnusa/kumparan
Jujur saja, sebelumnya aku tidak pernah percaya dengan keberadaan makhluk halus. Bagiku cerita-cerita tentang penampakan setan dan pengakuan orang yang melihatnya adalah kebohongan besar. Bahkan, aku menulis beberapa kisah horor yang berujung pada asumsi bahwa kisah itu hanya fiksi agar orang-orang tidak takut dengan setan.
ADVERTISEMENT
Tapi, semua prinsipku sirna saat aku melakukan pendakian Gunung Pulosari. Aku menjadi sangat yakin kalau makhluk gaib itu memang ada. Mereka menelisik di telinga walau kita tidak mendengarnya. Mereka duduk di samping kita walau kita tidak menyadarinya. Atau, bahkan tidur bersama kita setiap malam.
Kejadian sore itu membuatku percaya bahwa makhluk halus memang ada. Saat aku dan Uswah hendak meninggalkan Curug Putri, ada rombongan orang membawa keranda mayat. Aku pun heran. Kenapa ada pemakaman di gunung seperti ini?
Ternyata, mayat di dalam keranda itu adalah Eldi. Dia mati dengan wajah berlumur darah. Saat kuhampiri, para pengantar jenazah itu malah hilang begitu saja. Aku tahu mereka pasti jin. Aku baru saja melihat penampakan itu.
ADVERTISEMENT
Sesaat kemudian, Curug Putri bersinar memancarkan cahaya keemasan. Kututup kedua mataku dengan telapak tangan. Lalu terdengar derap kereta kuda mendekat. Kereta itu membawa seorang wanita cantik yang pernah menolongku beberapa hari lalu.
Kereta kuda dikawal oleh banyak orang. Para pengawal itu berbadan besar seperti binaragawan. Mereka juga berpakaian lengkap layaknya prajurit kerajaan di Indonesia pada masa lalu seperti yang kulihat di film-film. Mereka semua membawa tombak. Aku dan Uswah panik melihat kejadian aneh itu.
Saat kami akan kabur, jalan setapak itu hilang. Pintu kereta kuda terbuka seolah mempersilakan kami untuk masuk ke dalamnya. Aku menggelengkan kepala sambil menggenggam lengan Uswah agar dia tidak terpengaruh.
Sayangnya, yang aku khawatirkan malah terjadi. Tatapan Uswah tiba-tiba kosong. Ia melangkah perlahan mendekati kereta kuda itu.
ADVERTISEMENT
Uswah, jangan!” kucoba menahan tubuhnya. Tapi, dua pengawal kereta malah mendorong tubuhku.
Kali ini aku tidak mau lagi kehilangan temanku. Aku berhutang nyawa padanya. Aku harus menyelamatkannya. Setelah Uswah masuk, kereta kuda perlahan berjalan menuju kumparan cahaya. Aku mengikutinya dari belakang. Aku berteriak memanggil-manggil nama Uswah.
Tidak terasa aku sudah berada di perkampungan warga. Para warga di sana berlutut sambil tertunduk saat kereta melintas. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada anak kecil yang badannya dipenuhi bulu hitam. Ia juga bertaring. Matanya merah menyala. Anak itu menghampiri kereta sambil melompat-lompat kegirangan.
Di antara orang-orang yang berlutut, ada Mira di sana. Ia berteriak sambil lari kecil menghampiri anak itu. Ia menggendongnya, lalu kembali berlutut kembali. Pakaian Mira sudah berbeda. Ia hanya mengenakan kain bermotif bunga warna cokelat dan baju abu-abu yang sudah usang.
ADVERTISEMENT
“Mira! Mir! Ah... syukurlah gua ketemu lu lagi di sini. Ayo, Mir, kita pulang. Ada Curug Putri di sekitar sini,” jelas saja aku senang karena bisa bertemu Mira kembali.
“Enggak, Ri. Gua udah bilang, hidup gua lebih bahagia di sini. Tolong sampaikan ke Om gua kalau gua udah menikah dan punya anak.”
Aku mundur beberapa langkah. Mira sudah tidak bisa dibujuk lagi. Kereta kuda semakin menjauh. Segera aku lari mengejar kereta itu sambil terus memanggil nama Uswah.
Tibalah aku di sebuah keraton yang megah. Ada dayang-dayang keraton yang menyambut kedatangan kereta kuda. Mereka menari-nari sambil terus tersenyum. Aku ikut masuk ke dalam keraton tersebut.
Di halaman keraton, Uswah turun dari kereta. Kucoba menghampirinya, tapi langkahku dihalangi para penjaga. Uswah dituntun oleh wanita cantik itu ke sebuah kolam kecil yang terletak persis di depan singgasana.
ADVERTISEMENT
Uswah melucuti pakaiannya lalu mandi di kolam kecil itu. Wanita yang dipanggil ratu menoleh ke arahku. Dua penjaga kemudian menggenggam lenganku. Mereka menyeretku dengan paksa untuk mendekati sang ratu.
Semua bajuku dilucuti. Aku dipaksa mandi di kolam kecil itu. Setelah selesai, aku dan Uswah mengenakan kembali pakaian kami. Kami lalu dibawa ke sebuah ruangan yang indah. Di sana sudah disiapkan berbagai hidangan lezat. Sang Ratu menyuruh kami berdua duduk dan makan bersama.
Tidak ada pilihan lain, aku harus menuruti maunya. Kalau tidak, para penjaga di belakangku bisa saja menebas leherku. Makanan yang disajikan terasa enak sekali. Ada ayam bakar, kambing guling, buah-buahan segar, serta makanan lainnya.
Uswah makan dengan lahap. Tidak ada obrolan di meja makan. Sang Ratu memandangiku sambil terus tersenyum membuatku. Tapi itu membuatku semakin merinding.
ADVERTISEMENT
Setelah hidangan habis, sang Ratu membawa kami ke halaman keraton. Di sana ada para dayang yang sedang mandi. Mereka semua cantik-cantik. Saat aku melintas, mereka curi pandang kepadaku sambil tertawa kecil.
Di halaman keraton itu ada sebuah kuburan. Gundukannya ditata rapi dengan bebatuan yang ditumpuk. Di batu nisan itu tertulis Sultan Maulana Hasanuddin. Aku ingat, dia adalah pendiri kesultanan Banten.
Berziarahlah...,” kata sang Ratu.
Aku dan Uswah duduk di samping kuburan itu. Aku membaca doa sebisaku di dalam hati.
“Kalian punya waktu sampai besok pagi untuk keluar dari gunung ini. Pulanglah, esok pagi akan ada longsor besar di gunung ini.”
Sang ratu menunjuk ke arah dinding. Dari dinding itu tampaklah jalan setapak. Aku dan Uswah berjalan ke arah dinding. Ajaibnya, kami tiba-tiba berada di sebuah jalan setapak. Ini pasti jalan pulang. Kami harus segera keluar dari gunung ini sebelum longsor itu terjadi.
ADVERTISEMENT
***
Nantikan cerita Kualat Gunung Pulosari selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white