Dedi Mulyadi Ingin Bangun Masjid di Daerah yang Membutuhkan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dan Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar usai acara Menyambut Tahun Baru Hijriyah Menguatkan "Cinta Islam dan Islam Cinta" di Masjid Al-Jabbar pada Selasa (9/6/2026). Foto: Abisatya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dan Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar usai acara Menyambut Tahun Baru Hijriyah Menguatkan "Cinta Islam dan Islam Cinta" di Masjid Al-Jabbar pada Selasa (9/6/2026). Foto: Abisatya/kumparan

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan pihaknya tidak akan lagi memprioritaskan pembangunan masjid besar dan megah. Ia ingin ke depan pembangunan masjid lebih fokus pada daerah dan masyarakat yang membutuhkan.

Hal itu disampaikan Dedi Mulyadi saat memberi sambutan dalam perayaan Tahun Baru Hijriah yang bertajuk Menguatkan Cinta Islam dan Islam Cinta di Masjid Al-Jabbar, Selasa (9/6).

"Provinsi tidak akan lagi membangun masjid yang besar dan megah. Tidak. Kami ingin membangun masjid-masjid kecil di lingkungan masyarakat di mana masyarakat membutuhkannya," kata Dedi.

Ia menjelaskan, pembangunan rumah ibadah seharusnya lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan warga dalam beribadah sehari-hari, menjadi tempat mengaji anak-anak, serta pusat aktivitas keagamaan masyarakat setempat.

"Kami ingin membangun masjid yang ada jemaahnya di situ, tempat anak-anak ngaji di situ, tempat ibadah rakyat di situ," ujarnya.

Dedi menilai saat ini mulai terjadi pergeseran fungsi masjid. Sebagian masyarakat datang ke masjid bukan lagi untuk memperkuat spiritualitas, melainkan sekadar untuk tujuan rekreasi.

"Hari ini terjadi pergeseran. Masjid tempat tafakur dan bersujud berubah menjadi sarana rekreasi," katanya.

Ia mencontohkan fenomena rombongan masyarakat yang datang berkunjung ke masjid-masjid besar dan megah hanya untuk berwisata atau berswafoto.

"Kalau masjid menjadi sarana rekreasi, bukan sarana spiritualitas, maka masjid hanya akan menjadi tempat selfie, bukan tempat tafakur," ucapnya.

KDM --sapaan akrab Dedi Mulyadi-- mengingatkan bahwa esensi ibadah terletak pada kedekatan seseorang dengan Tuhan, bukan pada lokasi atau kemegahan tempat yang dikunjungi.

"Bertafakur bisa di mana saja. Di kamar tidur, di surau kecil, di bawah pohon, di tepi sawah, di pinggir danau maupun di tepi samudera. Yang paling utama adalah kebeningan jiwa dan kemampuan menghadirkan Tuhan dalam relung hati," ucapnya.