kumparan
16 September 2019 12:31

Studi: Tes EQ Lebih Berpengaruh daripada IQ Saat Melamar Pekerjaan

com-Ilustrasi kerja cerdas.
com-Ilustrasi kerja cerdas. Foto: Shutterstock
Kalau kamu sering diminta untuk mengerjakan beberapa soal untuk menguji IQ (Intelligence Quotient) saat melakukan interview kerja, hal itu berguna untuk mengetahui kemampuan kognitif, bakat, intelektual, kemampuan berpikir, dan kemampuan menggunakan logika secara umum.
ADVERTISEMENT
Namun, seiring berjalannya waktu, tes IQ ternyata enggak begitu memengaruhi hasil interview kerjamu, lho. Saat ini, para HRD (Human Resources Departement) lebih mengutamakan karyawan yang memiliki EQ (Emotional Quotient) sebagai penentu diterima atau enggaknya karyawan tersebut.
Emotional Quotient sendiri adalah kecerdasan emosional yang dimiliki seseorang untuk mengelola sentimennya, terutama dalam situasi tertekan atau dengan kata lain, orang yang cerdas secara emosi bisa menyadari emosinya dan tahu gimana mengendalikan dan mengekspresikannya.
Menurut survei terbaru yang dilakukan oleh CareerBuilder menunjukkan, orang-orang dengan EQ tinggi punya keunggulan dibandingkan yang dengan mereka yang memiliki IQ tinggi.
Para peneliti kemudian mewawancarai sekitar 2.600 HRD dan mengajukan pertanyaan kepada mereka tentang sifat-sifat yang mereka cari dalam kandidat yang diinginkan untuk sebuah perusahaan, gimana mereka menilai EQ karyawan, mengapa kecerdasan emosional lebih penting daripada IQ tinggi, dan lain-lain.
ADVERTISEMENT
Penelitian ini menyimpulkan kalau 59 persen pengusaha enggak akan mempekerjakan seseorang dengan EQ rendah, walaupun kandidat memiliki IQ yang tinggi.
Nah, sepertinya kecerdasan emosional seseorang membantu dalam mendapatkan promosi di tempat kerja juga. Sebanyak 75 persen peserta mengungkapkan bahwa mereka lebih cenderung mempromosikan karyawan yang memiliki EQ tinggi.
Para peneliti juga mencoba memahami mengapa perusahaan lebih memilih kandidat dengan EQ tinggi, salah satu alasannya adalah jika karyawan mampu bersikap tenang di bawah tekanan dan tahu bagaimana menyelesaikan konflik secara efektif, merupakan poin plus untuk karyawan tersebut.
Penelitian ini juga menyebutkan bahwa para karyawan yang cerdas secara emosi lebih bijaksana waktu membuat keputusan dan berempati terhadap anggota tim lainnya.
Para tim HRD ditanyai soal kualitas dan perilaku yang mereka amati saat mewawancarai seorang kandidat, ternyata orang-orang yang mengakui dan belajar dari kesalahan mereka paling mengesankan pewawancara. Juga, karyawan yang bisa menjaga emosinya sambil mendiskusikan topik-topik sulit pasti mendapat poin tertinggi.
ADVERTISEMENT
Manajer HRD juga mencari kandidat yang merupakan pendengar yang baik, mempertahankan ketenangan mereka di saat situasi tertekan dan bisa menangani kritik dengan baik.
Jadi, apakah kamu merasa EQ-mu sudah cukup baik sebagai seorang pekerja atau calon pekerja?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan