kumparan
23 Mar 2019 16:53 WIB

Jokowi, Siapa Lo?

Ada seorang tukang kayu yang tinggal di bantaran sungai bengawan Solo, tiba-tiba muncul jadi Walikota Solo hampir dua periode. Belum rampung memimpin Solo untuk periode kedua, ia dipinang untuk menjadi Gubrenur DKI Jakarta. Baru sekitar 1.5 tahun pimpin Jakarta, dia berjalan mulus "menyeberangi" Monas dari Medan Merdeka Selatan menuju Medan Merdeka Utara di istana negara. Ya, ia terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia ke-7 pada tahun 2014. Siapa sangka, seorang tukang kayu itu sekarang menjadi "tukang" untuk membangun rumah bernama Indonesia.
Jokowi pada Deklarasi Alumni Jogja.
Perjalanan nasib seperti ini apakah tanpa campur tangan Tuhan? Saya pikir kita harus pikir-pikir dulu untuk menjawabnya. Asal jangan berpikir lebih, sehingga semua orang dianggap dungu, tolol, bodoh dan sebagainya.
ADVERTISEMENT
Si tukang kayu ini bernama Joko Widodo alias Jokowi.
Jokowi, Siapa Lo?
Saya bisa merasakan tensi di berbagai media yang memuat berita dan opini tentang hiruk-pikuk Pemilu 2019 ini. Tensi itu saya gambarkan dengan kalimat tanya pendek diatas, yang sebenarnya maknanya dalam dan penuh dengan kecemburuan, dendam, sinis, dan emosi dari mereka-mereka yang merasa lebih mampu dan leluasa berkuasa namun tidak ditakdirkan oleh Tuhan. Anda boleh mengulang pertanyaan pendek diatas dengan nada sinis, kemudian lanjutkan membaca. Jokowi! Siapa lo?
Bayangkan saja, jika ada orang yang bukan siapa-siapa, bukan anak Jenderal, bukan anak Menteri, bukan anak seorang pahlawan nasional, bukan keturunan ulama atau Habaib besar, bukan anak orang kaya, bukan anak yang ketika lahir sudah di bawa jalan-jalan menggunakan mobil mercy atau audi, tiba-tiba bisa menduduki kursi Presiden sebuah negara yang kaya dan besar ini. Apakah tidak membuat iri mereka yang merasa lebih pantas memimpin? Tentu iya.
ADVERTISEMENT
Mereka yang merasa lebih mampu, akan terus berusaha dengan segala cara untuk melengserkan Jokowi, apapun itu caranya, mereka pasti melakukannya.
Mereka mengklaim dirinya sebagai penganut akal sehat, padahal mereka sendiri yang sedang ber-onani dengan akal sehat mereka.
Mereka pasti menutup mata, telinga dan hidung karena tidak mau menghiraukan prestasi dan kreasi dari sang tukang. Pembangunan infrastruktur yang masif di daerah-daerah terluar dan tertinggal, mereka anggap sebagai pencitraan. Si tukang mengambil alih perusahaan-perusahaan asing menjadi milik Indonesia, mereka malah bilang si tukang pro-asing, apa itu bukan namanya onani akal sehat?
Si tukang mengambil alih saham Freeport 51%, mereka bilang itu biasa, itu wajar dan malah sebaliknya menuduh sang tukang tidak nasionalis.
www.sayaberitahu.id
Saya sangat yakin, mereka sebenarnya paham, mengerti dan mengakui apa yang di lakukan Jokowi adalah yang terbaik bagi bangsa. Namun, perasaan "merasa lebih mampu dan pantas" itulah yang membuat mereka terus berusaha dengan segala cara melengserkan Jokowi. Narasi yang mereka sampaikan di berbagai media, sama sekali tidak berisi dan tidak menunjukkan sesuatu yang baru. Hanya pandai bermain istilah yang sebenarnya substansinya sudah dikerjakan oleh Jokowi.
ADVERTISEMENT
Jokowi memang bukan siapa-siapa, bukan anak seorang kaya atau jenderal, dia adalah anak Indonesia asli yang selama ini hidup dan merasakan penderitaan yang sama dengan rakyat Indonesia mayoritas.
17 April nanti, pilih yang pasti mampu membuat perubahan bagi Indonesia.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan