Elhaus, Awalnya Bisnis Mahasiswa Kini Sudah Ekspor sampai Italia

Bisnis tidak harus selalu dimulai setelah lulus kuliah. Bahkan saat masih mahasiswa bukan berarti tidak bisa membangun usaha sendiri.
Seperti yang dilakukan Eduardus Adityo dan Raven Navaro saat pertama kali mendirikan brand Elhaus 10 tahun lalu pada 2010. Mereka memulainya ketika masih menjadi mahasiswa semester satu, karena melihat pada masa itu belanja produk fashion bukanlah sesuatu yang mudah.
“Kami pengin bikin barang yang kualitasnya bisa setara dengan brand impor, tapi bikinan lokal dengan harga yang lebih terjangkau dan desainnya juga enggak kalah. Waktu itu pertama kali bikin jeans cuma sembilan, dijualnya lewat teman-teman,” tutur Edo--panggilan Eduardus--kepada kumparan.
Karena harus membangun bisnis sambil kuliah, konsistensi menjadi tantangan terberat baginya. Sampai akhirnya di tahun ke-3 mereka mulai lebih serius untuk merintis Elhaus dan memutuskan buka toko.
Di masa-masa awal bisnisnya, Elhaus banyak bereksperimen dengan produk. Salah satunya jeans selvedge tenun heavy weight yang diklaim Edo pertama kali dibuat di dunia.
Namun, Edo menyebut kini lebih fokus ke pengembangan material lokal dan ramah lingkungan, yang sebagian besar didapat dari pabrik-pabrik kain di Bandung. Namun untuk hardwear, diimpor dari luar negeri seperti kancing dari China dan buckle dari Jerman.
Bahan-bahan tersebut diproduksi menjadi bermacam jenis pakaian laki-laki, mulai dari kaus, kemeja, jaket, sampai celana. Di antara produk best seller adalah kemeja print yang pernah dipakai idola K-Pop, Mark NCT.
Produk Elhaus Diekspor ke Mancanegara
Meski kini dijalankan oleh delapan orang saja, UMKM ini sudah mampu ekspor ke mancanegara sejak 2014. Edo dan timnya telah mengirim ke Inggris, Amerika Serikat, Italia, Taiwan, Hongkong, Singapura, China dan Filipina.
Permintaan yang besar terhadap produk Elhaus ini dibarengi dengan strategi pemasaran di sejumlah media sosial dan website sendiri. Namun, Edo menyebut brand-nya tidak tergabung dalam e-commerce.
“Strategi secara media sosial itu fokus utama kami buat bikin kampanye dan bikin konten yang bagus. Photoshoot-nya kami pengin dengan kualitas bagus yang standarnya bisa dibilang internasional gitu. Edukasi ada juga dalam bentuk style guide dan tips and trick gitu,” lanjut laki-laki 30 tahun tersebut.
Perencanaan konten media sosial yang matang nyatanya menyelamatkan Elhaus di tengah pandemi. Edo menyebut penjualan online masih cukup stabil dan bisa menggantikan toko yang harus tutup.
Maka itu untuk menyiasatinya, ia mempersempit merchandising dengan membatasi delivery window, range barang, dan fokus ke produk yang lebih laku secara penjualan.

