Bantuan Alat Olahraga Pasca Bencana, Sebuah Langkah yang Tepat

mahasiswa universitas pamulang prodi sastra indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari mochamad miftahudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kehidupan saat ini di daerah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah sangat terpengaruh oleh bencana banjir dan longsor yang merusak infrastruktur serta menyebabkan trauma psikologis. Bantuan dasar seperti makanan, obat, dan tempat tinggal sementara telah disediakan dengan cepat oleh pemerintah dan komunitas. Meskipun publik mungkin belum memahami rencana Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk menyediakan bantuan alat olahraga setelah pemulihan dampak bencana, ini merupakan langkah strategis yang layak diapresiasi.

Pertama, bantuan alat olahraga lebih dari sekadar menyediakan barang olahraga. Dalam proses pemulihan masyarakat setelah bencana, olahraga memainkan peran yang signifikan secara kultural dan psikologis. Setelah mengalami trauma dan stres akibat bencana alam atau banjir, berpartisipasi dalam aktivitas fisik dan olahraga bersama dapat membantu warga mengembalikan rasa kebersamaan dan normalitas dalam kehidupan sosial mereka. Olahraga juga meningkatkan kesehatan mental dan fisik, yang sering diabaikan saat fokus pada kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal. Olahraga sebagai bagian dari pemulihan menunjukkan bahwa strategi penanggulangan bencana harus praktis dan humanis.
Kedua, keputusan telah dibuat bahwa bantuan akan difokuskan setelah tahap pemulihan. Erick Thohir sendiri menyatakan bahwa saat ini yang paling penting adalah menyelesaikan penanganan dampak langsung evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, perbaikan infrastruktur, dan pendataan kebutuhan warga. Setelah struktur kehidupan masyarakat mulai stabil kembali, fase berikutnya akan mencakup bantuan alat olahraga. Pola ini menunjukkan perencanaan bantuan yang terarah daripada dorongan impulsif yang mungkin tidak relevan atau membebani logistik dalam situasi darurat.
Namun, perlu diingat bahwa rencana ini harus dikomunikasikan dengan lebih jelas dan tepat kepada masyarakat. Sebagian orang di media sosial menjadi bingung atau bahkan mengkritik ide tersebut, menganggap bantuan olahraga tidak penting dalam situasi darurat. Ini menunjukkan bahwa pemerintah harus berkomunikasi dengan cara yang lebih jelas yang menjelaskan alasan, kapan, dan bagaimana bantuan akan diberikan. Adanya perbedaan pemahaman dan bahkan rasa empati publik terhadap mereka yang terkena dampak buruk dapat disebabkan oleh ketidakjelasan komunikasi.
Untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan tepat sasaran dan memberi manfaat jangka panjang, kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga non-pemerintah perlu diperkuat. Kemenpora harus memberikan bantuan alat olahraga sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan sosial an kesehatan masyarakat pascabencana, bukan sekadar tindakan simbolis.
Oleh karena itu, program seperti ini dapat menjadi inspirasi untuk jenis bantuan lain yang tidak konvensional yang mengutamakan kualitas hidup daripada hanya kebutuhan dasar. Jadi, sebagai bagian dari pemulihan pascabencana, mendukung alat olahraga adalah upaya yang layak didukung asalkan dilakukan pada waktu yang tepat, dikomunikasikan dengan cara yang jelas, dan diakui bahwa olahraga adalah lebih dari sekadar aktivitas fisik. Ini menunjukkan bahwa pendekatan pemulihan bencana yang menyeluruh memperhatikan kebutuhan dasar selain kebudayaan dan psikososial warga yang terdampak.
