kumparan
13 Juni 2018 14:21

Krisis Percaya Diri karena Berat Badan Banyak Terjadi pada Mahasiswi

Diet ekstrem
Diet ekstrem (Foto: thinkstock)
Keberhasilan dalam menjalankan diet dan menurunkan berat badan nampaknya jadi sesuatu yang menggiurkan untuk dicoba. Beberapa selebritas contohnya, ramai-ramai memamerkan bentuk tubuh ideal mereka dan membagi cerita sukses diet mereka di Instagram.
ADVERTISEMENT
Iklan produk diet dan media sosial juga seolah menciptakan delusi dan ‘standar’ tubuh idaman. Hasilnya, kamu jadi tidak pernah merasa puas dengan penampilan tubuhmu dan jauh dari rasa bersyukur.
Dilansir Her Campus, Sarah Hays Coomer, seorang penulis buku ‘Physical Disobedience’ mengungkap fakta miris bahwa banyak perempuan yang berstatus mahasiswi justru memiliki kecenderungan dan menganggap tubuh mereka sebagai musuh.
"Mereka mencoba menaklukkan apa yang mereka lihat sebagai 'ketidaksempurnaan' daripada memperkuat rasa percaya diri dan memberdayakan tubuh mereka untuk menghadapi tantangan ke depannya," ujar Coomer.
Sikap ini tentu disayangkan karena terdapat faktor biologis dan fakta ilmiah yang terjadi di balik perubahan bentuk dan berat badan.
Saat menjadi mahasiswi adalah waktu di mana kamu mengalami banyak perubahan, termasuk bentuk tubuh dan berat badan. Kamu mulai keluar dari masa remaja dan memasuki fase baru untuk mengatur berat badan orang dewasa.
ADVERTISEMENT
Tubuh kamu akan memproses makanan dengan cara yang berbeda mulai dari usia 16 tahun, tingkat energi kamu akan menurun ketika sudah berkuliah, terutama dalam hal berolahraga. Tidak bisa ditampik, menurunkan berat badan juga menjadi lebih sulit, ditambah jika kamu tidak bisa mengatur pola makan.
Ilustrasi diet
Ilustrasi diet (Foto: Thinkstock)
Namun, bukan berarti kamu harus terpaku dengan ukuran berat badanmu dan membandingkannya dengan teman-teman yang lain. Menurut sudut pandang biologis, masing-masing tubuh akan merespons diet dan olahraga dengan cara yang berbeda.
Pengaruh lingkungan juga menjadi salah satu faktor pemicu rasa tidak percaya diri terhadap tampilan tubuh. Contohnya celotehan negatif seperti body shaming yang dapat merusak self esteem seseorang.
Adina Arden Cooper, seorang profesional konselor menegaskan, sikap negatif seperti body shaming dapat berimbas sehingga para perempuan meremehkan dirinya sendiri.
ADVERTISEMENT
"Sejauh mana faktor-faktor ejekan dan body shaming ini berdampak, memang tergantung pada masing-masing individu. Beberapa orang cukup kebal dengan hal ini, namun beberapa lebih sulit untuk menghadapi pengaruh negatif karena memiliki pengalaman buruk sebelumnya," jelas Cooper.
Jangan biarkan kebahagiaan kamu rusak hanya karena ukuran pakaian, angka yang berkurang atau bertambah, dan postingan di media sosial. Karena itu semua tidak sebanding dengan emosional dan kondisi psikologis kamu yang terobsesi dengan ‘standar’ #bodygoals.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan