Bisnis
·
6 Mei 2021 14:28

Kenali Ciri-Ciri Investasi Bodong Agar Kantong Tidak Bolong

Konten ini diproduksi oleh Mikail Jaman
Kenali Ciri-Ciri Investasi Bodong Agar Kantong Tidak Bolong (308427)
Ilustrasi pergerakan saham. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Menjelang lebaran, investasi bodong kian marak menjadi sebuah judul artikel di suatu media. Menurut informasi yang dikumpulkan penulis hingga April 2021 bukan hanya satu kasus tetapi telah terjadi beberapa kasus penipuan berkedok investasi. Dengan dana segar THR yang diterima menjelang lebaran dapat menjadi peluang bagi investasi bodong. Ditambah sebagian masyarakat yang tidak paham soal investasi dapat menjadi sasaran empuk dari penipuan.
ADVERTISEMENT
Beberapa kasus penipuan berkedok investasi yang telah mencuat ke publik di antaranya Tiktok Cash, EDC Cash, dan Lucky Trade Community. Kerugian yang dialami investor pun tidak tanggung-tanggung dari puluhan hingga ratusan juta rupiah. Jumlah korbannya tidak bisa dibilang sedikit yaitu puluhan ribu orang dan jika ditotal dari seluruh kasus saja dapat mencapai ratusan ribu orang.
Salah satu korban mengatakan kepada sebuah media bahwa dirinya merugi sebesar 25 juta rupiah. Sebabnya ia mau berinvestasi karena tergiur dengan hasil yang diperoleh teman, kerabat atau orang yang dikenalnya dari berinvestasi di tempat-tempat tersebut.
Sebenarnya keuntungan besar investor yang bergabung lebih awal diperoleh dari skema ponzi yaitu menggunakan dana dari investor baru yang masuk untuk dibagi kepada investor yang masuk lebih dulu. Investor ditawarkan dengan keuntungan yang jumlah atau persentase keuntungan pasti dan jauh lebih besar dibandingkan bentuk investasi lain yang ada di pasaran.
ADVERTISEMENT
Sedangkan cara menarik korbannya yaitu menggunakan skema jaringan MLM (tetapi untuk tujuan yang buruk, harap dicatat bukan berarti MLM buruk). Skema MLM yaitu anggota (investor) dijanjikan komisi dan bonus keuntungan jika anggota (investor lama) dapat mengajak anggota baru (investor baru) untuk ikut berinvestasi atau bergabung.
Jika skemanya mirip-mirip antara satu dengan lainnya lalu apa yang membuat penipuan berkedok investasi ini terus terjadi?
Jawabannya adalah penipuan dilakukan dengan kemasan baru yang fresh dan selalu mengikuti perkembangan tren yang terjadi di tengah masyarakat.
Contohnya, sewaktu sedang tren bisnis syariah, dibuatlah konsep ala-ala bisnis syariah, seperti kebun kurma, properti syariah, dsb. Beberapa tahun lalu saat nilai emas sedang tumbuh pesat, pelaku berkedok investasi emas, tabungan emas, dsb. Sekarang dengan berita harga bitcoin mengalami kenaikan gila-gilaan, maka investasi kripto digunakan sebagai kedok penipuan dilengkapi dengan aplikasi yang terlihat canggih.
ADVERTISEMENT
Jadi bisa dibilang pelaku utama (mastermind) dari penipuan berkedok investasi adalah seseorang yang kreatif. Ia paham sekali apa yang sedang menjadi tren, mengerti psikologi masyarakat dan saat ini juga menggunakan media sosial dan teknologi seperti aplikasi untuk meyakinkan korban-korbannya.
Pelaku memahami psikologi dan sosiologi masyarakat yaitu adanya kecenderungan untuk ikut-ikutan dalam berinvestasi karena tidak mau kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan (herding behavior of investor), enggan membaca dan memahami suatu hal, kurangnya literasi keuangan dan bisnis, tingkat pendidikan rendah, mudah terpesona dengan cerita sukses, halusinasi-khayalan kaya dengan cara instan, dan gampang dikelabui dengan foto atau video sosial media pendiri atau investor/anggota lain yang jadi kaya akibat bisnis tersebut.
Dari kasus-kasus yang terjadi di Indonesia maupun di luar negeri, berikut adalah pengamatan penulis mengenai ciri-ciri dari suatu penipuan yang berkedok investasi. Ciri-ciri yang saya bahas di sini bukanlah suatu hal yang mutlak bahwa dengan adanya tanda-tanda ini sesuatu dapat disebut penipuan tetapi ini merupakan cara untuk membantu anda untuk berhati-hati sebelum melakukan sesuatu tindakan keuangan.
ADVERTISEMENT
  • Menawarkan keuntungan yang pasti dan jumlahnya fantastis
  • Tidak menjelaskan risiko dari bisnisnya
  • Memamerkan secara berlebihan barang-barang mewah atau uang banyak yang diraih investor lainnya atau pendiri
  • Sumber keuntungan bisnisnya tidak dapat dijelaskan dengan jelas tetapi yang dijelaskan adalah keuntungan konsep jaringan yaitu anggota merekrut anggota lain
  • Menggunakan sosok-sosok influencer terkenal di media sosial tetapi sebenarnya mereka tidak paham dengan model bisnis yang mereka endorse
  • Latar belakang pendiri yang tidak jelas disamarkan dengan cerita sukses dan gaya hidup mewah dari pendiri (mobil, rumah, tas atau jam mewah, private jet, jalan-jalan, dsb)
  • Tidak ada kebijakan tata kelola dan manajemen yang transparan.
  • Tidak ada laporan keuangan yang sudah diaudit oleh akuntan publik dan audit hukum oleh konsultan hukum terdaftar.
Kesimpulannya adalah perlu kita pahami bahwa investasi apa pun bentuknya akan selalu mengandung risiko, paham dengan konsep high risk high return (investasi berisiko tinggi maka keuntungan akan lebih tinggi, dan sebaliknya). Jika ada yang menawarkan tingkat keuntungan yang tinggi dari sebuah investasi jauh lebih dari investasi saham di pasar modal maka bersiaplah dengan risiko rugi yang sangat besar.
ADVERTISEMENT
Pesan saya agar kita selalu berhati-hati dengan sesuatu yang kita tidak paham, selalu mulai apa pun dengan memahami sesuatu terlebih dahulu baru ambil keputusan. Lakukan konsultasi dengan orang yang mengerti keuangan atau investasi sampai kita mengerti. Jangan segan untuk menolak ajakan, karena mungkin yang mengajak kita juga tidak memahami bahwa dirinya adalah korban.
Jadilah pribadi yang tidak serakah dan senantiasa memikirkan dampak dari perbuatan kita terhadap orang lain. Bayangkan jika kita ikut-ikutan lalu kebetulan kita bukan korban yang dirugikan tetapi kita menjadi pihak yang mendapatkan keuntungan fantastis dari bisnis atau investasi bodong, sedangkan ada banyak korban berikutnya yang dirugikan. Kalau begitu bukankah kita juga turut berperan merugikan orang lain.
Semoga bermanfaat!
ADVERTISEMENT