kumparan
Entertainment18 Februari 2020 18:20

Sekolah Angker: Kau Harus Diadili (Part 10)

Konten kiriman user
10 square.jpg
Sekolah Angker. Foto: Masayu/kumparan
Gina kira setelah jenazah Veli ditemukan, sekolahnya akan aman dan damai. Tidak akan ada lagi siswa yang mati bunuh diri, namun dugaannya salah. Selepas jam sekolah, semua siswa dan guru berkerumun di halaman sekolah, mereka mendongak ke atas. Ada seorang siswa lelaki namanya Reza, terlihat sedang berdiri di atas atap gedung lantai tiga. Mungkin dia naik ke sana lewat plafon kelasnya. Reza berdiri sambil melakukan gerakan senam. Kadang berjongkok, membungkuk, lalu berdiri merentangkan tangan. Gerakan itu ia lakukan dengan perlahan.
ADVERTISEMENT
"Reza, turun!" Teriak Pak Gimin.
"Reza turun, Reza!" Teman-temannya ikut meneriaki.
"Reza turun, Nak!" teriak ibunya Reza sambil terisak.
Bapaknya Reza dan beberapa guru lainnya sudah lebih dulu naik ke lantai tiga untuk menyelamatkan . Bapaknya Reza berhasil naik ke atap melalui plafon yang sudah dibongkar anaknya. Tidak sempat ia menghampiri anaknya, Reza sudah loncat dari atas gedung tersebut dan tewas dengan mengenaskan.
Dari kejadian tersebut, Gina yakin kalau masih ada sebuah misteri yang belum selesai di sekolahnya. Anehnya, Fika dan Reza sama-sama melakukan gerakan senam sebelum mereka mati. Ada apa sebenarnya dengan senam? Sepanjang perjalanan pulang, Gina terus berpikir keras untuk memecahkan misteri yang masih mengganjal.
ADVERTISEMENT
"Di, kayaknya ada misteri yang belum selesai di sekolah kita," kata Gina, ia dibonceng oleh Eldi.
"Gua juga ngerasain hal yang sama, Gin."
"Fika dan Rizal melakukan gerakan senam sebelum mereka meninggal, apa dulu ada guru senam yang tersakiti di sekolah kita?"
"Hm... mungkin kita bisa tanyakan lagi ke Pak Gimin, Gin."
"Ya sudah, besok kita menghadap ke Pak Gimin lagi."
***
Sementara itu, jauh dari kota Jakarta, Asep mendatangi sebuah kampung tempat tinggal dukun yang pernah memberinya sebuah jimat. Sayangnya saat Asep tiba di rumah dukun itu, si dukun sudah meninggal setahun yang lalu. Ia hanya bertemu dengan anak dan istrinya.
"Kalau boleh tahu, ada perlu apa ya sama bapak saya?" Tanya Satib.
ADVERTISEMENT
Asep dipersilakan masuk ke dalam rumah panggung tersebut. Asep menceritakan tentang makhluk gaib yang mulai mengganggunya. Satib mengangguk.
"Yang ganggu Pak Asep itu rohnya Cokro."
Seketika Asep terkejut, dari mana Satib tahu tentang Cokro? Pastilah orang ini sesakti dengan bapaknya, pikir Asep.
"Kamu bisa bantu saya?" Bisik Asep.
"Kau memfitnahnya, kan?"
"Sssttt!" Asep mendekat, ia meminta agar Satib tutup mulut.
Dari mana kau tahu semuanya.
"Jin peliharaanku membisik di telinga," kata Satib dengan nada tenang.
"Aku bisa membantumu."
Satib berdiri kemudian masuk ke dalam kamarnya. Saat muncul lagi, di tangannya sudah ada sebuah golok.
"Kau tancapkan golok ini di atas kuburan Cokro. Aku jamin dia tidak akan lagi mengganggumu. Dan jangan sampai golok ini tercabut dari kuburannya."
ADVERTISEMENT
"Kalau tercabut?"
"Dia akan mengganggumu lagi atau bahkan membunuhmu."
Atas saran Satib itulah, Asep berangkat ke kuburan Cokro yang berlokasi di Jakarta. Golok itu ia tancapkan di atas kuburan. Akhirnya, ia merasa tenang karena memang tidak ada lagi roh Cokro yang menghantuinya. Namun setiap hari ia harus memastikan kalau golok itu tetap tertancap di kuburan Cokro. Agar tidak ada orang yang mencabut golok itu, Asep membungkusnya dengan kain putih lalu ditimbun dengan sebuah batu agar tidak kelihatan orang.
***
Di ruang kepala sekolah, Gina dan Eldi duduk, mereka ingin mendengar informasi dari Pak Gimin.
"Dulu bapak sendiri yang menjadi guru olah raga sekaligus memimpin senam setiap hari Rabu," jelas Pak Gimin.
ADVERTISEMENT
"Oh begitu ya, Pak," timpal Gina.
"Aduh bapak hampir lupa, Cokro. Ya tukang bersih-bersih itu. Dia sangat terobsesi dengan senam. Setiap Rabu pagi, dia rutin ikut senam di belakang barisan siswa."
"Pak, bapak yakin kalau pembunuh Veli adalah Cokro?" Tanya Eldi.
"Iya, bapak pernah bilang kalau Cokro belum sempat diperiksa polisi, tapi sudah meninggal dikeroyok siswa," ujar Gina.
"Bapak sendiri tidak yakin kalau Cokro pelakunya, tapi kasus itu sama sekali tidak pernah terungkap sampai sekarang," jelas Pak Gimin.
"Pak, saya yakin kalau kematian siswa di sekolah kita itu karena roh Cokro yang marah. Dia dituduh dan dibunuh begitu saja, siapa tahu Cokro bukan pelakunya," Gina mengeluarkan kegelisahannya selama ini.
ADVERTISEMENT
"Sudahlah Gina, Eldi. Kalian masih terlalu dini untuk memikirkan hal-hal seperti ini.
Gina menanyakan lokasi makam Cokro pada Pak Gimin, ia ingin berziarah dan meminta maaf mewakili semua siswa SMA Setia Bakti. Dengan harapan Cokro tidak lagi mengganggu siswa di sekolahnya.
Di samping kuburan, Gina dan Eldi berdoa dengan khidmat. Mereka pun meminta maap atas semua kesalahan masa lalu yang pernah terjadi. Gina yakin kalau Cokro ini adalah orang baik dan hanya menjadi korban fitnah, entah siapa pelaku sebenarnya, Gina tidak tahu. Tapi, firasatnya sangat kuat kalau Cokro tidak membunuh.
"Gin, lihat deh. Ada benda apa ini?" Eldi melihat sebuah benda yang mencurigakan tertancap di atas kuburan Cokro. Ia mengangkat sebuah batu yang menimbun benda tersebut.
ADVERTISEMENT
"Cabut, Di."
"Wah ini sih golok. Ngapain orang nancepin golok di sini ya?"
"Buang saja Di. Mungkin orang iseng," kata Gina.
Eldi membuang golok itu, setelah selesai berdoa. Mereka menaburkan bunga dan bergegas pulang.
***
Malamnya, Asep kembali bermimpi buruk. Ia dikejar-kejar Cokro yang membawa pisau di tangannya, setelah berlari dengan sekuat tenaga. Cokro berhasil mengejarnya dan menikam punggung Asep berkali-kali dengan pisau itu. Asep tergeragap bangun, napasnya terengah-engah, keringat bercucuran, dengan tangan bergetar ia mengambil botol air minum. Tiba-tiba ekor matanya melihat secarik kertas di samping tempat tidur, kertas itu bertuliskan.
'Kau harus diadili'
Tidak lama setelah itu, seseorang mengetuk pintu kamar kosnya.
"Siapa sih?!"
ADVERTISEMENT
Dengan kesal, Asep membuka pintu. Seperti ada sesuatu yang menabrak wajahnya, Asep langsung hilang kendali. Ia berjalan perlahan ke luar kamar kos, masuk ke jalan raya, hingga akhirnya tiba di sebuah rel kereta api. Seperti ada yang mengendalikannya, ia berdiri di atas rel itu. Sebuah kereta melaju dengan sangat kencang dari arah barat, beberapa kali masinis sudah membunyikan klakson, tapi Asep tetap berdiri di sana. Dan kereta itu menabrak tubuh Asep hingga terpotong-potong, ia mati dengan mengenaskan. Banyak media yang meliput kematiannya, mereka menduga kalau Asep mati bunuh diri.
***
Setelah Gina dan Eldi berziarah ke makam Cokro, tidak ada lagi siswa yang mati bunuh diri di SMA Setia Bakti. Barangkali permintaan maaf Gina diterima oleh Cokro. Sekolah itu sekarang aman, damai, dan tentram. Dan akhirnya ada juga yang mau melamar menjadi satpam di sana, pos yang dulu jadi tempat pembunuhan Veli, direnovasi dan diperluas. Sementara itu, Gina dan Eldi lulus dengan hasil memuaskan. Tahun ajaran pun ditutup dengan sukacita, semua siswa SMA Setia Bakti merencanakan liburan mereka masing-masing.
ADVERTISEMENT
SELESAI
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan