kumparan
7 November 2018 13:56

Saat Membersihkan Sekolah Dijadikan Hukuman untuk Mendisiplinkan Murid

Ruang Kelas
Ruang Kelas (Foto: Pixabay)
Hampir di tiap sekolah, baik dari tingkatan sekolah dasar hingga menengah, para muridnya pasti dilatih untuk bertanggung jawab dan disiplin dalam segala hal. Mulai dari datang tepat waktu, mengerjakan tugas, pemakaian atribut sekolah hingga kebersihan kelas.
ADVERTISEMENT
Untuk itu, masing-masing kelas di setiap sekolah biasanya menerapkan peraturan piket membersihkan kelas. Meski pada nyatanya, ada juga beberapa murid yang melewatkan tugas wajibnya untuk piket. Imbasnya, mereka pun kena hukuman denda yang nantinya uang tersebut akan masuk ke dana kas kelas.
Seperti yang dialami Mona, salah satu siswi SMKN 25 Jakarta ini menyebut, peraturan kelasnya mengharuskan para murid yang melanggar untuk membayar denda. Meski nominalnya enggak besar, hanya sekitar seribu atau dua ribu rupiah, uang tersebut nantinya akan digunakan untuk dana kas.
Nominal denda yang lebih besar bahkan diterapkan di SMAN 1 Balikpapan untuk murid yang melanggar jadwal piketnya. Rp 10 ribu sekali melanggar. Vita, salah satu siswi dari SMA tersebut bahkan mengatakan bahwa sekolahnya masih menerapkan bersih-bersih sebagai hukuman bagi murid yang melanggar aturan.
ADVERTISEMENT
“Biasanya, bagi murid yang datang telat, mereka disuruh bersih-bersih lapangan sekolah” ujarnya.
Enggak hanya telat, hukuman bersih-bersih juga dijatuhkan bagi para murid yang enggak memakai atribut sekolah secara lengkap. Imbasnya, mereka disuruh untuk membawa tanaman untuk disumbangkan ke sekolah.
Sama dengan SMAN 1 Balikpapan, SMKN 25 Jakarta juga mempraktikkan hukuman bersih-bersih lingkungan sekolah bagi muridnya yang telat datang ke sekolah. Meski hanya satu atau dua menit, gerbang akan tetap ditutup.
Menurut Mona, murid yang telat bahkan harus mengumpulkan minimal 100 helai sampah daun kering atau 50 bungkus sampah plastik yang ditemukan di area sekolah.
“Meski enggak dikasih batasan waktu, pokoknya kalau sudah terkumpul sampah sesuai ketentuan, yang melanggar tinggal menghadap ke guru yang menghukumnya,” kata Mona.
ADVERTISEMENT
Para murid yang melanggar ini biasanya berada dalam pengawasan tiga guru sekaligus, yaitu guru BK, guru yang sedang piket pada hari itu, dan kepala program.
Selain kena hukuman bersih-bersih, sekolah Mona pun akan mencatat pelanggaran yang dilakukan murid dan ditulis seberapa besar poinnya. Setiap 1 kali telat, maka 3 poin telah dikumpulkan.
Jika poin sudah mencapai 100, pihak sekolah enggak akan segan untuk mengeluarkan murid tersebut.
Bukannya tanpa sebab, sekolah Mona memberlakukan aturan tersebut demi melatih kedisiplinan dan tanggung jawab murid-muridnya. Terlebih, sekolah juga akan terlihat lebih asri dan nyaman karena hukuman bersih-bersih tersebut.
Mona pun merasa hukuman tersebut cukup efektif untuk dirinya, yang juga pernah sekali melanggar karena datang terlambat. Dia merasa kedisiplinannya jadi semakin baik.
ADVERTISEMENT
“Aku kan anak SMK, kalau lulus diharapkan langsung terjun ke dunia kerja. Nah dunia kerja itu kan harus terbiasa disiplin, ya, jadi pihak sekolah sudah membiasakan itu sejak kita masih di sini,” jelas Mona.
Bagaimana dengan sekolah kalian? Apakah sekolah kalian juga masih menerapkan hukuman bersih-bersih untuk yang melanggar?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan