kumparan
KONTEN PENGGUNA
15 Januari 2020 17:39

Lingsir Wengi Tembang 2: Balas Dendam Teja (Part 8)

lingsirwengitembang2 balas dendam teja psd.jpg
Balas Dendam Teja. Foto: Argy Pradypta/kumparan
Ngartasih sangat terkejut mendengar pernyataan Mbah Rumi. Antara percaya dan tidak percaya, tapi setidaknya hal yang diucapkan Mbah Rumi membuat hatinya bahagia lantaran sudah lama ia ingin punya anak. Dan benar saja, setelah beberapa bulan semenjak kedatangan Mbah Rumi, Ngartasih akhirnya hamil. Ingin sekali ia memberi tahu kabar bahagia ini kepada suaminya, namun Ki Bamantara masih terbaring di atas tempat tidurnya dengan luka di sekujur tubuh yang bertambah parah.
ADVERTISEMENT
Malam itu, Ngartasih berendam di dalam bak mandi. Ia mengelus-elus perutnya yang semakin buncit. Rasanya tidak sabar ingin segera anaknya lahir. Ia bahkan sudah menyiapkan nama untuk anaknya itu. Kalau yang lahir perempuan maka akan ia namakan Sekar, tapi kalau yang lahir laki-laki maka akan ia namakan Abimanyu.
Lampu canting diletakkan di atas tembok sumur, cahayanya berayun-ayun karena sesekali tertiup angin. Ngartasih meraih kembang warna-warni dari dalam kantong plastik hitam lalu menaburkan kembang itu ke dalam bak mandi. Ia kembali berendam dan memejamkan kedua matanya. Sangat tenang. Sangat damai.
***
Sementara itu, Teja di rumahnya. Ia sedang kebingungan dan tidak mengerti kenapa teluh Waringin Sungsang tidak kunjung membunuh Ki Bamantara. Ia mendengar kabar dari warga yang sempat mengintip kamar Ki Bamantara kalau musuhnya itu terbaring di atas kasur. Dada Ki Bamantara terlihat turun naik, menandakan ia masih bernapas. Maka dengan segala kebingungannya, ia meraih sebuah golok, berniat untuk membunuh Ki Bamantara secara langsung.
ADVERTISEMENT
Teja berjalan dengan terburu-buru menuju rumah Ki Bamantara. Tekadnya sudah bulat, ia ingin menggorok leher musuhnya itu. Sesaat sebelum ia tiba di rumah Ki Bamantara, Ngartasih melihatnya dari balik jendela. Buru-buru, ia mengunci rapat-rapat pintunya. Menutup tirai jendela dan mematikan lampu canting di ruang tamu.
“BUKA PINTU, NGARTASIH!”
Teja menggedor-gedor pintu. Ngartasih sembunyi di kamarnya sambil memeluk tubuh Ki Bamantara. Terdengar suara kaca pecah, Teja memecahkan kaca jendela dengan sebuah batu dan kemudian masuk melalui jendela itu. Pertahanan Ngartasih sekarang hanya tinggal pintu kamarnya saja, ia menangis ketakutan sambil mengguncangkan tubuh suaminya berharap suaminya bangun.
Beberapa kali Teja menendang pintu kamar Ngartasih, tapi pintu itu terlalu kuat untuk didobrak. Ia kemudian berkomat-kamit, membaca mantra. Tiba-tiba matanya menyala merah, urat lehernya terlihat menonjol. Maka dengan sekali hentakan kaki saja, pintu itu berhasil di dobrak.
ADVERTISEMENT
Di dalam kamar, Teja melihat Ki Bamantara sedang terbujur di atas tempat tidurnya. Lalu, tanpa ambil ancang-ancang lagi, ia langsung menebaskan golok ke leher Ki Bamantara, tapi golok itu tidak sanggup melukai kulit musuhnya itu. Tubuh Teja bahkan terpental begitu saja seperti ada angin topan yang menyeretnya. Lalu, saat itu juga kedua mata Ki Bamantara terbuka.
Nantikan cerita Lingsir Wengi Tembang 2 selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan