Konten dari Pengguna

Mendaki Gunung Bukan Sekedar Rekreasi

Muhamad Ilham Mukti
Seorang mahasiswa program studi Sastra Indonesia di Universitas Pamulang. Keseharian bekerja sebagai wiraswasta di Kabupaten Bogor. Penulis yang lahir di Cianjur 19 Oktober 2001 ini, memiliki hobi menulis dan mendaki Gunung.
3 Juli 2025 15:30 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mendaki Gunung Bukan Sekedar Rekreasi
Mendaki gunung bukan sekedar rekreasi. Mendaki gunung juga bukan sekedar olahraga. Persiapkan segalanya sebelum mendaki gunung. Alam tetaplah alam, dengan berbagai macam marabahaya di dalamnya.
Muhamad Ilham Mukti
Tulisan dari Muhamad Ilham Mukti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pendakian Puncak Gunung Slamet Picture By Muhamad Ilham Mukti
zoom-in-whitePerbesar
Pendakian Puncak Gunung Slamet Picture By Muhamad Ilham Mukti

Setinggi apapun, serendah apapun. Alam tetaplah alam, dengan berbagai macam marabahaya di dalamnya.

ADVERTISEMENT
Beberapa waktu belakangan ini terdapat tiga insiden kecelakaan di gunung dalam waktu berdekatan. peristiwa ini membuat gempar semua orang, terutama mereka yang memiliki hobi mendaki. Kabar yang sangat tidak diinginkan oleh siapapun.
ADVERTISEMENT
Pertama, seorang turis asal Brazil bernama Juliana Marins (26) yang terjatuh di Gunung Rinjani. Meski beberapa jam setelah terjatuh korban dikabarkan masih hidup, namun setelah beberapa hari sulit untuk dievakuasi, Juliana Marins dikabarkan meninggal dan saat ini jasad telah berhasil dibawa turun. Lebih jauh lagi, kabar ini membuat suasana memanas antara Indonesia dengan Brazil.
Selanjutnya, kabar duka datang dari Gunung Muria. Seorang pendaki bernama Jovita Diva Prabudawardani (21) asal Desa Rejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, jatuh ke dalam jurang sedalam 180 meter di Gunung Muria. Korban yang sebelumnya sedang mengabadikan pemandangan dengan ponsel genggamnya, terpeleset dan terjatuh ke dalam jurang sehingga menyebabkan benturan dan cedera di kepala yang menyebabkan kematian.
ADVERTISEMENT
Kabar duka lainnya datang dari Gunung Salak. Seorang lansia bernama Ayom (60) sempat dikabarkan hilang saat sedang mendaki di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, dan pada akhirnya ditemukan meninggal dunia. Korban ditemukan oleh regu pencari di dasar jurang pada yang memiliki kemiringan tebing sekitar 80 derajat.
Melalui laman sosial medianya, Menteri Kehutanan Republik Indonesia (Menhut), Raja Juli Antoni ikut menyoroti hal ini. Dalam pertemuannya bersama Tim Rinjani Rescue. Ia mengatakan naik gunung itu itu tidak seperti ke Mall. Semua mesti serius revisi SOP, guide wajib berlisensi, cek kesehatan lebih ketat, dan pastikan alat-alat evakuasi tersedia dengan baik.
Hal ini seolah menjadi alarm untuk semua orang, bahwa mendaki gunung bukan cuma wisata semata. Banyak hal harus disiapkan ketika mempunyai rencana mendaki gunung. Bukan hanya soal biaya, tapi fisik dan kesiapan mental pun harus disiapkan ketika memutuskan untuk mendaki gunung.
ADVERTISEMENT
Pada masa ini, mendaki gunung seolah menjadi trend tersendiri pada kalangan anak muda, terutama untuk mereka yang sedang berada pada fase sakit hati dan pikiran yang sedang berkecamuk. Banyak pendaki menjadikan gunung sebagai tempat pelarian semata. Parahnya, terkadang mereka tidak mempersiapkan pendakian dengan baik yang menyebabkan istilah pendaki fomo pun muncul karena kesembronoan itu. Lantas apakah benar jika mendaki gunung bisa menjadi obat untuk pikiran yang sedang strees?
Menurut Faizal Bayu Nurfalah (2023), diantara yang menjadikan faktor alam bebas terhadap terapi kesehatan mental yaitu kadar stres menurun otomatis dengan bersatunya manusia dan unsur manusianya itu sendiri yaitu alam. Saat dipertemukannya tubuh seseorang dengan alam, otak manusia akan lebih tenang dan menurun signifikan dari yang awalnya memiliki banyak tekanan, akan lebih tenang dan stres yang dideritanya akan semula tiada. Alasan selanjutnya adalah ketika berkegiatan di alam bebas, suasana dan kondisi seseorang akan merasakan bahagia yang meningkat. Ketika suasana hati meningkat, kesehatan mental juga ikut terjaga dan meningkat pula, dan membuat seseorang lebih tangguh dan tenang dalam mengatasi perasaan-perasaan yang akan muncul di kemudian hari.
ADVERTISEMENT
Mendaki gunung selalu memiliki manfaat tersendiri. Sama seperti olahraga lainnya, mendaki adalah salah satu cara untuk hidup lebih sehat secara fisik atau mental. Namun, bagaimana pendakian yang seharusnya dilakukan untuk menghindari hal-hal yang mengerikan seperti sakit, hilang bahkan kematian?
Menurut Muhammad Romdhoni (2022), mengatakan hal yang sangat perlu diperhatikan sebelum mendaki gunung adalah peralatan mendaki dan perbekalan. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan adalah perlengkapan mendaki serta persediaan logistik. Beberapa perlengkapan sering kali dianggap sepele, padahal memiliki peran krusial. Salah satunya adalah tenda. Bagi pendaki yang berencana untuk bermalam di gunung, tenda menjadi perlengkapan utama. Namun, banyak pendaki pemula yang meremehkan hal ini dan memilih menggunakan tenda jenis single layer atau tenda pantai karena biaya sewanya yang relatif murah. Sayangnya, jenis tenda ini tidak dirancang untuk menghadapi suhu dingin di gunung dan dapat meningkatkan risiko terkena hipotermia. Selain tenda, perlengkapan penting lainnya adalah sleeping bag (SB) yang berfungsi untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat selama berada di ketinggian.
ADVERTISEMENT
Saat beristirahat atau tidur di gunung, banyak pendaki pemula yang hanya membawa sarung atau selimut sebagai penghangat. Padahal, sleeping bag (SB) mampu memberikan perlindungan dari suhu dingin hingga mencapai 5℃. Sayangnya, perlengkapan penting seperti tenda dan sleeping bag sering kali diabaikan, yang menyebabkan tingginya kasus hipotermia di kalangan pendaki. Hipotermia sendiri merupakan kondisi medis serius yang terjadi akibat penurunan suhu tubuh secara drastis, dan jika tidak segera ditangani, dapat membahayakan nyawa.
Selain perlengkapan, asupan makanan selama pendakian juga merupakan hal yang penting namun sering diabaikan. Banyak pendaki lebih memilih membawa makanan yang praktis dan mudah disiapkan, seperti mie instan. Padahal, mie instan tidak mampu mencukupi kebutuhan gizi yang diperlukan untuk aktivitas fisik seberat mendaki gunung. Kandungan gizinya yang rendah serta dampak negatif bagi kesehatan menjadi alasan mengapa makanan ini kurang ideal dikonsumsi dalam situasi tersebut. Pendakian membutuhkan energi yang besar, sehingga makanan bergizi tinggi seharusnya menjadi prioritas. Kemudahan dalam penyajian memang menjadi alasan utama mie instan dipilih, namun hal itu tidak sebanding dengan risiko kekurangan nutrisi yang mungkin terjadi.
ADVERTISEMENT
Persiapan fisik pun adalah hal yang wajib dipersiapkan. Persiapan kondisi fisik perlu dilakukan minimal dua minggu sebelum pelaksanaan pendakian. Salah satu metode yang dianjurkan adalah melakukan latihan jogging secara rutin setiap hari dengan intensitas yang disesuaikan berdasarkan kemampuan individu. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kelenturan otot kaki sehingga dapat mencegah kekakuan atau kram selama pendakian. Selain itu, latihan tersebut juga berperan dalam meningkatkan daya tahan fisik sehingga kemampuan tubuh dalam menjalani aktivitas pendakian menjadi lebih optimal.
Terakhir, jangan lupa untuk terus belajar dan mencari informasi. Memperluas wawasan mengenai gunung serta teori-teori pendakian merupakan aspek krusial bagi setiap pendaki. Pengetahuan yang baik tentang medan, tipe gunung, dan teknik pendakian yang benar akan sangat membantu dalam menghadapi tantangan di lapangan.
ADVERTISEMENT
Selain itu, penting untuk memperoleh informasi terbaru terkait kondisi cuaca di daerah pendakian, karena cuaca yang berubah-ubah dapat memengaruhi keselamatan dan kenyamanan selama perjalanan. Informasi mengenai fasilitas pendukung seperti jalur pendakian, pos peristirahatan, dan layanan darurat juga harus diketahui agar perencanaan rute dan kesiapsiagaan dapat dilakukan dengan baik.
Selanjutnya, pemahaman tentang kebutuhan logistik, termasuk perlengkapan yang harus dibawa serta pasokan makanan dan minuman, sangat penting agar pendakian dapat dilakukan secara optimal. Dengan persiapan yang matang, risiko selama pendakian dapat diminimalkan dan perjalanan menjadi lebih aman dan nyaman.
Mendaki gunung bukan sekedar rekreasi. Mendaki gunung juga bukan sekedar olahraga. Lebih dari itu, menghubungkan segala aspek untuk melakukannya. Persiapkan segalanya sebelum mendaki gunung. Jangan sampai gunung yang sejatinya adalah tempat yang indah berubah menjadi tempat yang mengerikan dan merugikan. Setinggi apapun, serendah apapun. Alam tetaplah alam, dengan berbagai macam marabahaya di dalamnya. Semoga kabar duka tidak pernah lagi terdengar.
ADVERTISEMENT