kumparan
2 Mei 2018 14:36

Kok Bisa?, Sajikan Konten Pendidikan dengan Animasi Menarik

Kok Bisa? (Foto: Dok. Iqbal Dwiharianto)
Konten edukasi tak jarang digambarkan sebagai sesuatu yang membosankan, kaku, atau kurang menarik. Namun, hal tersebut mungkin sudah, sedikit banyak, berhasil diubah oleh dua alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Ketut Yoga dan Gerald Bastian, lewat kanal YouTube mereka, 'Kok Bisa?'.
ADVERTISEMENT
Sesuai dengan nama yang mereka usung, 'Kok Bisa?' mencoba menjawab rasa penasaran banyak orang akan berbagai hal yang ada di sekitar kita dengan cara yang cukup ilmiah. Meski demikian, Ketut dan Gerald mempresentasikan hal tersebut dengan cara yang cukup unik, yakni dengan animasi.
"Kami enggak punya kamera, komputernya juga butut, dan kami enggak punya skill apapun (dalam desain). Bermodalkan senang aja, 'wah ayo bikin konten yang kayak gini!' Terus ya udah, berbekal seperti itu, yang paling realistis pilihannya adalah lewat animasi," tutur Ketut saat ditemui kumparan (kumparan.com) pada Jumat (27/4) di kawasan Jakarta Pusat.
Tujuan mereka menciptakan kanal yang terbentuk di 2015 itu pun terbilang cukup sederhana. Di tengah maraknya tontonan di televisi yang dijejali dengan bentuk program yang relatif sama; sinetron, mereka berdua ingin memberikan sebuah tontonan alternatif yang bersifat edukatif kepada masyarakat.
ADVERTISEMENT
"Di Indonesia, TV satu dan TV dua isinya sama semua. Yang satu dramanya soal anak tiri dan segala macamnya. Cuma kami melihat bahwa kami mesti kasih alternatif," ucap Gerald.
"Tapi kalau lewat TV akan agak sulit, makannya kami pilih platorm YouTube. Sebenarnya waktu kami memulai juga konten edukasi sudah ada, tapi kurang menarik," lanjutnya.
Kok Bisa? (Foto: Dok. Iqbal Dwiharianto)
Meskipun cara penyajiannya tergolong cukup ringan, Ketut dan Gerald pun tetap menyadari akan pentingnya menyediakan data yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan dalam setiap video yang diunggah ‘Kok Bisa?’.
Hal itu mereka selalu lakukan, dengan cara memanfaatkan description box yang tersedia di bagian bawah video, untuk menyematkan setiap rujukan data yang digunakan sebagai materi untuk setiap video yang ada.
ADVERTISEMENT
"Tujuannya apa? Supaya orang juga bisa ngecek, verifikasi. Kami sudah beberapa kali nge-take down video. Kami pernah nge-take down bahkan setelah videonya terunggah seharian… Itulah apa yang kami bilang sains dan edukasi, di mana kami belajar mengakui kesalahan kami," lanjut Ketut.
Mereka juga menjelaskan bahwa terdapat tiga tingkatan yang dijadikan ‘Kok Bisa?’ sebagai referensi untuk video mereka. Pertama, jurnal ilmiah. Kedua, berbagai website ilmiah yang kredibel di tiap kategorinya. Ketiga, berbagai tulisan di media.
"Tapi yang ini kami lebih kritis lagi, karena takutnya ada update dari berita tersebut," pungkasnya.
Meski begitu, baik Ketut mapun Gerald mengakui, kehadiran beragam video edukatif pada kanal mereka tetap saja tidak bisa menggantikan peran buku. Namun, bisa dijadikan pelengkap yang akan membantu para penontonnya dalam menambah pengetahuan.
ADVERTISEMENT
"Kalau enggak ada konten-konten yang ada di YouTube, mungkin kami enggak akan baca buku pengetahuan. Mulainya dari situ, kayak sebuah pintu gerbang," tutup Ketut.
Video
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan