Cerita Pemuda Aceh Usaha Parfum Aroma Kopi hingga Ekspor ke Amerika Serikat

Millennialverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Minyeuk Pret dok Khalis/antara
zoom-in-whitePerbesar
Minyeuk Pret dok Khalis/antara

Kopi Aceh enggak cuma bisa diminum, tapi juga dijadikan aroma andalan produk parfum dari UMKM Minyeuk Pret.

Usaha ini didirikan pada 2015 oleh pemuda berusia 32 tahun asal Banda Aceh, Daudy Sukma. Dia memanfaatkan potensi nilam di tempat asalnya dan mengembangkannya jadi parfum.

Parfum atau minyak wangi dalam bahasa Aceh disebut minyeuk pret. Inilah kenapa nama tersebut digunakan, sekaligus untuk mengangkat budaya lokal.

kumparan post embed

Pilihan aromanya juga khas Aceh, yakni bunga Seulanga, Meulu, dan kopi yang sudah terkenal sebagai produk unggulan dari sana.

Bahan baku untuk pembuatan parfum dari berbagai varian aroma itu dipasok langsung dari distributor yang ada di Aceh.

“Seperti kopi, kami pakai kopi Gayo. Standar dari kami tetap kopi Gayo, belum pernah coba kopi lain. Kami bekerja sama dengan pihak ke-3, pabrik besar di Tangerang, yang mengolah kopi dan hasil destilasi kopinya baru dikirim ke sini dan dijadikan parfum,” jelas Daudy, dilansir Antara.

Ekspor dan Sudah Punya Gudang di Amerika Serikat

Minyeuk Pret dok Khalis/antara
kumparan post embed

Dengan tetap membawa budaya lokal, Daudy berharap Minyeuk Pret dapat meningkatkan perekonomian dan mengharumkan nama Aceh di pasar global.

Hingga kini, parfumnya enggak cuma dijual di dalam negeri, tapi juga ke luar negeri seperti Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, Timur Leste, dan beberapa negara lainnya.

Di tengah pandemi COVID-19 kini, Daudy tetap fokus memasarkan produknya ke luar negeri seperti Amerika Serikat dan Malaysia. Katanya, pengiriman Minyeuk Pret ke dua tujuan negara itu bisa mencapai 300-500 pcs per bulan.

“Kami di sana (Amerika Serikat dan Malaysia) sudah punya warehouse (gudang),” lanjut dia.

kumparan post embed

Penjualan Menurun Saat Pandemi COVID-19

Parfum Minyeuk Pret diproduksi dan dikemas dalam botol 30 hingga 50 mililiter. Pembeli bisa mendapatkan produk secara offline dengan mengunjungi toko di Banda Aceh, atau lewat online di berbagai marketplace.

Namun selama pandemi COVID-19, penjualan turut terdampak. Dari yang sebelumnya bisa memproduksi sampai 3.000 pcs dalam sebulan, kini rata-rata per minggu produksi sekitar 300-500 pcs saja.

Daudy mengatakan penurunan drastis terjadi pada awal-awal munculnya virus corona, kemudian mulai sedikit membaik pada Idul Fitri dan Idul Adha 1441 Hijriah.

“Tapi tetap tidak lebih baik seperti sebelum pandemi COVID-19. Artinya sekarang membentuk kurva baru, kami kehilangan sekitar 35-40 persen penjualan, turun sampai ribuan pieces per bulan,” ungkapnya.