part 9_square.jpg

Pocong Tetangga: Kembalikan Uangku (Part 9)

1 Juni 2020 16:37 WIB
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi cerita horor pocong tetangga. Foto: Masayu Antarnusa/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cerita horor pocong tetangga. Foto: Masayu Antarnusa/kumparan
ADVERTISEMENT
Suara itu hilang, Tika menangis. Ia sudah mendatangi beberapa dukun, tapi mereka semua menyarankan untuk mengembalikan uang yang Amprung curi. Tika bingung lantaran Jubaidah tidak mau menerima uang itu.
ADVERTISEMENT
Saat Tika bangun dari duduknya, tiba-tiba saja seperti ada yang menendang dadanya. Ia terpental beberapa langkah ke belakang dan tidak sadarkan diri. Yang terjadi selanjutnya sangat aneh, ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding sampai berdarah.
“Ibu...?” Zahra muncul dari dalam kamar.
Ibunya tidak menjawab, ia terus membenturkan kepalanya ke dinding dengan keras.
“Ibu kenapa?”
Zahra mendekat perlahan lalu menyentuh punggung ibunya. Ia sangat terkejut saat melihat ibunya sendiri. Wajah Tika penuh dengan darah. Kedua bola matanya berubah menjadi putih semua. Ia menyeringai mengerikan pada Zahra.
Anak itu berteriak, tidak lama kemudian Amila muncul. Ia juga ketkutan saat melihat wajah ibunya yang aneh dan mengerikan itu. Tika yang sedang dikendalikan makhluk gaib mendekati kedua anaknya perlahan.
ADVERTISEMENT
Sebuah pisau diraihnya, ia hendak membunuh kedua anaknya. Pocong yang merasukinya itu benar-benar sudah marah, kali ini dia akan menghabisi semua keluarga Amprung. Untungnya Amila berhasil lari keluar rumah, sementara Zahra tidak bisa lari. Ia sangat ketakutan dan berteriak sekencang mungkin.
Tika mengayunkan pisau di tangannya dan hendak menusukkannya ke kepala Zahra, tapi... dari pintu rumah muncul Pak Darsoni, seorang ustaz kampung. Ia lari dan menabrakkan dirinya sendiri pada tubuh Tika. Pisau di tangan wanita itu menebas sembarang arah hingga melukai lengan Pak Darsoni.
Dengan susah payah, akhirnya Pak Darsoni berhasil melepaskan pisau itu dari genggaman Tika. Kedua telapak tangan Pak Darsoni berlumur darah karena menyentuh wajah Tika, ia membisikkan ayat-ayat Quran ke telinga Tika. Wanita itu mengamuk tidak karuan, berteriak, memukul-mukul punggung Pak Darsoni.
ADVERTISEMENT
Warga mendengar kegaduhan, mereka berkerumun di mulut pintu rumah Tika, terkecuali Jubaidah; ia tidak peduli apa pun yang terjadi pada keluarga Amprung. Amila dan Zahra sudah diamankan warga, mereka menangis sambil memanggil-manggil ibunya.
Tubuh Tika perlahan lemas, matanya terpejam. Dengan dibantu warga, Tika dibaringkan di atas tempat tidurnya. Tidak ada yang tahu persis kenapa hal ini bisa terjadi, kalau saja Pak Darsoni tidak bertemu dengan Amila yang sedang minta tolong, mungkin saja nyawa Zahra sudah melayang di tangan ibunya sendiri.
Setelah siuman, Tika menceritakan semuanya. Pak Darsoni menyarankan Tika agar tinggal bersama keluarga Pak Darsoni untuk sementara waktu karena takut terjadi kembali hal-hal yang tidak diinginkan. Tika mengiyakannya dan berharap kalau Pak Darsoni bisa membantu permasalahannya.
ADVERTISEMENT
Dua hari tinggal bersama keluarga Pak Darsoni, pocong itu tidak lagi muncul, mungkin karena rumah Pak Darsoni sering dilantunkan ayat suci. Keluarga Pak Darsoni pun sangat ramah, mereka memperlakukan Tika dan anak-anaknya layaknya keluarga sendiri.
Sudah berkali-kali Pak Darsoni mendatangi Jubaidah, membujuknya agar mau menerima uang yang dicuri Amprung. Tapi, tetap saja wanita itu keras kepala. Dia bersumpah sampai kapan pun tidak akan pernah memaafkan keluarga Amprung.
“Susah, Jubaidah tetap tidak mau menerima uangnya,” Pak Darsoni duduk di atas sofa, ia membuka peci lalu meletakkannya di atas sofa.
“Lalu apa yang harus saya lakukan?”
Pak Darsoni terdiam, ia sedang berpikir, “Begini saja, kau bagikan uang itu ke warga kampung tempat Pak Rusdi dimakamkan. Kau niatkan sedekah untuk jenazah Pak Rusdi.”
ADVERTISEMENT
Tika mengangguk, besoknya ia langsung menuju kampung tersebut. Satu persatu Tika mendatangi rumah penduduk, ia meminta maaf atas apa yang telah suaminya lakukan. Ada yang menasehati Tika, ada juga menyumpahi lalu marah-marah, tapi Tika tetap membagikan amplop berisi uang sedekah. Setelah selesai, ia mendatangi kuburan Pak Rusdi untuk meminta maaf sambil menangis.
“Tolong kembalikan suamiku,” desis Tika.
Gundukan kuburan itu bergetar seperti ada yang mengguncangkannya. Tika mundur beberapa langkah, ia ketakutan.
Nantikan cerita Pocong Tetangga selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten