Story 7 Agustus.jpg

Pocong di Belakang Mobil Pikap, Ikut hingga ke Rumah

2 Agustus 2019 17:54
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Mbah, Sinyo, dan satu teman menumpuk di dalam kamar tiga kali lima meter. Berhubung Mbah pemilik kamar, ia tidur di atas kasur sedangkan kedua temannya di lantai. Tidak butuh waktu lama untuk ketiganya tertidur pulas, dan untuk sejenak suasana kamar lengang. Namun itu tidak berlangsung lama, Mbah terbangun lantaran suara derik suara jendela kamarnya yang terbuka. Matanya setengah terbuka, ada niatan untuk membiarkan saja suara itu namun di sisi lain ia juga ingin buang air kecil.
ADVERTISEMENT
“Sekalian aja deh bangun,” ia bergumam lalu beranjak dan berjalan terhuyung-huyung keluar kamar menuju kamar mandi.
Selesai dari kamar mandi, Mbah menatap jendela cukup lama. Aneh, jendelanya tertutup. Padahal tadi jelas-jelas terbuka dan berderik-derik, tapi sudahlah, Mbah tidak ingin berpikir macam-macam. Mungkin saja itu halusinasi akibat kesadarannya yang belum seratus persen pulih. Begitu ingin kembali ke tempat tidur Mbah menemukan Sinyo sudah meringkuk di atas kasur, memakan jatah lapak tidurnya.
“Elah, baru ditinggal bentar saja udah Lo Bantai,” kata Mbah kesal. “Selimut dimonopoli sendiri lagi,” tambahnya sambil membaringkan dirinya di sedikit tempat yang tersisa. Entahlah itu jam berapa, yang jelas di luar jendela kondisi masih gelap, itu artinya Mbah harus melanjutkan tidurnya.
ADVERTISEMENT
Pocong di Belakang Mobil Pikap, Ikut hingga ke Rumah (99033)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Pinterest
Tidak lama dari sana, mata Mbah terbelalak. Ia teringat satu hal kecil yang krusial; selimut yang ia pakai berwarna cokelat tapi mengapa selimut yang dipakai Sinyo berwarna putih? Mbah membalikan badan, niatnya ingin menginvestigasi sekaligus memastikan apakah ia yang salah atau memang Sinyo menggunakan selimut berwarna putih. Lagian dari mana asal selimut putih itu.
Begitu berbalik, Mbah langsung menyesali keputusannya itu. Mestinya ia tetap membelakangi Sinyo, dan tidak mengurusi apa warna selimut itu. Sebab, alih-alih menemukan Sinyo tertidur di belakangnya, Mbah menemukan wajah seorang pria paruh baya yang penuh luka bakar dan bercak darah dibalut kain kafan kotor. Kedua mata pria itu seakan menatap langsung ke matanya, tanpa kedip, dan tanpa gerakan bola mata. Mbah merasa ia sudah menjerit-jerit ketakutan, tapi nyatanya ia hanya melenguh kecil.
ADVERTISEMENT
Cukup lama tubuh Mbah disandera rasa takut hingga ia kehilangan kontrol, sedangkan sosok pocong yang berbaring di depannya masih terus menatap dingin tanpa jeda. Mbah tidak mau menyerah, biar bagaimana pun ia harus mendapatkan kembali kontrol atas tubuhnya dari lari sekencang-kencangnya dari kamar. Peduli setan dengan teman-temannya.
Pocong di Belakang Mobil Pikap, Ikut hingga ke Rumah (99034)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Pinterest
Melalui perjuangan keras, Mbah perlahan bisa menggerakan tubuhnya. Biarpun begitu, ia tetap tidak bisa lari, melainkan hanya membalikkan badan secara perlahan kemudian duduk di tepi tempat tidur. Mbah berdoa lagi, dan berharap kali ini dikabulkan sehingga ia punya keberanian dan kekuatan untuk kabur dari kamar. Nyatanya, ia hanya bisa berdiri dan berjalan sangat pelan ke arah pintu. Sedangkan sosok pocong di sebelahnya tadi sudah berpindah posisi, kini ia berdiri dekat lemari pakaian tepat di sisi jendela sebelah kanan pintu kamar. Atau singkatnya, berada cukup dekat dengan Mbah.
ADVERTISEMENT
Mbah menutup mata, pemandangan sosok pocong di depan lemari sudah tidak bisa lagi ia tolerir lagi. Satu per satu langkah ia ambil dalam kondisi gelap, arahnya ke pintu kamar. Begitu kaki kanannya membentuk kusen, Mbah membuka mata dan lari keluar kamar meninggalkan kedua temannya.
Mbah tidak melanjutkan tidur, ia duduk di ruang tamu sampai matahari terbit. Ia melihat jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul setengah enam pagi, keadaan sudah aman jadi ia bisa kembali lagi ke kamar. Saat masuk ke kamar ia menemukan Sinyo sudah bangun, dan menyambutnya.
“Takut boleh-boleh aja, tapi gak perlu desek-desekan tidur di lantai bertiga kali,” kata Sinyo.
Mbah tersenyum paksa dan menjawab, “Gue pakai selimut putih gak?”
ADVERTISEMENT
“Iya,” jawab Sinyo.
Mbah langsung diam.
Si Manis Jembatan Ancol menjadi salah satu kisah misteri yang melegenda. Namun, kisah lain tak kalah seram. Simak kisah-kisah mencekam lain di collection ini dan jangan lupa subscribe untuk dapat notifikasi story terbaru.