• 1

Bertahan Demi Pekerjaan

Bertahan Demi Pekerjaan


Ilustrasi Penggusuran

Foto ilustrasi penggusuran yang sedang berlangsung (Foto: Muhammad Iqbal)
Hujan baru saja reda dan Pak Sukarna (45), sedang bersiap-siap untuk berdagang minuman di depan Apartmen Kalibata City, Jakarta Selatan. Berdagang minuman adalah pekerjaan tambahannya setelah rumahnya ditertibkan oleh Pemprov DKI Jakarta 1 September lalu.
Sukarna tinggal di Jakarta sejak 1984, ketika ibu kota belum banyak gedung tinggi berdiri. Tinggal selama 30 tahun lebih di Rawajati membuatnya menolak ditertibkan oleh Pemprov DKI.
"Kalau ditanya soal kejadian itu, bikin luka lama kebuka lagi", ujarnya sambil tersenyum.

Sisa-sisa penggusuran di Rawajati, Jakarta Selatan

Seorang pedagang kopi menata dagangannya di gerobak di pinggir jalan Rawajati (Foto: Nadia/Kumparan)
Hal yang sangat dia ingat dari penertiban 1 September yang lalu adalah perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh aparat kepada anak dan saudaranya.
"Saudara saya dipukuli petugas Satpol PP. Anak saya juga kena pukul sampai harus ke rumah sakit", ujarnya sambil menghancurkan batu es bahan minuman dingin dagangannya.
Sukarna yang tinggal dengan istri dan 3 anaknya menolak untuk direlokasi ke Rusunawa Marunda karena terlalu jauh. Meski diakuinya fasilitas di sana sangat memadai, tapi dia enggan karena akan kesulitan untuk mencari penghasilan. Penghasilannya sebagai tukang ojek dan penjual minuman hanya Rp 200.000-Rp 300.000 perhari. Kalau sedang sedikit hanya dapat Rp 150.000.
"Kalau saya ke sana harus buka usaha lagi dari nol", ujarnya lagi.

Kalaupun saya ke sana (rusun), mau dagang apa?

- Pak Sukarna

Selain itu, menurutnya tinggal di Rusunawa Marunda sama saja dengan mengontrak. Dia tidak suka dengan cara tinggal seperti itu karena menganggap tidak bisa bertetangga dengan yang lain.
Sukarna mengakui rumah yang dulu dia tempati di Rawajati tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Hal itu dikarenakan ahli waris tanah yang bernama Pak Kosim mengizinkan warga untuk tinggal dan mendirikan rumah di sana.
Syarat Pak Kosim cuma satu, tidak ribut dengan yang lain. Pak Kosim juga tidak pernah memungut biaya apapun dari penghuni rumahnya. Tapi puluhan tahun menjalani hari-hari di tanah milik Pak Kosim, berakhir saat alat berat datang dan meratakan bangunan.

Sisa-sisa penggusuran di Rawajati, Jaksel

Puing-puing sisa penggusuran di kawasan Rawajati, depan Kalibata City, Jakarta Selatan. (Foto: Nadia/Kumparan)
Pak Kosim menolak pindah dan memilih tinggal di kontrakan di Jalan Kalibata Timur, tak jauh dari lokasi lama. Penggusuran sekitar 3 bulan lalu itu cukup dianggap tragedi. Kini, dia berharap agar Gubernur yang akan terpilih nanti dapat bekerja dengan baik, memperhatikan nasib rakyat kecil dan berlaku adil kepada rakyat kecil.

Sisa-sisa penggusuran di kawasan Rawajati,

Puing-puing sisa penggusuran di kawasan Rawajati, depan Kalibata City, Jakarta Selatan. (Foto: Nadia/Kumparan)


NewsJakartaSosialRegional

500

Baca Lainnya