Kumparan Logo
hands-3777403_1920.jpg

Rahasia Kelam: Kelereng

Mbah Ngesot

Mbah Ngesot

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
ilustrasi
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi

Malam-malam yang kulewatkan kini seratus delapan puluh derajat berubah, aku jadi kepikiran omongan Pak Ranto, dan mungkin tetangga lain, yang bilang rumah ini angker. Kenapa aku tidak pernah tahu? Padahal aku selalu menghabiskan tengah malamku duduk di sudut ruang tamu dan melanjutkan pekerjaan yang tak selesai di kantor. Pasti selama ini aku terlalu sibuk hingga tidak memperhatikan benar rumah ini.

Sialnya, ternyata ucapan itu adalah doa, ketika aku melamun di atas meja yang biasa kupakai kerja, aku mendengar suara kelereng jatuh dan bergelinding di lantai. Arahnya dari pintu garasi yang berada di samping.

Kulirik jam di dinding ruang tamu sudah menunjukan pukul setengah satu malam, cepat-cepat aku berbalik ke belakang mengikuti suara kelereng itu. Kulihat benda bening itu menggelinding pelan di lantai putih rumahku, seakan-akan ada yang mendorongnya dari pintu garasi yang gelap.

Faktanya adalah di rumah ini cuma ada aku dan istriku dan kemi berdua tidak bermain kelerang, apa lagi tengah malam buta.

Bulu kudukku berdiri seketika itu juga, apa lagi kurasakan angin dingin membelai pelan tengkukku seakan-akan ada yang meniupnya. Anginnya lebih dingin dari pendingin ruangan di kamarku, jiwaku terpanggil untuk memeriksa kelereng misterius itu.

Meski agak takut, tapi rasa penasaranku jauh lebih kuat. Aku bangun dari kursiku dan melangkah perlahan mendekati kelereng itu. Rasanya perjalanan yang jauh dan menyeramkan, atmosfir rumahku tiba-tiba berubah suram layaknya rumah hantu, belum lagi lantai dingin yang menyengat telapak kakiku mengalirkan rasa takut ke darah dan sendiku.

ilustrasi

Aku tak tahu harus melakukan apa ketika sampai di kelereng itu, jadi aku hanya memandangi kelereng bening dengan aksen mirip daun berwarna hijau di bagian tengahnya. Aku menunduk dan memungut kelereng dengan tanganku yang agak gemetaran.

Kelereng itu begitu dingin seperti bongkahan es, kupandangi kelereng itu baik-baik. Sedetik kemudian aku terperanjat oleh suara tawa anak kecil, aku melempar pandanganku ke pintu garasi tempat suara itu berasal, dan di sana berdiri anak kecil bertubuh kurus, wajahnya muram dan pucat pasi, kelopak matanya hitam tanpa ada sehelai rambut pun di kepala. Anak itu mengingatkanku kepada anak seumuran 3 tahun korban busung lapar dengan burung pemakan bangkai menunggunya di belakang, foto itu membuat fotografer yang mengabadikannya bunuh diri akibat depresi.

Anak misterius itu tersenyum kepadaku, tangannya yang saking kurusnya sampai mirip batang pohon terangkat menadah kepadaku.

Jemari kaku itu bergoyang beberapa kali seakan menegaskan bahwa ia menginginkan sesuatu dariku, lebih tepatnya ia menginginkan kelereng yang ada di tanganku. Di tengah kegamangan dan ketakutan yang menyeruak, hebatnya aku masih bisa berdiri, meski sekali sentuh saja aku dapat ambruk seperti benda tak bernyawa.

Senyum anak itu semakin lebar, dan ia mendesis pelan.

Senyuman itu membuatku sesak napas, dan mau pingsan saja.

Aku bertanya siapa dirinya namun anak itu tidak menggubris, malahan ia lari menuju pintu garasi. Aku cekatan mengikutinya berbelok ke pintu garasi, langkahku langsung berhenti seakan ada dinding menahanku. Anak itu menghilang tanpa bekas, seakan ia hanya ada di imaginasiku saja namun suara tawanya masih berdengung di kepalaku.

Lampu utama di ruang tamu menyala, saat aku menoleh istriku berdiri di dekat saklar. Ia menatap aneh ke arahku lalu bertanya apa yang sedang aku lakukan.

Kelereng di tanganku pun ikutan lenyap, berganti udara kosong di antara kedua telunjuk dan ibu jari.

Aku bilang kepada istriku bahwa tidak terjadi apa-apa, suaraku seperti terjepit di tenggorokan hingga aku harus berdehem untuk membenarkan pita suaraku. Istriku heran mengapa aku belum tidur, padahal ia tahu benar bahwa keesokan paginya aku harus berangkat kerja. Aku tahu istriku curiga, namun tetap kutepis kecurigaan itu sebisa mungkin dengan mengatakan aku hendak menyusulnya tidur.

Sebelum masuk ke dalam kamar aku menyempatkan diri membereskan laptop yang masih tergeletak di atas meja, sebelum masuk kamar aku menyempatkan melongok ke pintu garasi. Tidak ada siapa-siapa di sana.

Senang membaca kisah horor seperti ini, klik tombol subscribe di bawah untuk mendapatkan notifikasi setiap ada kisah horor terbaru dari Mbah Ngesot.

collection embed figure