Entertainment14 Januari 2020 18:35

Lingsir Wengi Tembang 2: Penyakit Aneh (Part 6)

Konten kiriman user
Lingsir Wengi Tembang 2: Penyakit Aneh (Part 6) (93851)
Penyakit aneh. Foto: Argy Pradypta/kumparan
Setelah dari makam Keramat, Ki Bamantara tahu kenapa Nyi Roro Kidul murka padanya. Ini semua tentang Sartika; sinden yang dibawa Nyi Roro Kidul. Ternyata perempuan itu adalah manusia kesayangan Nyi Roro Kidul. Secara tidak sengaja Ki Bamantara sudah menyiksa raga dan batin Sartika, memaksanya untuk menari setiap minggu. Hal itu membuat Nyi Roro Kidul murka.
ADVERTISEMENT
Ia diberi petunjuk oleh makam keramat agar meminta maaf dengan cara menghanyutkan sajen ke laut. Ia sudah melakukannya. Tapi anehnya, ia terserang penyakit yang tidak biasa; kulitnya tiba-tiba melepuh.
Sudah berkali-kali ia menggunakan kesaktiannya, tapi penyakit itu tidak juga berhasil sembuh. Hingga akhirnya pada suatu pagi, Ki Bamantara tidak bangun dari tidurnya. Ia tidak mati, nadinya masih berdenyut dan masih bernapas, tapi entah apa yang terjadi pada Ki Bamantara sehingga ia tidak bisa bangun dari tidurnya.
Di suatu malam, Ngartasih tidak henti menangisi suaminya yang terbaring di atas ranjang. Tidak ada satu pun warga yang sudi membantunya. Mereka malah senang kalau Ki Bamantara terkena musibah. Ngartasih tidak tahu harus berbuat apa, beberapa kali ia mengguncangkan tubuh suaminya, tapi tidak sedikit pun muncul tanda-tanda kalau Ki Bamantara akan bangun.
ADVERTISEMENT
“Aku harus bagaimana, Ki?” suara Ngartasih parau. Matanya sembab karena menangis berhari-hari.
Lampu canting digantungkan pada dinding. Suara detik jam dinding terdengar begitu jelas. Juga suara jangkrik ramai beradu dengan suara katak di semak-semak. Di saat itu pula, ia mendengar seseorang sedang mengunyah sesuatu di dalam rumahnya. Ngartasih terkejut bukan kepalang. Buru-buru ia mengusap air matanya lalu melangkah perlahan mendekati pintu. Dari balik pintu itu, dengan hati-hati ia mengintip. Betapa terkejutnya saat melihat seorang lelaki sedang berdiri membelakanginya, menghadap ke dinding di sudut ruangan. Lelaki itu berbaju hitam lengan pendek, leher dan lengannya pucat seperti orang mati. Bau busuk seketika menguar ke seluruh ruangan. Ngartasih menutup hidungnya karena tidak kuat.
ADVERTISEMENT
Ia memalingkan badan dan melihat Ki Bamantara memandanginya dengan tatapan kosong.
“Ki?”
“Ngartasih, lari,” suruh Ki Bamantara ke istrinya. Matanya masih menatap dengan tatapan kosong.
Segera Ngartasih berhambur ke luar rumah. Ia berteriak meminta tolong pada warga. Tapi, tidak ada satu pun warga yang menghampirinya. Beberapa warga sempat melongokkan kepala ke luar jendela, melihat Ngartasih di halaman rumahnya, buru-buru warga itu menutup rapat jendelanya; ketakutan.
Ngartasih mengetuk pintu rumah warga, “Aku mohon tolong aku. suamiku dalam bahaya,” pinta Ngartasih sambil menangis.
Tapi, penghuni rumah itu diam saja. Mereka tidak mau ikut campur dalam masalah Ki Bamantara, terlebih mereka benci pada lelaki itu. Ngartasih terus memohon dari satu pintu ke pintu lainnya, berharap ada orang yang berbelas kasih padanya. Tapi, tidak satu pun yang sudi membukakan pintu. Semua diam. Semua benci.
ADVERTISEMENT
Nantikan cerita Lingsir Wengi Tembang 2 selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white