Rayakan Hari Tani ke-61, BEM Fema IPB Pertemukan Mahasiswa dengan Petani

Muhamad Husni Tamami atau MHT adalah seorang mahasiswa Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, IPB University. Pemuda kelahiran Bogor, 19 Agustus 2000 ini pertama kali berkarir di dunia jurnalistik pada tahun 2018 dan senang menulis sejak SMP.
Konten dari Pengguna
26 September 2021 5:52
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Muhamad Husni Tamami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Rayakan Hari Tani ke-61, BEM Fema IPB Pertemukan Mahasiswa dengan Petani (321323)
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa sekaligus anggota Kastrad BEM Fema IPB bersama petani. (Foto: istimewa)
Sudah tidak asing lagi Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar mata pencaharian penduduk Indonesia berada di sektor pertanian, sehingga tidak heran bangsa ini sangat bergantung dan berharap besar kepada potensi yang terdapat di dalamnya. Petani sebagai aktor utama tentunya memiliki peran besar dalam menghidupkan geliat pertanian di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Sebagai permuliaan tertinggi kepada para petani, secara langsung Presiden Soekarno pada tanggal 26 Agustus 1963 di Jakarta melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 169 Tahun 1963 menetapkan setiap tanggal 24 September sebagai Hari Tani Nasional. Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan disahkannya Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) Nomor 5 Tahun 1960 yang menjadi spirit pembaruan struktur agraria di Indonesia yang timpang dan sarat akan kepentingan sebagian golongan akibat warisan kolonialisme.
Namun, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University yang memiliki mandat di bidang pergerakan melihat hal yang berbeda. Menurut Ketua Departemen Kajian Isu, Aksi Strategis, dan Advokasi (Kastrad) BEM Fema IPB University Rifaldi Cahyanto, nyatanya saat ini masih banyak petani yang justru menangis di negeri agraris. Ketimpangan penguasaan lahan yang kian menganga, di mana 1 persen penduduk menguasai 68 persen tanah. Di sisi lain, lahirnya Undang-undang Nomro 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja pada praktiknya justru bertentangan dengan spirit UUPA 1960 yaitu untuk menghapuskan kepentingan sebagian golongan, cenderung berpotensi memperbesar keuntungan korporasi.
ADVERTISEMENT
“Berlatar belakang itu, BEM Fema IPB University mengajak mahasiswa melakukan beragam aksi kreatif untuk merayakan Hari Tani Nasional ke-61. Dimulai dengan mengikuti aksi bersama mahasiswa IPB University lainnya di depan gedung Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia untuk menyampaikan 5 poin tuntutan,” tutur Rifaldi.
Tuntutan hasil kajian tersebut di antaranya, pertama menjadikan masyarakat lokal sebagai subjek utama pembangunan pertanian nasional. Kedua, menghentikan perluasan lahan food estate di atas lahan gambut, tanah masyarakat hukum adat, dan kawasan hutan. Ketiga, memberikan pertanggungjawaban atas tanah masyarakat hukum adat, lahan gambut serta kawasan hutan yang telah dikonversi menjadi lahan food estate.
“Kemudian yang keempat optimalisasi pelibatan peran masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan akademisi terkait dalam proses perancangan, pengerjaan, serta evaluasi food estate. Terakhir menuntut keterbukaan data dan informasi mengenai segala aspek yang dikerjakan dalam food estate pada kanal-kanal yang dapat diakses masyarakat luas sesegera mungkin,” beber mahasiswa Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) IPB University ini.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya itu, lanjut Rifaldi, BEM Fema IPB Unieversity juga mengajak mahasiswa untuk melakukan aksi secara horizontal dengan menyampaikan tanda terima kasih berupa hadiah kepada para petani di domisili masing-masing. Aksi tersebut merupakan bentuk dukungan moril dan upaya membangun semangat kolektif dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor pertanian.
“Untuk itu, saya bersama Asiyah, Fathimah, Listy, Safina, dan Dzakwan dari Kastrad BEM Fema IPB University menggagas aksi yang bernama ‘Dari Fema untuk Petani Indonesia’. Tujuan aksi ini simpel sebenarnya, tidak mau ketika Hari Tani Nasional hanya mahasiswa saja yang merayakan ataupun sebaliknya, makanya kami mencoba ajak mahasiswa lainnya untuk turun menyapa dan membagikan sebagian rezeki kepada para petani, sehingga jalinan komunikasi antara mahasiswa dan petani bisa tercipta,” tuturnya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, dalam aksi tersebut petani juga bisa mencurahkan keresahannya kepada mahasiswa yang kemudian menjadi kajian bagi mahasiswa, sehingga tuntutan-tuntutan mahasiswa yang disampaikan di gedung Kementan itu berdasarkan kajian tentang permasalahan petani di kondisi yang sebenar-benarnya.
“Visi besar aksi ini adalah bisa membangkitkan semangat kolektif antara petani dan mahasiswa untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia”, ujar mahasiswa semester 5 ini.
Rifaldi menerangkan, perayaan sekaligus refleksi Hari Tani Nasinal ke-61 ditutup dengan diskusi bertema “Jadi Petani, Kenapa Harus Malu?” bersama pertani milenial Muhamad Fadhil Musyarof. Dalam diskusi tersebut Fadhil mengatakan bahwa potensi sektor pertanian ke depan sangat besar. Terlebih ketika pandemi COVID-19 ini, bisa dilihat bahwa sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang cukup kuat menghadapi berbagai guncangan.
ADVERTISEMENT
“Coba ubah mindset, jangan lihat apa pun itu dari sisi negatifnya saja, tapi coba lihat dari sisi positifnya. Banyak kesempatan dan peluang yang bisa dilihat dari setiap keadaan yang ada. Selain itu, banyak peran dan kontribusi yang bisa kita berikan,” tegas mahasiswa IPB University angkatan 2019 ini.
Pengusaha di bidang jual beli bibit min itu berharap, adanya diskusi yang diselenggarakan oleh BEM Fema IPB University ini mampu membangkitkan semangat mahasiswa untuk berkontribusi secara aktif terhadap sektor pertanian di Indonesia.
“Sehingga ke depan Indonesia bisa menjadi negara berdaulat secara pangan sesuai dengan harapan seluruh masyarakat Indonesia,” pungkasnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020