kumparan
6 Oktober 2018 18:41

Brodohood 2.0: Cara Brodo Mengapresiasi Para Pelanggannya

Komunitas pendukung Brodo. (Foto: Iqbal Tawakal/kumparan)
Apabila berbicara soal sepatu kulit asli dari Indonesia, Brodo merupakan salah satu brand yang paling dikenal. Mulai dibangun sejak tahun 2011, Brodo hingga saat ini menjelma sebagai brand sepatu kulit yang digandrungi para pecinta sepatu kulit.
ADVERTISEMENT
Untuk mengapresiasi para pelanggan setianya, Brodo menggelar sebuah acara bertajuk Brododhood 2.0. Acara tersebut digelar di Brodo Store, di Jalan Lombok Nomor 11, Kota Bandung. Selain membuka secara resmi Brodo Store di Kota Bandung, acara ini pun dihelat untuk mengumpulkan komunitas-komunitas yang menjadi bagian dari Brodo selama ini.
Acara ini dimulai sejak Sabtu pagi (6/10), dengan dibuka dengan pawai sepeda motor mengelilingi Kota Bandung. Aktor Chicco Jerikho pun ikut serta dalam kemeriahan acara tersebut.
Aktor Chicco Jerikho ikut serta dalam kemeriahan acara Brododhood 2.0. (Foto: Iqbal Tawakal/kumparan)
Salah satu pemilik sekaligus pendiri Brodo Yuka Harlanda menyebutkan, acara tersebut sepenuhnya diselenggarakan untuk mengapresiasi pelanggan dan komunitas-komunitas yang telah mendukung Brodo selama ini.
“Ini sebagai ucapan terima kasih kepada mereka. Ini juga kan kita banyak partner -partner nih, mulai dari partner dari sisi bisnis dari partner endorsment juga. Kalau cuman ngundang aja kan gak seru. Kebetulan mereka hobi-hobi motor. Ya kita buat morning riding aja, riding santun gitu,” katanya kepada kumparan, Sabtu (6/10).
ADVERTISEMENT
Menurutnya, selama ini Brodo mengandalkan komunitas-komunitas sebagai basis bisnis. Hal itulah yang membuat haluan bisnis Brodo tidak hanya menyoal soal produk dan branding saja. Namun, Brodo ingin melibatkan para pelanggannya itu lebih jauh dari sekedar pembeli sepatu.
“Pendekatan kita akan terus seperti itu. Komunitaslah yang akan menjadi tulang punggung perusahaan. Kita menganggap costumer kita itu belanja Brodo bukan karena sepatunya aja mereka juga punya aspirasi,” ujar lulusan Teknik Sipil ITB ini.
Berbagai produk Brodo. (Foto: Iqbal Tawakal/kumparan)
Sampai saat ini, basis marketing Brodo masih mengandalkan media sosial. Meskipun demikian, Brodo telah membuat offline store di sejumlah kota di Indonesia. Total ada 11 Brodo Store di sejumlah kota.
“Kita juga punya tempat-tempat offline. Itu untuk bagimana agar experience nya terasa,” katanya.
ADVERTISEMENT
Ia berharap, pertumbuhan industri fashion lokal lebih berkembang. Menurutnya, potensi pasar di Indonesia sangat tinggi. Namun, produk-produk lokal masih harus bersaing dengan brand-brand luar juga pola konsumsi masyarakat yang berubah.
“Saingan kita sekarang bukan sesama brand sepatu tapi sesama coffe shop sesama airline. Kelihatan dari statistik spending kelas menengah itu yang tadinya ke barang sekarang jadi ke experience,” kata dia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan