kumparan
18 Agustus 2019 10:44

Primbon, Penanggalan Jawa, dan Misteri Nasib Manusia

Ilustrasi Weton
Ilustrasi Weton. Foto: Indra Fauzi/kumparan
Kehidupan sehari-hari dalam budaya Jawa kental dengan ‘ngelmu titen’. Suwardhi Endraswara dalam bukunya Falsafah Jawa (2003) menyebut, titen merupakan hasil pengamatan dari leluhur. Hingga terbentuk semacam rumus yang kemudian digunakan dalam penentuan keputusan berbagai urusan.
Rumus atau perhitungan tersebut dikumpulkan dalam sebuah primbon. Suwardhi membagi jenis primbon ke dalam sebelas bagian. Mulai dari ramalan hingga tata cara upacara selamatan. Berikut pembagiannya.
  • Pranata Mangsa: Mencari tahu tanggal mulai menanam dan melaut.
  • Petungan: Menghitung neptu weton atau tanggal lahir.
  • Pawukon: Rumus untuk menentukan tanggal upacara seperti pernikahan.
  • Pengobatan: Berisi wejangan dan nasehat terkait pengobatan.
  • Wirid: Nyanyian yang berisi larangan.
  • Aji-Aji: Cara untuk mendapatkan kekuatan supranatural.
  • Kidung: Syair-syair yang indah.
  • Ramalan: Terkait ramalan kejadian di masyarakat.
  • Slametan: Tata cara melakukan syukuran.
  • Donga/Mantra: Mirip dengan aji-aji hanya saja menggunakan huruf Arab.
  • Ngalamat: Ramalan terkait kejadian alam yang ganjil.
Ade Faizal dalam tulisannya yang berjudul Tradisi Ilmu Hikmah, Dari Sufisme Persia Hingga Kyai Nusantara (2010) , menyebut primbon merupakan bentuk kepercayaan masyarakat Jawa bahwa pergerakan alam semesta mempengaruhi perilaku manusia.
Naskah Kalender Jawa (NOT COVER)
Naskah Kalender Jawa. Foto: Wikimedia Commons
Dalam filosofi Jawa, ini disebut Jagat Gedhe (semesta) dan Jagat Cilik (bumi dan manusia). Oleh karena itu, perhitungan dalam primbon kerap menggunakan tanggal lahir manusia.
Yang menjadi unik, masyarakat dipengaruhi tiga budaya dalam menentukan penanggalan. Sebelum pengaruh Hindu-Budha, masyarakat Jawa Kuno memiliki penanggalan dengan empat musim yang terdiri 12 bulan (mangsa).
Meski telah mengenal nama-nama hari seperti Senin-Minggu, kalender Jawa Kuno memiliki hitungan pekan sendiri. Yakni, Pancawara, satu pekan yang terdiri lima hari pasaran, yaitu: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Lalu, masuknya pengaruh Hindu-Budha membuat masyarakat mulai menggabungkan kalender Saka. Kalender tersebut resmi dimulai pada 14 Maret 78 M. Pengaruh Saka itu kemudian mengakibatkan mangsa Apit Lemah dan Apit Kayu berubah menjadi Dhesta dan Shada.
Penanggalan Jawa kemudian berubah kembali karena pengaruh penyebaran Agama Islam. Pada 1653 M (Masehi) atau 1555 Saka atau 1043 H (Hijriah), Sultan Agung dari Mataram ingin menghapuskan sistem kalender Saka.
Ilustrasi Tahun Saka (NOT COVER)
Ilustrasi Tahun Saka Foto: Wikimedia Commons
Akan tetapi, niatnya terbentur dengan kondisi sosial budaya. Banyak orang Jawa yang masih meyakini Hindu-Budha. Sementara, di berbagai kalangan masyarakat Islam menjamur.
Untuk menciptakan keselarasan, Sultan Agung akhirnya memilih menggabungkan kedua penanggalan tersebut. Yakni, tahun Saka tetap berjalan. Tetapi, pergantian tahun Saka disamakan dengan tahun Hijriyah. Jadi 1 Muharram 1043 H sama dengan 1 Muharram 1555 Saka (Jawa). Nama bulan pun berubah dengan pengaruh Islam.

Penanggalan Mana yang Digunakan Primbon?

Yang perlu dijawab terlebih dahulu adalah perkembangan sastra Jawa. Kepustakaan Jawa berkembang pesat karena pengaruh Islam pada abad ke-17 hingga 19 M. Itu dipicu penyebaran pendidikan pesantren yang menggunakan kitab-kitab. Termasuk karya sastra.
Sastra Jawa yang terpengaruhi budaya Islam, Serat Ambiya (NOT COVER)
Sastra Jawa yang terpengaruhi budaya Islam, Serat Ambiya. Foto: Instagram/ @Kratonjogja
Dalam Puncak Kekuasaan Mataram (1990), H.J. de Gaff menulis, karya sastra dari berbagai pesisir yang dipengaruhi pesantren menjadi sumber utama dalam karya sastra Jawa pada masa Mataram.
Dari gambaran ini, banyak pendapat yang mengatakan bahwa primbon belum muncul pada Hindu-Budha. Argumentasi itu pun dikuatkan dengan ramalan Jayabaya yang baru ditulis pada 1741-1743 M. Penanggalannya pun diikutkan melalui kalender Jawa-Islam.
Dahulu kala, primbon merupakan catatan yang diturunkan dari keluarga ke keluarga. Primbon baru ditulis dan diterbitkan pada 1906 M dengan tebal 36 halaman oleh De Bliksem. Tapi, penyusunan tersebut belum sistematis. Kemudian mulai dicetak bebas pada awal abad ke-20 M.

Mengapa Primbon Menjadi Patokan Masyarakat Jawa?

Kembali lagi ke kosmologi, bahwa masyarakat Jawa percaya bagaimana Jagat Gedhe bisa mempengaruhi Jagat Cilik (mikrokosmos). Suwardhi menjelaskan, Jagat Cilik yang dimaksud terdapat dalam filosofi Sedulur Papat Limo Pancer (Empat Saudara dan yang Kelima Tengah).
Ilustrasi Cosmology
Ilustrasi Cosmology. Foto: Pixabay
Artinya adalah, empat saudara itu yang menemani kelahiran bayi. Yang terdiri dari, kakang kawah (air ketuban), adi ari-ari (plasenta, getih (darah), dan puser (tali plasenta). Pancer (yang tengah) adalah manusia itu sendiri dan lingkungannya.
Lalu, filosofi ada juga yang memaknai, empat arah mata angin dan tengah. Pergeseran arah itu kemudian diartikan bergantinya hari. Untuk selaras dengan alam, maka acuannya adalah perhitungan dalam primbon.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan