Kumparan Logo
Lingsir Wengi - 4.jpg

Lingsir Wengi: Rumah Kosong (Part 4)

Mbah Ngesot

Mbah Ngesot

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rumah Kosong. Foto: Syihan Rama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rumah Kosong. Foto: Syihan Rama/kumparan

Angkot yang mereka tumpangi berhenti. Pintunya terbuka sendiri, lantas mereka buru-buru turun dari angkot itu. Lalu, perlahan angkotnya melaju kembali menembus kabut yang tebal. Rini menyalakan senter, ia menyorotkannya ke segala arah.

Tepat di hadapannya ada sebuah gapura bertuliskan ‘Desa Wisata Balangandang’ gapura itu terbuat dari bambu dan kayu yang tulisannya diukir manual. Beberapa cahaya lampu terlihat dari kejauhan, tampaknya itu adalah perumahan warga.

“Jes, ayo jalan,” Rini mencoba untuk tenang, ia memegang lengan temannya yang masih nangis sesenggukan.

“Gue takut, Rin,” lirihnya sambil mengerutkan dahi.

“Tenang Jes, di sana ada pemukiman warga jadi nggak akan ada setan lagi.”

Mereka berjalan perlahan menuju pemukiman warga. Jalannya berbatu sebesar kepalan tangan orang dewasa, ada lubang becek di sana-sini membuat Rini dan Jesika harus hati-hati melangkah. Dari kejauhan, segerombolan anjing menyadari kedatangan mereka, lalu melolong ramai-ramai tanpa mendekat. Rini mengarahkan cahaya senter ke sekelilingnya, ia melihat pohon-pohon mohoni tertata rapi, mungkin hasil tanam warga Balangandang.

Setibanya di pemukiman, mereka dihampiri oleh seorang lelaki yang sedang ronda. Ia mengenakan Jaket hitam, cupluk hijau, celana panjang coklat, dan sarung yang diselempangkan. Perawakan lelaki itu tinggi besar lengkap dengan kumis yang melintang sempurna di atas bibirnya membuatnya semakin terlihat garang. Ia menanyakan maksud dan tujuan mereka datang ke Balangandang dengan nada dingin. Rini menjelaskan tujuan mereka, lagi-lagi dengan cara yang hati-hati karena takut disalahpahami. Lalu, Rini minta diantar ke rumah Pak RT, ia ingin meminta izin untuk tinggal beberapa bulan di desa Balangandang.

Kemudian Lelaki itu bersedia mengantar mereka ke rumah Pak Marto, ketua RT. Di sana mereka diperlakukan dengan hangat, disuguhkan teh, dan makanan. Pak Marto adalah sosok yang ramah dan sopan, sesekali ia mengangguk mendengar penjelasan Rini.

Setelah itu, Pak Marto memberikan mereka izin untuk tinggal di desa dengan syarat harus sopan dan hati-hati dalam bertutur kata. Tidak hanya itu, ada satu syarat lagi yang sakral; jangan sesekali menyanyikan atau menyetel lagu Lingsir Wengi. Rini mengiyakan syarat itu lagi pula mereka tidak tahu tentang lagu Lingsir Wengi.

“Oya Pak, saya juga mau menyewa penginapan. Ada rumah atau kontrakan kosong nggak di desa ini?” Tanya Rini.

“Rin, cari yang nggak ada setannya,” bisik Jesika. Rini menyenggolnya dengan sikut, memberi isyarat agar tetap sopan.

“Hmm... kontrakan sih nggak ada, Mbak. Tapi ada rumah kosong kalau Mbak mau sewa. Rumah itu bekas warga kami dulu, nanti uang sewanya biar masuk kas masyarakat.”

“Boleh, Pak. Di mana ya rumahnya?” Tanya Rini.

Jesika menyubit kecil paha Rini, “Rin itu rumah kosong pasti ada setannya,” bisik Jesika.

Rini berhus, sekali lagi ia meminta Jesika untuk tetap tenang dan besikap sopan. Malam itu juga, mereka di antar ke lokasi rumah kosong. Jaraknya sekitar dua kilo meter dari rumah Pak Marto, memang lokasinya terpisah dari pemukiman warga. Suara debur ombak laut terdengar dari kejauhan, rumah kosong itu dekat dengan pantai.

“Ini rumahnya, Mbak,” kata Pak Marto, mereka sudah tiba di rumah kosong yang tampak sudah tua.

Seketika bulu kuduk mereka merinding melihat kondisi rumah itu.

Nantikan cerita Lingsir Wengi selanjutnya. Biar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:

collection embed figure