• 1

Jaksa: Ahok Merasa Paling Benar, Keberatannya Berpotensi Timbulkan Masalah Baru

Jaksa: Ahok Merasa Paling Benar, Keberatannya Berpotensi Timbulkan Masalah Baru



Sidang Lanjutan Ahok

Ahok hadir dalam sidang lanjutan dugaan penistaan agama di PN Jakarta Utara. (Foto: Pool)
Dalam sidang perdana, Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengaku mengutip surat Al-Maidah 51 bukan untuk menista agama Islam, tapi dimaksudkan untuk politisi yang tak ingin bersaing sehat di pilkada.
Ahok mengutip buku berjudul 'Mengubah Indonesia' yang ditulisnya bahwa surat Al-Maidah 51 sengaja disebarkan oleh oknum elite agar masyarakat memilih calon pemimpin yang seiman.
"Pernyataan dalam kutipan buku tersebut justru berpotensi menimbulkan perpecahan anak bangsa, khususnya umat Islam, dan berpotensi menimbulkan masalah baru," sanggah jaksa penuntut umum Ali Mukartono.
Hal itu disampaikan dalam sidang kedua untuk agenda mendengarkan jawaban jaksa atas nota keberatan Ahok yang disampaikan pada sidang perdana, di PN Jakarta Utara di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (20/12).

Adalah hak terdakwa (Ahok) tak suka dengan Al-Quran, karena terdakwa tak mengimani.

- Jaksa Ali Mukartono

Menurutnya, Ahok menempatkan Surat Al-Maidah 51 sebagai alat untuk memecah belah rakyat ketika digunakan oleh oknum politik dalam pilkada. Jaksa menilai argumentasi itu menunjukkan Ahok merasa paling benar dalam politik.
"Terdakwa menempatkan diri seolah orang paling benar, dan seolah kandidat lain harus menggunakan metode yang sama dengan adu progam," ujar Ali.
Sebaliknya, kandidat lain yang menggunakan Al-Maidah ayat 51 dikatakan Ahok sebagai pengecut. Padahal menurut jaksa, dalam pilkada parameternya adalah peraturan perundang-undangan.
"Yaitu sepanjang metode yang digunakan tak melanggar undang-undang, tak bisa disalahkan," kata jaksa.

Breaking NewsHukumNewsSidang AhokAhok

500

Baca Lainnya