kumparan
search-gray
Entertainment24 Mei 2020 17:29

Pocong Tetangga: Uang Kematian (Part 1)

Konten kiriman user
Pocong Tetangga: Uang Kematian (Part 1) (1250726)
Ilustrasi. Foto: Pinterest
Amprung terkapar tidak sadarkan diri di pinggir jalan. Ia bertelanjang badan dan hanya mengenakan celana levis selutut sehingga tato elang di dadanya dapat terlihat dengan jelas. Kulitnya berwarna sawo matang, rambutnya dicukur sesisir, perutnya buncit, ia terlihat kumal seperti tidak terurus.
ADVERTISEMENT
Satu dua mobil truk pengangkut pasir melintasi Amprung. Derum mobil itu tidak mengusiknya sama sekali. Dua buah botol bir kosong tergeletak di samping Amprung. Kedua kakinya nyeker, entah raib ke mana alas kakinya itu.
Semalam memang menjadi malam yang panjang bagi Amprung. Dia kalah berjudi di pasar Kliwon dan dibuang begitu saja oleh sopir truk di pinggir jalan. Amprung memang seorang penjudi berat. Teman-temannya di pasar Kliwon itu adalah para pedagang kaki lima yang kalau malam ikut berjudi dengan Amprung.
Nasib Amprung selalu buruk, ia lebih sering kalah ketimbang menang. Seperti tadi malam, usai menjual cabai hasil curian dari kebun tetangganya, Amprung langsung pergi ke pasar Kliwon untuk bermain judi dadu. Awalnya Amprung sempat menang, uangnya bertambah berkali-kali lipat. Sayangnya dia malah kembali kalah dan semua uangnya ludes.
ADVERTISEMENT
"Uang kau sudah habis, mau gimana lagi?" tanya Kohar, pedagang ikan lele yang ikut berjudi.
"Iya Amprung. Sudah sana pulang," Sukarta si bandar judi yang juga berprofesi sebagai pedagang sayuran mengusir Amprung sambil tertawa.
"Sebentar lah Bang. Aku masih mau main ini," Amprung masih penasaran, dia yakin kalau terus bermain pasti akan menang.
"Ya, main pakai apa?" Kohar meledek Amprung.
"Yuk, pasang," ajak bandar. Lima orang melemparkan uangnya pada papan dadu.
Sangat mudah bermain judi dadu ini. Ketika bandar sudah memberi aba-aba untuk bermain, para penjudi tinggal menaruh uangnya di atas papan yang bergambar butiran nilai dadu, semacam gambar pada kartu gaple.
Amprung bengong saja melihat mereka bermain, "Sebaiknya kau pasang nomor enam," saran Amprung pada salah satu penjudi.
ADVERTISEMENT
"Halah, diam kau," dia tidak mau menerima saran dari sang pecundang.
Setelah satu permainan selesai, Amprung milirik Sardi, temannya satu kampung.
"Bung, aku mau ngutang uang dulu sama kau," bisik Amprung.
"Yang minggu lalu juga belum kau bayar, Prung," Sardi kesal.
"Ini yang terakhir. Aku janji pasti bayar."
Dengan terpaksa, Sardi meminjamkan uangnya. Amprung kemudian berjudi kembali. Sialnya dia tetap kalah dan semua uangnya habis. Amprung menyerah, dia rasa cukup untuk malam ini. Saatnya pulang.
Tapi teman-temannya Amprung tidak membiarkannya pulang. Mereka malah mengajaknya minum bir gratis. Bir murahan itu mereka beli di pinggir jalan. Amprung mabuk berat, salah satu temannya sengaja menjahili Amprung. Ia ditelanjangi dan dinaikkan ke atas truk pengangkut beras lalu paginya sang sopir truk membuang Amprung di pinggir jalan.
ADVERTISEMENT
Dari kejauhan seorang sopir truk menyadari kalau ada orang yang sedang tertidur di pinggir jalan. Sopir itu membunyikan klakson saat melintas di depan Amprung. Seketika saja, kepala Amprung bergerak, ia akhirnya sadarkan diri. Amprung mencoba untuk bangkit. Dari kejauhan, ia mendengar sayup-sayup suara dari spiker masjid.
"Innalillahi wainnalillahi rojiun, telah berpulang ke rahmatullah...," tiba-tiba sebuah mobil pikap melintas, suaranya mengganggu pendengaran Amprung.
Entah siapa yang meninggal, Amprung juga tidak tahu sekarang dia sedang ada di mana. Yang jelas, ada satu hal yang membuatnya senang; kebetulan sekali ada orang yang meninggal. Itu artinya dia akan dapat uang. Sudah menjadi hal lumrah kalau di suatu kampung ada yang meninggal maka setiap orang yang ikut menshalatkan jenazahnya akan diberi uang sedekah, mereka biasa menyebutnya uang kematian.
ADVERTISEMENT
Segera Amprung beranjak pergi, ia menuju sumber suara tersebut. Di belakang rumah salah satu warga, Amprung bersembunyi, ia mencuri baju koko dan sarung di jemuran lalu mengenakannya. Tidak ada satu pun yang mengenali Amprung, ia membaur dengan kerumunan warga di halaman masjid untuk menshalatkan jenazah.
Tanpa di sengaja, Amprung melihat sebuah amplop tebal yang tergeletak di bawah meja. Itu adalah uang untuk sedekah mayat, Amprung tersenyum. Jiwa kriminalnya muncul, pelan-pelan ia mendekati meja itu dan berhasil mencuri segepok uang. Ia lalu pergi dari kermunan warga, nanti malam uang itu akan ia gunakan untuk berjudi. Selesai shalat jenazah, pihak keluarga panik, mereka menangis karena uangnya hilang dicuri.
"Siapa pun yang mencuri uang sedekah bapakku. Aku sumpahi dihantui pocong!"
ADVERTISEMENT
Teriak Jubaidah sambil menangis.
***
Amprung tidak langsung pulang ke rumah.Uang itu ia bawa ke pasar Kliwon untuk berjudi. Dan lagi-lagi dia kalah, semua uangnya ludes, dia bahkan ngutang lagi ke temannya.
"Jangan pulang dulu lah. Kita mabok lagi, Prung," ajak temannya.
"Nggak ah. Kalian tega sama aku," Amprung menyingkirkan lengan temannya dari pundaknya sendiri.
"Kali ini kita nggak bakal jahilin kamu lagi, Prung."
"Nggak. Aku ngantuk mau pulang. Dari kemarin belum pulang, istriku pasti khawatir.
Amprung pulang naik angkot. Angkot di sana memang beroperasi 24 jam. Kebetulan ia menaiki angkot yang sepi penumpang. Sepanjang perjalanan Amprung mencoba untuk ngobrol dengan sopir angkot, tapi sopir itu hanya menjawab singkat-singkat saja seperti sedang malas diajak bicara.
ADVERTISEMENT
Saat melintasi perkebunan bambu, dari kaca belakang angkot, Amprung melihat bayangan orang yang sedang berdiri di tengah jalan. Anehnya walau angkot yang ia tumpangi terus melaju, bayangan itu tidak mau hilang.
"Aneh," Amprung menggelengkan kepala.
Amprung perhatikan bukannya semakin menjauh, bayangan itu malah semakin mendekat.
"Pak, ada orang yang ngikutin kita," kata Amprung pada sopir angkot.
"Mana uang saya?" bukannya menjawab, si sopir angkot malah minta uang.
"Uang?" Amprung menoleh ke arah kemudi.
Amprung berteriak, ia terkejut melihat pocong di kursi kemudi. Ia kemudian lompat dari angkot lalu tersungkur ke aspal. Kaki dan lengannya berdarah. Angkot tadi berhenti lalu perlahan berjalan mundur mendekati Amprung yang masih kesakitan.
ADVERTISEMENT

Nantikan cerita Pocong Tetangga selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white