News
·
26 Juli 2021 18:17
·
waktu baca 4 menit

Kemenperin Sediakan Fasilitas Isoman

Konten ini diproduksi oleh Ranny M
Kemenperin Sediakan Fasilitas Isoman (237887)
searchPerbesar
Salah Satu Fasilitas Isoman Kemenperin di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta. | Foto : Dokumen Pribadi

Kebutuhan Tempat Isoman

Kurva kasus Covid-19 belum melandai. Dikutip dari portal resmi Covid-19 di Indonesia, tercatat pada Minggu (25/7/2021) bertambah 38.679 kasus. Total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 3.166.505, dari sebelumnya sebanyak 3.127.826.
ADVERTISEMENT
Meski jumlah kasus bertambah namun jumlah keterisian tempat tidur di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran berkurang. Setidaknya ada pengurangan 289 menjadi 4.245 orang atau 53 persen dari total 7.894 tempat tidur yang tersedia pada Minggu (25/7/2021).
Hal ini mungkin terjadi karena sebagian pasien Covid-19 memilih melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah meski dengan keterbatasan akses pengobatan dan ketersediaan alat kesehatan.
Sebenarnya beberapa daerah mulai mengalihfungsikan bangunan-bangunan milik pemerintah untuk membantu penyediaan fasilitas isoman. Sebut saja pengalihfungsian gedung eks Mapolres Tangerang atau rusunawa milik Pemkot Madiun.
Senada dengan langkah pemerintah daerah, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga turut memanfaatkan bangunan yang ada untuk dialihfungsikan sementara menjadi tempat isoman. Dikutip dari rilis resminya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyebut bahwa Kemenperin menyediakan fasilitas isoman terpusat dengan kapasitas 500 pasien yang tersebar di lima wilayah.
ADVERTISEMENT
Kelima tempat isoman tersebut yakni Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta, Wisma Industri Kemenperin di Puncak Bogor, Politeknik Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung, BDI Yogyakarta, dan BDI Surabaya. Kapasitas setiap tempat adalah 100 pasien untuk yang bergejala ringan atau tanpa gejala.
Walaupun angka 100 bukanlah angka yang memberikan efek besar, tapi paling tidak angka ini cukup membantu. Kondisi rumah di lima kota besar tersebut cenderung padat. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi pelaksanaan isoman di rumah. Misalnya di satu rumah hanya ada satu kamar mandi, juga keterbatasan vitamin dan alat kesehatan pribadi serta kekhawatiran akan menularkan virus ke lingkungan sekitar.
Tak hanya yang tinggal di rumah pribadi, para perantau yang tinggal di rumah kos pun merasakan kendala yang sama. Maka pusat-pusat isoman seperti ini sungguhlah membantu dan layak menjadi pilihan daripada memaksakan untuk isoman sendiri tanpa fasilitas yang memadai.
ADVERTISEMENT
Layaknya rumah sakit mini, pada di tempat isoman terpusat ini terdapat tenaga kesehatan yang bertugas. Makan, vitamin, obat dan alat kesehatan juga tersedia. Bahkan akan dilengkapi pula dengan 300 konsentrator oksigen. Kegiatan penunjang pun terprogram, misalnya berjemur dan olahraga ringan. Mental juga lebih terjaga, karena tidak merasa sendirian.
Selain itu, lokasi fasilitas isoman Kemenperin ini juga cukup dekat dengan rumah sakit, sehingga jika ada pasien yang bergejala berat, dapat langsung dirujuk ke rumah sakit terdekat.
Tak hanya diperuntukkan bagi pegawai di lingkungan Kemenperin, fasilitas isoman ini juga dapat digunakan oleh keluarga pegawai, maupun masyarakat sekitar. Sehingga diharapkan kehadiran fasilitas isoman Kemenperin mampu membantu meringankan beban fasilitas kesehatan, Puskesmas, dan Rumah Sakit dalam penanganan pasien positif Covid-19.
ADVERTISEMENT

Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati

Selain upaya menyediakan beragam fasilitas kesehatan sebagai bagian dari aksi "mengobati", ada baiknya tindak "pencegahan" lebih digencarkan. Seperti kata pepatah "lebih baik mencegah daripada mengobati".
Tak bosan-bosannya pemerintah, pemuka agama dan tokoh penting lainnya menyerukan 5 M. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilitas dan menjauhi keramaian. Tapi nyatanya, 5 M saja tak cukup. Maka upaya berikutnya yang tengah dijalankan adalah vaksin.
Gelaran vaksinasi yang digencarkan pemerintah disambut antusias oleh sebagian besar masyarakat. Terbukti dari penuhnya pendaftaran di beberapa aplikasi mitra vaksin seperti halodoc dan jaki.
Namun nyatanya, di titik-titik tertentu, masih ada masyarakat yang enggan untuk mengikuti vaksinasi. Jelas dengan beragam alasan. Mulai dari takut jarum suntik, merasa punya penyakit tertentu hingga alasan kehalalan. Padahal semuanya ada solusinya.
ADVERTISEMENT
Jika takut jarum, pejamkan saja mata. Kalau perlu, minta tolong panitia vaksinasi untuk memegang tangan anda kala disuntik agar lebih tenang. Bila merasa ada penyakit tertentu seperti darah tinggi atau asma, bisa cek dulu ke dokter dan minta rekomendasi untuk melaksanakan vaksin. Jika kondisi tubuh fit, dokter akan mengizinkan untuk menerima suntikan vaksin.
Mengenai kehalalan juga sudah ada pernyataan resmi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Vaksin sinovac adalah contoh vaksin yang sudah mendapat label halal dari MUI. Sedangkan untuk vaksin astrazeneca, MUI melabelkan mubah. Hal ini tertera pada fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2021.
Menurut Ketua Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan, dibutuhkan setidaknya 60 hingga 70 persen populasi untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity). Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut jumlah sasaran vaksinasi di Indonesia adalah sekitar 208 juta orang. 44 ribu di antaranya telah mendapat suntikan vaksin dosis pertama dan 18 ribu orang yang sudah menerima dosis kedua (data per tanggal 26 Juli 2021 pukul 12.00 WIB).
ADVERTISEMENT
Sebagai upaya membantu mempercepat tercapainya herd immunity, Kemenperin juga tengah mempersiapkan kerja sama dengan asosiasi industri dalam menyelenggarakan program vaksinasi untuk para pelaku industri atau tenaga kerja perusahaan manufaktur di wilayah Jawa dan Bali. Harapannya vaksinasi dapat diterima oleh lima juta orang. Sedangkan pelaksanaannya akan berlangsung pada bulan Juli sampai Oktober 2021.
Ranny M - Pranata Humas Kemenperin
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020