Panyandungan: Mandi di Sumur Ini Bisa Dapat Jodoh (Part 1)


Aku, Bram, dan Rifki adalah sahabat sejati. Dari SD kami selalu bersama, bahkan kami berkuliah di kampus yang sama. Rifki adalah anak yang paling pintar di antara kami, sedangkan Bram adalah anak yang paling kuat. Waktu SMA si Rifki pernah juara matematika di tingkat provinsi dan Bram menjuari karate di tingkat nasional. Kedua sahabatku itu sangat hebat, aku selalu tertinggal oleh mereka dalam hal apa pun, tidak terkecuali dalam hal pernikahan.
Sekarang umurku 30 tahun. Bram dan Rifki sudah berumah tangga. Setahun belakangan ini, persahabatan kami benar-benar renggang. Kami jarang nongkrong lagi di warung mie pinggir jalan. Setiap kali kuajak mereka nongkrong, jawabannya pasti sibuk dan berujung pada pertanyaan yang membuatku kesal.
“Kapan sih Jo lu nikah? Lu udah tua, ayolah jangan banyak pilih. Nikah itu enak loh,” pasti kalimat itu yang keluar dari mulut mereka.
Bukannya aku tidak mau nikah, tapi sampai saat ini aku belum dipertemukan dengan wanita yang tepat. Siklus asmaraku dari dulu sangat monoton. Biasanya kalau aku suka sama perempuan, pasti perempuannya tidak menyukaiku. Dan kalau pun ada perempuan yang naksir padaku, entah kenapa biasanya aku tidak suka sama perempuan itu. Begitu dan begitu terus dari tahun ke tahun.
Aku tidak pasif, selama ini aku gencar mencari jodoh. Sayangnya, jodoh itu bukan perkara yang gampang. Aku mencari wanita yang bersifat baik, sebab mau bagaimana pun sifat seseorang tidak akan bisa diubah karena itu adalah bawaan alamiahnya. Makanya daripada aku menyesal dikemudian hari, lebih baik memilih dengan hati-hati.
Di hari Minggu pertengahan Agustus, aku datang ke acara pernikahan teman lamaku di Depok. Ya, seperti biasanya aku selalu datang seorang diri, sementara Bram dan Rifki bersama istrinya. Setelah bersalaman dengan pengantin, aku pergi ke prasmanan dan mengambil makanan secukupnya. Ketika ingin bergabung dengan kedua sahabatku, kulihat meja mereka sudah penuh oleh temannya yang juga sudah berkeluarga.
“Bejo…, sini gabung ambil kursi,” Bram memanggilku.
“Gua di sini aja, Bram,” jawabku sambil menggelengkan kepala.
Akhirnya aku duduk sendirian. Di samping mejaku, ada sekelompok bapak-bapak, kudengar mereka membicarakan soal jodoh. Aku menguping obrolan mereka.
“Di Panyandungan? Ampuh nggak?" tanya salah satu dari mereka pada kawannya.
“Ampuh, temanku kemarin mandi di sumur itu dan langsung dapat jodoh.”
“Cantik nggak jodohnya?”
“Beuh! Cantik banget coy!”
Panyandungan? Di mana itu? Kugeserkan tempat dudukku agar bisa menguping dengan jelas percakapan mereka.
“Datang aja ke sana. Sumur Panyandungan ada di Banten. Akang mau poligami pun bisa,” kata salah seorang dari mereka.
Sebelum mereka menyelesaikan makanannya, aku sudah mencatat baik-baik lokasi sumur Panyandungan itu dalam otakku. Apa salahnya dicoba, siapa tahu sumur itu memang ampuh mendatangkan jodoh.
“Bejo,” tiba-tiba ada seorang wanita menghampiriku, dia langsung duduk di hadapanku.
“Eh elu, Rin,” sapaku.
Dia Rini, cewek yang udah lama banget naksir sama aku, tapi aku hanya menganggapnya sebagai teman. Tidak lebih.
“Kok lu nggak bilang kalau mau datang ke pernikahannya Rizka? Kalau tahu lu datang, gua nebeng sama lu aja,” Rini langsung mencerocos membuatku gelagapan.
“Oh, gua nggak tahu kalau lu mau datang juga, Rin,” jawabku sekenanya.
Rini mengangguk-angguk lalu menyendok makanannya.
“Eh Rin, lu mau nggak anter gua?” tanyaku.
“Ke mana?”
“Ke sumur Panyandungan,” jawabku sambil menatap wajah Rini.
“Tempat wisata ya? Ayok!” Rini kegirangan, dari dulu dia memang pengin diajak jalan.
“Iya bisa disebut tempat wisata juga sih, tapi tujuan gua beda Rin. Gua mau cari jodoh di sana.”
“Hah cari jodoh? Sejak kapan lu percaya tahayul kayak gitu?” Rini mengerutkan dahi.
“Nyoba aja Rin, siapa tahu manjur,” ujarku.
Rini terdiam sejenak.
“Ya udah kapan?” tanya Rini.
“Besok.”
“Kok mendadak banget?”
“Ini darurat soalnya, gua pengin cepat nikah,” sergahku.
Rini seperti sedang mempertimbangkan ajakanku.
“Jemput aja besok di rumah,” kata Rini singkat. Aku tahu dia sebenarnya kecewa.
“Cie Rini dan Bejo duduk bareng,” tiba-tiba Bram menggoda kami dari meja seberang.
“Kawin dong ayo kawin,” tambah Rifki.
“Hus! Lu kira kami ayam disuruh kawin!” jawabku, mereka malah tertawa.
***
Keesokan paginya, kujemput Rini di rumahnya. Aku sudah mencari informasi tentang sumur Panyandungan itu di internet dan aku yakin tidak akan nyasar. Kami berangkat naik kereta, setibanya di stasiun tujuan, perjalanan dilanjutkan dengan naik mobil angkot menuju lokasi sumur Panyandungan.
Kami berdua tiba di sebuah perkampungan. Aku sempat bertanya pada salah satu penduduk di sana tentang keberadaan sumur Panyandungan. Katanya kalau aku mau ke sana harus izin terlebih dahulu pada kuncennya, yaitu Abah Maman.
Kami pun dibawa oleh salah satu warga menuju rumah Abah Maman. Ternyata Abah Maman ini orangnya sangat ramah, dia dan istrinya menyambut kedatangan kami dengan baik. Makanan ringan di suguhkan, kami juga dibuatkan teh hangat oleh istrinya Abah Maman.
“Abah paham soal itu. Jodoh memang kadang susah kadang gampang. Banyak orang yang datang ke sumur ini untuk minta didekatkan dengan jodohnya, tapi ingat tidak semuanya manjur. Ada yang gagal juga, tergantung nasibnya masing-masing.”
Aku mengangguk-angguk, sementara Rini hanya mendengarkan saja. Dia tidak berkomentar sedikit pun. Aku tahu kalau Rini tidak percaya dengan hal gaib seperti ini.
“Apa yang harus saya lakukan, Bah?”
“Nanti jam satu malam Abah antar kamu ke sumur itu. Kamu harus mandi di sana. Sekalian nanti kita sajenan.”
Aku begadang sampai jam satu malam, sementara Rini sudah tidur dengan nyanyak. Sengaja tidak kubangunkan, kasihan Rini pasti capek. Biar aku saja dan Abah Maman yang pergi ke sumur Panyandungan.
Jam satu malam kami berangkat ke sumur panyandungan, lokasinya ada di belakang kampung. Kami melintasi perkebunan kopi milik warga. Tidak ada lampu di sepanjang jalan menuju sumur, kami menggunakan senter sebagai penerang jalan. Ada hal mengerikan yang aku tahu dari internet tentang sumur Panyandungan. Ternyata lokasi sumur itu bersebalahan dengan pemakaman umum.
Setibanya di sumur, aku disuruh buka baju. Abah Maman duduk sila di belakangku sambil berkomat-kamit membaca mantra. Tidak lama kemudian, dari kejauhan kulihat seorang perempuan mengenakan kebaya putih berdiri di antara pohon-pohon kopi, perempuan itu memandangiku dengan tatapan datar. Siapa dia?
“Bah, ada cewek tuh,” kataku. Abah Maman tidak menjawab, dia sangat khidmat membaca mantra.
Semakin lama kuperhatikan, tatapan perempuan itu semakin menakutkan. Aku lalu menunduk, bulu kudukku merinding. Lalu dari genangan air sumur, kulihat tiga bayangan lelaki sedang berdiri di belakangku. Namun saat menoleh ke belakang, aku tidak melihat siapa pun kecuali Abah Maman.
Aku kembali mendongak ke arah pohon kopi, wanita yang tadi berdiri di kejauhan, sekarang malah semakin dekat denganku. Dia berdiri di seberang sumur, memperhatikanku dengan tatapannya yang datar.
“Bah itu siapa?” tanyaku lagi. Tapi Abah Maman tidak menjawab. Kedua matanya masih terpejam sambil membaca mantra.
“Bejo!”
“Bejo!”
“Ngapain di sini? Pulang Nak!”
Sayup-sayup kudengar suara wanita memanggil namaku. Aku sangat kenal suara itu. Ya, tidak salah lagi itu adalah suara almarhum ibuku.
___
Nantikan cerita horor Penyandungan selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:

