kumparan
17 Desember 2017 15:00

4 Alasan Milenial Jadi Kutu Loncat dalam Pekerjaan

Pekerjaan dengan gaji besar untuk milenial (Foto: Thinkstock)
Bukan rahasia lagi bahwa milenial saat ini terkenal dengan julukan “kutu loncat” dalam pekerjaan. Sebuah survei yang dilakukan oleh Jobvite pada 2016 lalu menyebut sebanyak 2.305 penduduk Amerika yang produktif, sebesar 42 persen milenial melakukan fenomena job hopping atau berpindah-pindah tempat kerja.
ADVERTISEMENT
Hal ini enggak jarang buat milenial sering menjadi bahan pembicaraan dalam dunia kerja, lho. Bahkan, enggak sedikit juga perusahaan yang ragu untuk merekrut karyawan milenial karenanya. Tapi, apakah ini hanya kesalahan kalangan milenial?
Bagaimana kalau perusahaan yang justru gagal membuat lingkungan kerja yang sesuai buat generasi saat ini? Sehingga menimbulkan banyak kalangan milenial yang mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan akan tempat kerja yang sesuai.
Nah, sebelum berpikir yang enggak-enggak tentang fenomena job hopping yang banyak melanda milenial saat ini, berikut kumparan (kumparan.com) rangkum empat hal yang menjadi alasan di balik para pekerja kutu loncat yang dilansir dari entrepreneur.com. Yuk, disimak!
1. Jenjang Karier
Wanita karier enggan miliki anak kedua (Foto: Thinkstock)
Keterlibatan seluruh karyawan secara aktif merupakan salah satu masalah yang paling penting di kantor dan yang juga dialami segala usia, guys. Enggak cuma milenial. Sebuah perusahaan bernama Quantum Workplace, merilis sebuah laporan tentang tren keterlibatan karyawan tahun 2016. Sebanyak lebih dari setengah juta karyawan berusia 26 sampai 35 tahun dari sekitar 8.700 organisasi tidak terlibat dengan kegiatan perusahaan.
ADVERTISEMENT
Laporan tersebut juga menemukan bahwa kesempatan mengembangkan keahlian diri menjadi salah satu alasan terlibatnya pekerja milenial. Hal ini menunjukkan bahwa para pekerja milenial berhenti dan mencari pekerjaan lain adalah karena mereka tidak mendapatkan tempat pengembangan diri yang tepat dan juga kenaikan jenjang karier. Akhirnya, para milenial memilih mencari pekerjaan lain.
Salah satu yang bisa dilakukan untuk mengakhiri pola ini adalah dengan menyediakan peluang jenjang karier dan pengembangan diri yang jelas. Tanyakan apa aja yang menjadi tujuan mereka dan bagaimana mereka memenuhi tujuan tersebut dalam perusahaan.
2. Kurangnya aktualisasi diri
com-Cari Partner Kerja (Foto: Thinkstock)
Pada umumnya, beberapa milenial yang menetap di sebuah perusahaan untuk jangka waktu yang lama adalah karena perusahaan memiliki sesuatu yang menarik. Survei milenial yang dilakukan oleh Deloitte tahun 2016 menyebut dari 7.700 milenial di seluruh dunia, sebanyak 86 persen kalangan milenial yang bekerja di sebuah perusahaan selama lebih dari lima tahun mengatakan alasan mereka menetap karena mereka bisa menggunakan keahlian terbaik diri dalam pekerjaan tersebut. Dan sekitar 62 persen kalangan milenial yang meninggalkan perusahaan dalam kurun waktu dua tahun yang setuju akan hal ini.
ADVERTISEMENT
Kalangan milenial akan lebih memilih tempat kerja yang bisa memberi mereka ruang untuk mengaktualisasikan diri. Sayangnya, banyak sekali para pekerja milenial, khususnya fresh graduate, justru enggak diberi kesempatan untuk mengerjakan hal-hal penting dan menggunakan keahlian terbaik mereka. Enggak heran kalau mereka memilih untuk meninggalkan perusahaan tersebut.
Para pekerja milenial sebaiknya ditantang. Beri mereka kesempatan untuk menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan. Ajak mereka terlibat dengan meminta ide dan masukan tentang sebuah proyek tertentu. Dengan begitu, mereka akan turut aktif karena merasa dihargai.
3. Program pinjaman yang menarik
Com-Bisa dapat uang (Foto: Thinkstocks)
Kebanyakan milenial saat ini memiliki masalah dalam keuangan mereka. Enggak jarang, banyak para pekerja milenial memiliki sejumlah hutang yang harus dilunasi. Karenanya, mereka akan memilih sebuah perusahaan yang menawarkan program bantuan pinjaman.
ADVERTISEMENT
Survei yang dilakukan oleh Peanut Butter pada 2015 lalu menyatakan bahwa dari 400 responden yang berusia 20 sampai 35 tahun, sebesar 36 persen pekerja milenial dengan hutang akan bertahan pada perusahaan yang akan memberikan mereka pinjaman dengan pembayaran secara berkala. Hal ini bisa dijadikan sebagai trik bagi perusahaan untuk melibatkan karyawan muda lebih banyak dalam perusahaan mereka.
4. Pengakuan
Com- Cari tahu prospek karir (Foto: Thinkstocks)
Enggak ada satu orang pun yang senang kalau enggak dihargai gengs. Namun, banyak sekali perusahaan yang mengabaikan kerja keras milenial sekarang ini. Dalam survei LeadershipIQ pada 2015 yang dilakukan pada lebih dari tiga ribu pekerja menunjukkan bahwa sekitar 33 persen pekerja di bawah usia 30 tahun mengaku nyaman dengan respon perusahaan atas kinerja yang mereka lakukan.
ADVERTISEMENT
Banyak sekali perusahaan yang kurang memberi respons atas apa yang dilakukan olelh para pekerja muda mereka. Akibatnya, pekerja milenial merasa bahwa mereka kurang penting dalam sebuah perusahaan. Pastikan bahwa semua pekerja, khususnya kalangan milenial, merasa diberi penghargaan atas kekrja keras mereka. Lakukan komunikasi satu per satu dengan seluruh pekerja agar mereka merasa dihargai. Melalui cara seperti itu, para pekerja milenial akan percaya diri dengan kinerja mereka.
So, enggak melulu para milenial yang harus disalahkan atas fenomena yang terjadi. Kadang, semua pihak perlu introspeksi juga, guys. Setuju?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan