kumparan
search-gray
Entertainment8 Januari 2020 12:31

Tahun Baru di Hutan Terlarang: Kematian (Part 9)

Konten kiriman user
Part 9 - Kematian Pak Didi.jpg
Kematian. Foto: Masayu/kumparan
Heru terengah-engah, napasnya satu-satu. Kemudian, ia meninggal. Balok kayu yang menghantam tubuhnya sangat keras. Badannya memar, kepalanya juga berdarah karena saat berayun, balok itu menghantam kepalanya juga. Ge menangis terisak-isak melihat pimpinannya mati. Sedangkan Bri masih tidak percaya apa yang dilihatnya. Langit semakin mendung, sebentar lagi hujan akan turun.
ADVERTISEMENT
Kim mengecek denyut nadi Heru, “Pak Heru sudah meninggal,” kata Kim sambil memasang wajah ketakutan.
Wisnu terlihat panik, ia tidak menyangka kalau pekerjaan ini sangat berbahaya.
“Pak Bri, sebentar lagi mau turun hujan. Sebaiknya kita bawa jenazah Pak Heru ke rumah itu,” usul Wisnu.
“Ya, kau benar.”
Wisnu membantu atasannya menggotong jenazah Heru. Sementara Kim berjalan dengan susah payah karena menyeret dua koper sekaligus. Mereka masuk ke dalam rumah. Terlihat pintu rumah tua itu sudah lapuk dimakan rayap. Lantainya pecah di sana-sini. Tidak ada perabotan apa pun di dalamnya, kosong melompong. Debu pekat menempel pada dinding ruangan. Mereka membaringkan jenazah Heru di atas lantai.
Ge masih menangis terisak-isak. Ia punya banyak kenangan dengan pemimpinnya. Mereka sudah berkerja bersama-sama lebih dari lima tahun, memecahkan puluhan kasus kriminal. Dan, sekarang ia tidak menyangka kalau Heru gugur saat bertugas.
ADVERTISEMENT
“Sekarang bagimana?” tanya Bri.
“Besok kita pulang saja. Hutan ini sangat berbahaya,” jawab Ge sambil mengusap air matanya. Ia masih meratapi jenazah pimpinannya itu.
Bri mengangguk setuju. Ia merogoh smartphone-nya bermaksud untuk meminta bantuan pada perusahaan agar menjemputnya ke hutan. Tapi, sayangnya tidak ada sinyal sedikit pun. Hal tersebut dikarenakan mereka terlalu dalam masuk ke dalam hutan. Bri berdecak kesal. Ia memeriksa seluruh ruangan rumah, memastikan keamanannya.
Untungnya, sumur di rumah itu masih berair, tapi tidak ada alat untuk menimbanya. Hanya ada ember kecil yang tergeletak di samping bangunan sumurnya. Bri membuka tasnya, merobek-robek pakaiannya kemudian diuntai menjadi tali. Ia ikatkan tali itu pada pegangan ember. Dan mulai melemparkannya ke dalam sumur. Setelah berhasil mengangkat air ke permukaan, Bri membasuh wajahnya beberapa kali dengan air. Kemudian memandangi wajahnya sendiri dari pantulan air dalam ember, seketika ia mengerutkan kening menampakkan wajah kecewa akan kematian Heru.
ADVERTISEMENT
Bri kemudian mendongakkan kepala sambil menutup matanya, mencoba untuk tenang. Ia celupkan sebuah kain ke dalam ember, lalu memerasnya. Kain itu akan ia gunakan untuk membersihkan lantai yang kotor. Tapi, sesaat sebelum handak kembali ke ruangan utama, ia melihat sebuah lubang di pojokkan sumur. Itu sebuah lubang bawah tanah berbentuk lingkaran, ada tangga yang terbuat dari bambu menjulur ke dalam lubang. Bri penasaran lantas masuk ke dalam lubang itu dengan hati-hati.
Semakin masuk ke dalam semakin gelap. Kedua kakinya meraba-raba anak tangga karena kalau salah langkah ia bisa terjatuh. Selang beberapa saat, akhirnya ia tiba di dasar. Ia menemukan sebuah ruangan yang cukup luas, ada banyak buku yang tertata rapi di raknya. Foto lima orang lelaki berseragam biru terpajang di dinding. Meja kerja yang terlihat masih kuat walau penuh dengan debu, sebuah lampu canting yang diletakkan di atas meja menyala dengan tenang, menerangi seluruh ruangan walau tidak terlalu terang karena lampunya kecil, bisa dibilang hanya remang-remang saja.
ADVERTISEMENT
Ada kursi ayun di samping rak buku. Juga dua ekor tikus bermain-main di atas kursi itu. Bri melangkah untuk memeriksa sekeliling ruangan, tapi tiba-tiba kakinya menyenggol sesuatu; itu perangkap besi yang menggigit kakinya Ge kemarin. Masih ada bercak darah kering di sela-sela besi perangkapnya. Bri mulai curiga! Dan benar saja, ia mendengar suara lirih seorang perempuan di sudut rak buku dekat dengan meja kerja.
“Tolong....”
Buru-buru Bri mendekat ke sumber suara, ia melihat sesosok wanita sedang meringkuk sambil memeluk kedua kaki di pojok rak buku. Ya, tidak salah lagi, wanita itu adalah Safirah. Dan, ia masih hidup! Kaki kirinya dirantai, tubuhnya kurus kerempeng seperti korban holocaust. Rambutnya kering seperti tidak pernah tersentuh air. Bibirnya juga kering pecah-pecah seperti tidak pernah minum air. Cekung matanya sangat kentara memperjelas bahawa Safirah telah mengalami penderitaan yang sangat parah. Sesaat sebelum Bri hendak menghampiri Safirah, tiba-tiba saja seseorang menusukkan sebilah obeng berkarat dari belakang lehernya sampai tembus ke tenggorokan. Obeng yang ditusukkan menonjol sampai ke leher depannya.
ADVERTISEMENT
Darah menetes perlahan, Bri bersuara seperti sedang tersendak makanan ber-aa-uu tidak karuan. Ia merasakan sakit yang tidak terkira. Lalu, tubuhnya roboh ke lantai dengan keadaan masih bernyawa dan sadar. Ia melihat Jumadi mendekatinya perlahan, air liur Jumadi menetes-netes ke lantai seperti binatang buas yang sedang memojokkan mangsanya. Maka dengan sekali tinjuan saja, Bri terkapar mati. Safirah berusaha menjerit tapi suaranya sudah habis.
“Tolong....” teriak Safirah parau dan pelan.
Nantikan cerita Tahun Baru di Hutan Terlarang selanjutnya. Biar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white