Entertainment16 September 2020 19:38

Pandemi COVID-19 Dorong Milenial Ciptakan Inovasi Usaha

Konten Redaksi kumparan
Pandemi COVID-19 Dorong Milenial Ciptakan Inovasi Usaha (608244)
Ilustrasi Pandemi COVID-19 Dorong Milenial Ciptakan Inovasi Usaha. Foto: Indra Fauzi/kumparan
Pandemi COVID-19 tidak lantas menyurutkan semangat milenial dalam mengembangkan bisnisnya. Mereka justru menjadikan tantangan ini sebagai peluang baru untuk memajukan usaha.
ADVERTISEMENT
Seperti yang dilakukan Almandhira (25) dengan usaha kerajinan tangan miliknya dan ibunya bernama Kerandjang Iboe. Ia mengaku minat orang terhadap tas anyaman yang dijual seharga Rp 35 ribu-Rp 300 ribu itu sempat menurun saat pandemi.
"Kami mencoba ngejual stok yang ada, tapi ternyata orang tidak terlalu minat. Dulu sebelum pandemi tas bisa laku sampai 10 buah tiap bulan," tuturnya kepada kumparan.
Namun, situasi sekarang ini justru mendorong Almandhira dan ibunya buat menciptakan inovasi usaha, yaitu dengan menawarkan produk masker.
Masker yang dijual seharga Rp 35 ribu-Rp 55 ribu itu menggunakan benang rajutan sebagai tali, agar lebih mudah disesuaikan dan tidak bikin pusing. Di ujungnya ditambahkan aksen pom-pom yang sesuai dengan ciri khas brand lokal tersebut.
ADVERTISEMENT
"Akhirnya punya ide baru menghasilkan produk yang dibutuhkan yaitu masker pom-pom. Itu bisa laku kurang lebih 50 masker setiap bulan," lanjut dia.
Keadaan yang mengharuskan Almandhira untuk tetap berada di rumah juga membuatnya lebih mengandalkan media sosial. Padahal sebelum pandemi, dia bisa memasarkan produk lewat acara pameran.
Hal yang sama juga dialami oleh Krisnayanti (21) dan Adisya (21), dua mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember( (ITS) yang menjalankan bisnis sepatu cewek bernama Privet.
Mereka mengaku usahanya cukup terdampak sama pandemi COVID-19. Apalagi dari segi produksi yang terganggu karena toko bahan baku tutup.
"Di awal pandemi kemarin, toko bahan baku sempat tutup sehingga bagian produksi terpaksa lockdown. Akhirnya banyak timeline dan strategi Privet di tahun ini yang tertunda atau mengalami kemunduran," tuturnya.
ADVERTISEMENT
Sebelum pandemi, mereka bisa menjual sampai 30 pasang sepatu seharga Rp 200 ribu-Rp 300 ribu setiap bulan. Tapi, saat ini penjualannya hampir menurun sekitar 50 persen.
Tidak hanya itu, Krisnayanti dan Adisya juga harus memutar otak untuk memasarkan produknya karena tidak bisa lagi mengikuti acara pameran di Surabaya seperti dulu.
"Sekarang promosi hanya via online. Kami mengadakan giveaway di media sosial, sempat gelar lomba 17 Agustus secara online dan kasih voucher diskon, sampai mau launching situs resmi. Nanti ada penawaran menarik bagi yang membeli produk lewat situs itu," jelas mereka.
Laporan: Alexa Birgitta
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white